Analisis Kekuatan Manchester City Dari Lini Per Lini

August 27, 2011 oleh Ethan Hajira
Dilihat sebanyak 15 Kali

Harry Redknapp sudah punya jawabannya. Ia menyebut –dengan sedikit berlebihan- City kini sudah lebih kuat dari Barcelona. Terutama jika melihat bintang-bintang yang berhasil mereka kumpulkan di Etihad Stadium.

Pernyataan ini memang masih jauh dari terbukti. Satu, ini masih di awal musim. Dan dua, City bahkan belum pernah mencicipi menghadapi sepakbola Barcelona. Tapi bukan berarti potensi tersebut tidak ada. Tim ini punya bintang di setiap posisi di lapangan, dan penampilan mereka di pramusim dan pekan-pekan awal Liga Premier juga terlihat sangat menjanjikan.

Kita bisa mencoba menilai bagaimana kekuatan –sekaligus potensi- skuad ini dengan menjelajahi pemain yang ada di dalamnya dari satu posisi ke posisi lainnya.

Dimulai dari di bawah mistar. Mancini punya satu nama yang selama fit akan terus diturunkan: Joe Hart. Penjaga gawang tim nasional Inggris ini punya kemampuan hebat di bawah mistar. Dan kepemimpinannya juga tidak diragukan lagi. Musim lalu, ia berkali-kali menjadi pahlawan bagi City. Masalah akan muncul jika Hart cedera. Stuart Taylor masih belum terbukti, apalagi Costel Pantilimon. Ini bisa jadi PR City di tengah musim nanti.

Selanjutnya, lini belakang. This can be a bit tricky. City punya beberapa nama besar (baca: mahal) di lini belakang. Tapi hal tersebut tidak menjadikan tim ini kuat dalam hal bertahan. Malah, jika dibandingkan, posisi ini bisa jadi yang paling mengkhawatirkan. Joleon Lescott sering membuat fans City sering sport jantung. Pablo Zabaleta juga masih belum begitu konsisten. Hanya Vincent Kompany yang menjanjikan. Tapi jangan lupa, mereka punya Kolo Toure yang masih berkutat dengan sanksi.

Di posisi bek sayap, City lebih baik dibandingkan bek tengahnya. Ada nama-nama semacam Wayne Bridge, Edum Onouha, hingga Alexander Kolarov. Kedatangan bek baru, Stefan Safic dan Gael Clicjy, juga membantu lini belakang mereka. Kita lihat saja apakah, kelemahan ini bisa tertutup di pekan-pekan mendatang.

Lini tengah. Di sinilah tempat Manchester Biru amat sangat berbahaya. Masuknya Samir Nasri membuat deretan nama yang sudah bersinar kini semakin menyilaukan. Mereka punya Yaya Toure, seorang gelandang serang yang tajam dan kuat, ada Gareth Barry, ada Nigel de Jong, ada James Milner, Adam Johson, dan sederet nama lagi yang siap digunakan secara bergantian oleh Mancini untuk meneror pertahanan lawan.

Penguasaan lini tengah seringkali menjadi sangat esensial dalam sebuah pertandingan. Dan City punya segala amunisi untuk melakukannya. Jika ego setiap bintangnya bisa ditekan dan mereka bisa berkolaborasi dengan sempurna, maka ada satu kata yang bisa menggambarkan lini tengah The Citizens: Mengerikan.

Terakhir, lini depan. Saat ini, barisan penyerang City seolah menjadi showroom bagi striker-striker terbaik di dunia. Mereka baru saja mendatangkan Sergio Aguero. Edin Dzeko mendadak menemukan kembali lagi permainan terbaiknya dan terlihat sangat tajam. Carlos Tevez dikabarkan tidak jadi hengkang dan siap menggila lagi di lini depan.

Mereka masih punya si bandel Mario Balotelli, yang jika sedang dalam peak performance-nya bisa menjelma menjadi salah satu penyerang paling tajam di dunia. Ada juga Roque Santa Cruz dan juga Craig Bellamy. Meski kemungkinan ada lagi yang akan hengkang menyusul Emanuel Adebayor yang tergusur ke Tottenham Hotspur.

Melihat stok penyerang yang dimiliki Mancini, rasanya bek lawan manapun wajar merasa sedikit bergidik. Dan urusan menciptakan gol seharusnya tidak menjadi masalah berarti. Apalagi dengan disokong lini tengah yang begitu handal.

Itulah stok kekuatan City dari lini per lini. Kesimpulannya? Sebuah tim yang luar biasa. Hanya sekitar lima tahun setelah uang besar datang dari tanah Arab, tim ini berhasil memenuhi skuad mereka dengan pemain-pemain berbakat dari seluruh penjuru dunia.

Lalu, apakah tim ini punya peluang juara –seperti yang ditekankan Nasri dan Mancini? Jelas punya. Hanya saja, distraksi besar bernama Liga Champions akan menjadi ujian penting bagi City. Bagaimana mereka bisa membagi konsentrasi dan juga menjaga level permainan tetap tinggi sepanjang musim akan menjadi faktor kunci.

Kemampuan Mancini menjaga timnya dari friksi yang kemungkinan besar akan terjadi –akibat begitu banyak bintang di sana- juga akan menjadi sorotan. Dan jika semua ini bisa dilakukannya dengan baik, maka Manchester City sudah siap untuk menjadi salah satu tim elit Inggris. Dan bahkan juga elit Eropa dalam waktu dekat ini.

*penulis adalah mantan pemain sepakbola berdarah Inggris-Jepang. Kini lebih aktif dalam menulis. Masih lebih memilih memakan Fish and Chips di atas koran dibandingkan dengan sushi.