Apa Sebenarnya Yang Dilakukan Jerman Sehingga Bisa Seperti Ini?

July 7, 2010 oleh Pangeran Siahaan
Dilihat sebanyak 21 Kali

Berti Vogts, kala itu pelatih tim nasional Jerman, berhadapan dengan media massa Jerman tahun 1996 yang mempertanyakan krisis striker di kubu Nationalmannschaft. Vogts dengan yakin mengatakan bahwa masalah sudah teratasi, ia akan membujuk striker Afrika Selatan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi Jerman agar bisa bermain dengan logo DFB di dadanya. Setahun kemudian, Dundee menerima paspor negara barunya, tapi ia tidak pernah bermain sekalipun bagi Jerman.

Saat Erich Ribbeck menggantikan Vogts usai tersingkirnya Jerman di Piala Dunia 1998 dari Kroasia, ia mengikuti jejak Vogts untuk melakukan naturalisasi striker asing yang bermain di Bundesliga. Paulo Rink yang bermain bagi Bayer Leverkusen ternyata memiliki darah Jerman dan segera bermain bagi Nationalmannschaft. Ia bermain 13 bagi tim Jerman.

Dua peristiwa tersebut menyadarkan Federasi Sepakbola Jerman (DFB) bahwa ada sesuatu yang salah pada kompetisi sepakbola mereka sehingga untuk mendapatkan striker berkualitas saja mereka harus mencomot pemain asing. Padahal sampai pertengahan dekade 90-an, Jerman merajai sepakbola Eropa. Usai menjuarai Piala Dunia 1990, Jerman memenangi Piala Eropa 1996. Borussia Dortmund dan Schalke 04 memenangi Liga Champions dan Piala UEFA pada tahun 1997.

DFB dengan cepat menemukan titik yang menghambat laju tim nasional mereka: pemain asing.

Saat Jerman menjuarai Piala Dunia tahun 1990, persentase pemain asing yang bermain di Bundesliga hanya 17 %. Lima tahun kemudian, persentase itu naik dua kali lipat menjadi 24 %. Tahun 2000, 50 % dari pemain yang bermain di Bundesliga adalah pemain asing. Apa akibatnya? Jerman tersingkir di putaran pertama Piala Eropa tahun 2000.

DFB segera bergerak dan merancang sistem pengembangan pemain muda Jerman. Konsep mereka adalah membangun 121 pusat pelatihan pemain muda yang akan digunakan untuk mendidik pemain usia 10-17 tahun dengan pembekalan teknis. Setiap pusat pelatihan akan mendapatkan dana $15,6 juta selama lima tahun. Selain itu setiap klub di Bundesliga dan Bundesliga 2 diwajibkan memiliki akademi pemain junior.

Alih-alih menekankan aspek fisik dan ketahanan, DFB menginstruksikan agar para pemain muda lebih dibekali dengan kemampuan skill individu yang baik dan berteknik tinggi.

DFB berharap dalam 10 tahun ke depan, talenta-talenta muda jebolan pusat pelatihan yang tersebar di seluruh Jerman itu akan bermain bagi tim senior. Harapan mereka terpenuhi di masa depan.

Saat pengembangan pusat-pusat pelatihan itu baru memasuki tahap awal, Jerman mencapai final Piala Dunia tahun 2002, tapi kembali tersingkir di putaran pertama Piala Eropa 2004. Saat itu persentase pemain asing di Bundesliga mencapai 60% dan menggerogoti tempat pemain asli Jerman di liganya sendiri.

Krisis finansial yang menerpa Bundesliga membawa berkah. Karena gaji pemain asing sangat besar sedangkan keadaan keuangan mencekak, banyak klub Bundesliga yang memilih melepaskan pemain-pemain asing dengan level biasa saja dan menggantinya dengan pemain-pemain muda binaan mereka sendiri yang lebih murah secara finansial.

Usai Piala Eropa 2004 yang berakhir tragis bagi Jerman, pelatih Rudi Voeller turun jabatan dan digantikan Juergen Klinsmann yang membawa sepakbola Jerman ke tingkat selanjutnya dalam segi taktik.

Klinsmann, seorang striker haus gol, menghabiskan waktunya beberapa tahun di Inggris untuk bermain bagi Tottenham Hotspur. Ia tertarik dengan bagaimana klub-klub Inggris memainkan sepakbola yang cepat dan bertenaga. Ia senang melihat formasi 4-4-2 yang mengharuskan kedua sayap aktif bergerak, bek sayap yang overlapping ke depan, dan satu gelandang jangkar di tengah. Dengan strategi tersebut Klinsmann membawa Jerman ke semifinal Piala Dunia 2006 di negaranya.

Usai Piala Dunia, Klinsmann mundur dan asistennya, Joachim Low menjadi pelatih. Ia segera melihat bahwa formasi yang ditinggalkan pendahulunya meninggalkan cacat yang bisa dieksploitasi lawan sehingga harus disempurnakan.

Low meracik formula dan mengganggap bahwa formasi 4-2-3-1 adalah yang terbaik bagi timnya. Dengan strategi itu ia membawa Jerman menjadi finalis Piala Eropa 2008, tapi setahun kemudian, ia mendapatkan beberapa elemen tambahan yang akan membuat pola 4-2-3-1 ciptaannya hampir sempurna.

Sudah bertahun-tahun Jerman tidak punya playmaker di lini tengah sejak era Andreas Moeller dan Thomas Hassler berlalu. Michael Ballack yang menjadi jenderal lapangan tengah selama ini lebih sebagai gelandang box-to-box. Tahun 2009, Jerman U-21 menjadi juara Eropa dengan menghancurkan Inggris 4-0 di final. Mesut Ozil, seorang gelandang serang dengan teknik kelas dunia menjadi pemain terbaik. Low tersenyum, ia sudah menemukan elemen penyempurna.

Low juga beruntung mendapat pemain lama dengan posisi baru dalam diri Bastian Schweinsteiger. Aslinya seorang sayap, pelatih Louis van Gaal mengubah Schweinsteiger menjadi gelandang tengah untuk mendikte permainan. Untuk melengkapi 3 gelandang serangnya, Low memakai jasa Thomas Mueller, penyerang belia asal Bayern Muenchen yang menyebabkan Miroslav Klose dan Mario Gomez hampir selalu duduk di bangku cadangan musim lalu.

Saat kapten Michael Ballack cedera dan gagal ikut Piala Dunia 2010 ini, bintang baru muncul untuk menggantikannya. Sami Khedira, partner Ozil di tim junior menjadi pelindung lapangan tengah Jerman dan membuat tidak satu pun orang Jerman merindukan Ballack.

Dengan sistem pengembangan pemain muda yang hebat dan rencana brilian dari 10 tahun silam, tidak heran jika Jerman memiliki tim termuda sejak tahun 1934. Sistem yang diperkenalkan 10 tahun silam bekerja dengan sesuai ekspektasi. Dalam 2 tahun terakhir, Jerman memenangi kompetisi Eropa untuk level U-17, U-19, dan U-21.

Klub-klub Bundesliga menghabiskan dana lebih dari $100 juta untuk pengembangan pemain muda saja – yang terbesar dari semua liga Eropa. Klub-klub Bundesliga tidak hanya meraih profit – Bundesliga adalah liga tersehat di Eropa secara finansial, tapi juga bersumbangsih besar pada performa tim nasional Jerman.