Apa yang Harus Dilakukan Andres Villas-Boas Untuk Sukses di Chelsea?

June 22, 2011 oleh Muhajjir Esyaputra
Dilihat sebanyak 15 Kali

Ada kepercayaan lama yang menyebutkan setiap manajer baru yang bertemu dengan pemain klub terbaru mereka di ruang ganti harus melihat satu per satu dan mengatakan pada dirinya sendiri, “Inilah orang-orang yang membuat manajer sebelum saya kehilangan pekerjaannya.”

Di Chelsea, kepercayaan ini berlaku secara literal. Kekuatan para pemain yang begitu besar membuat mereka kini berhadapan dengan pelatih ke-TUJUH dalam era kepemilikan Roman Abramovich. Siapa yang menjadi raja di klub tersebut terlihat sangat jelas.

Hanya dalam beberapa hari ke depan –atau bahkan mungkin bisa hari ini- Villas Boas akan berhadapan dengan John Terry dan berharap tidak disambut hanya sebagai fotokopi Jose Mourinho. Pilihan Abramovich terhadap dirinya setelah pemecatan Carlo Ancelotti secara brutal menjadi salah satu bentuk solusi instan yang muncul di Chelsea.

Villas-Boas sebelumnya adalah salah satu orang kepercayaan Mourinho. Seorang scout yang sering membagi-bagikan DVD berisi pertandingan lawan Chelsea di pertandingan selanjutnya. Kini, ia ditantang untuk menunjukkan otoritasnya sebagai seorang manajer utama di depan para pemain –yang beberapa umurnya tidak berbeda bahkan sama persis dengan dirinya- dan juga sang pemilik klub.

Jika tidak berhasil, pintu keluar terbuka lebar bagi orang Portugal ini. Saling kenal di dalam sebuah klub menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Villas-Boas pasti tahu itu. Tapi salah satu PR-nya justru adalah mencoba menghapus memori para pemain Chelsea bahwa dirinya adalah salah satu “pembantu” Mourinho dan menyadarkan mereka bahwa ia kini sudah menjadi salah satu bintang yang bersinar paling cepat di benua mereka.

Lompatan persepsi yang cukup jauh ini sebenarnya membutuhkan lebih dari sekedar satu gelar Europa League yang didapatkan olehnya bersama Porto bulan. Hanya beberapa manajer di dunia ini yang punya catatan gelar cukup banyak untuk membuat isi ruang ganti Chelsea terdiam kagum –VB bukan salah satunya.

Dalam umur yang sama dengan Didier Drogba dan Frank Lampard, Villas-Boas membuat lompatan yang bahkan lebih dini dibandingkan Jose Mourinho –yang ketika datang setidaknya sudah memenangi Liga Champions bersama Porto. Ia juga tidak memiliki taktik politik luar biasa yang dimiliki oleh sang mentor.

Kita masih ingat dengan begitu jelas, begitu microphone menyala di depannya dan ia resmi berbicara sebagai seorang manajer Chelsea, Mou langsung berkata bahwa ia adalah “Special One”. Sebuah julukan yang akan melekat padanya hingga kapanpun. Ia memilih memasuki Stamford Bridge dengan wibawa level atas, bukan seorang pelatih yang sudah cukup bersyukur bisa mendapat pekerjaan di salah satu tim besar Inggris.

Ini berjalan cukup baik untuk beberapa waktu. Tapi kemudian Mou mulai kesulitan menghadapi dominasi Abramovich di balik layar dan mulai mengalami kekalahan dalam trik politiknya dengan sang pemilik. Hasilnya jelas, meski sukses membawa Chelsea meraih juara Liga Inggris setelah vakum entah berapa lama, ia masih harus rela terbuang.

Kembali ke Villas-Boas, jelas tidak ada peluang bagi dirinya untuk masuk dengan gaya seperti Mourinho. Ia belum sekalipun merasakan memenangi Liga Champions. Ditambah lagi, Chelsea sudah bersiap membeli begitu banyak bintang lagi musim panas ini –bahkan sebelum mereka memastikan siapa manajer tetap mereka.

Tapi Villas-Boas juga kemungkinan besar akan menjadi nama manajer pertama yang akan terbebani dengan nilai transfer di pundaknya. The Blues mengeluarkan dana yang cukup besar –sekitar 13 Juta Pound- untuk membuatnya lepas dari Porto dan menyeberang ke Inggris. Sebuah angka yang luar biasa. Belum lagi ditambah pemain-pemain yang ia minta untuk diboyong dari klub Portugal tersebut.

Berbagai tantangan ini sudah tersedia langsung di depan Villas-Boas. Dan ia tentunya menyadari hal tersebut sebelum melangkah masuk nanti. Yang bisa coba ia lakukan adalah mencoba menjadi pemimpin dari semua pihak yang menghancurkan era Mourinho dulu. Artinya, ia harus menghentikan dominasi para pemain senior di ruang ganti dan juga menyelipkan talenta-talenta muda dalam timnya nanti.

Menghadapi nama-nama semacam Drogba dan Nicolas Anelka adalah satu hal. Tapi yang tersulit adalah John Terry. Dominasi dan pengaruh kapten Chelsea ini luar biasa besar. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Villas-Boas Ia harus mampu menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di ruang ganti –meski umur mereka tidak berbeda jauh.

Mendapatkan seorang manajer yang usianya masih cukup untuk menjadi seorang pemain di Chelsea akan menjadi perjudian terbesar Roman Abramovich sejauh ini –lebih dari perjudian 50 juta Poundnya saat membeli Fernando Torres musim lalu. Dengan dana yang begitu besar, dan hasil yang masih belum terjamin, keberanian orang kaya Rusia ini patut dipuji.

Dan saatnya  Villas-Boas kini menunjukkan kelasnya. Empat gelar di musim pertamanya dengan Porto jelas bukan suatu kebetulan. Orang jenius ini punya kemampuan lebih untuk mengontrol sebuah tim besar. Kemampuan taktiknya, man management, dan kepemimpinan sekaligus kedekatannya dengan pemain dan fans ada di atas rata-rata. Dan inilah yang coba dipraktekkannya kembali di klub barunya nanti.

Tapi Chelsea jelas bukan FC Porto. Ekspektasi luar biasa tinggi akan muncul pada siapapun yang cukup berani menduduki kursi panas sebagai manajer klub London ini. Dan waktu akan menjadi penentu segalanya. Apakah Villas-Boas bisa menghadapi semua tekanan tersebut dan menunjukkan dirinya tidak kalah spesial dari siapapun? Atau sebaliknya, ia malah terpuruk dan menjadi manajer ke sekian yang terbuang dari ganasnya kamar ganti Stamford Bridge.