
Tapi itu dulu, sebelum dirinya menderita malaria tahun lalu. Setelah kembali dari malaria, Drogba menunjukkan grafik yang semakin menurun.
Pemain yang biasanya selalu menjadi solusi kebuntuan Chelsea dalam hal mencetak gol ini mulai melempem, sepertinya akan sulit buat kita semua menyaksikan dirinya mem-bully bek-bek lawan sebelum akhirnya mencetak gol ke gawang mereka.
Bahkan pada pertandingan terakhir Chelsea saat bertandang ke Fulham kemarin, Drogba tak menjadi starter. Carlo Ancelotti lebih percaya pada Fernando Torres sebagi tombak di lini depan The Blues, bukan lagi dirinya. Padahal Torres juga masih dipertanyakan, apakah dirinya mampu menjadi solusi baru Chelsea di lini depan.

Meski menjadi top skorer Chelsea musim lalu, Drogba bahkan sudah berada dalam rencana penjualan tim tersebut di akhir musim nanti. Bersama beberapa nama lain seperti Florent Malouda, John Obi Mikel, Yuri Zhirkov, penyerang timnas Pantai Gading itu siap dilepas.
Drogba adalah Chelsea, dan Chelsea selalu butuh Drogba. Namun fakta di lapangan kali ini berkata lain, sepertinya sulit untuk Drogba bisa bertahan lebih lama di London, mengingat usianya yang akan mencapai usia 33 tahun bulan Maret mendatang.
Ketika didatangkan ke Chelsea pada tahun 2004, Drogba dihargai cukup mahal. 24 juta Pounds untuk pemain yang saat itu belum begitu dikenal dunia, adalah harga yang mengejutkan.

Namun kehadirannya membawa Chelsea memenangkan Premier League untuk pertama kalinya setelah lima puluh tahun, ketika John Terry mengangkat piala yang sudah lama hilang itu di tahun 2005.
Tak hanya itu, di tahun yang sama, Drogba juga membawa Chelsea memenangkan Piala Carling dan FA Community Shield.
Beberapa kali dirinya meraih beberapa penghargaan, seperti pemain Afrika terbaik, dan pemain Pantai Gading terbaik, dan lainnya. Untuk negaranya, Drogba adalah pengkoleksi gol terbanyak.
Semua gelimangan prestasi itu perlahan kian terlupakan, Drogba pun kini terkikis usia. Meski musim lalu membawa Chelsea meraih gelar Double Winner, posisi Drogba kini kian terancam menjelang akhir musim.

Satu-satunya hal yang bisa membuatnya bertahan lebih lama di Chelsea adalah, apabila dirinya bisa mulai mencetak gol seperti biasanya.
Membawa timnya mempertahankan Premier League musim ini mungkin sulit, mengingat jarak antara Chelsea dengan pemuncak klasemen saat ini, Manchester United, sudah 12 angka. Satu-satunya harapan untuk bisa kembali melihatnya musim depan adalah, membawa Chelsea memenangkan Champions League.
Sampai saat ini, hanya piala tertinggi Eropa di level klub itulah yang masih belum mampu didapatkan Chelsea. Sang pemilik, Roman Abramovich, bahkan mendatangkan pelatih sekaliber Carlo Ancelotti untuk bisa mewujudkan impianna itu.
Bila Drogba bisa membantu Chelsea untuk mendapatkan The Big Ear musim ini, dijamin posisinya aman musim depan.