Bangkitnya Derby Manchester Dalam Beberapa Musim Terakhir

July 23, 2011 oleh Muhajjir Esyaputra
Dilihat sebanyak 10 Kali

Alkisah beberapa waktu yang lalu, Manchester bagian Old Trafford menyanyikan sebuah chant berbunyi  â€œAr gen ti na. Ar gen ti na”. Sebuah chant dukungan untuk seorang pemain yang menjelma menjadi pahlawan di Manchester United hanya dalam waktu singkat. Sementara di sisi lainnya, pendukung Manchester City menyanyikan chant yang berisi tentang bekas luka di leher sang pemain.

Who? Carlos Tevez.

Dan segalanya pun berubah dengan begitu cepat beberapa waktu kemudian.

Fans United untuk waktu yang lama menganggap City sebagai sebuah pengganggu mereka di tengah perjalanan menuju kesuksesan. Derby Manchester hanya menjadi sebuah aksesori yang tidak begitu penting.

Sementara bagi City, United adalah segalanya yang salah dengan sepakbola. Sebuah klub yang sangat komersil dan segalanya tentang uang. Fans mereka juga berasal dari berbagai kota nun jauh dari Manchester. Karena itu, semua kekalahan (dan sesekali kemenangan…) dalam derby tidak begitu berarti banyak.

Persaingan antara dua klub Manchester ini tidak begitu mencolok. United terlihat lebih sering berperang menghadapi seteru papan atasnya semacam Liverpool atau Arsenal. Dibandingkan dengan kehebohan menghadapi derby seperti yang terjadi di berbagai kota lainnya.

Tapi Tevez mengubah segalanya. Di musim pertamanya, ia membantu United merebut juara liga dan juga Liga Champions. Ia bahkan menjadi pahlawan tersendiri dalam adu penalti di final. Para fans mencintainya dan bisa melihatnya menjadi duet yang luar biasa berbahaya bersama Wayne Rooney.

Kekurangannya hanya satu. Ia masih berstatus pinjaman. Maka chant andalan fans United pun dikeluarkan “Fergie… Fergie… Sign him up!” Sesuatu yang, pada akhirnya, terbukti gagal dan menjadi bumerang.

Sang pahlawan pekerja keras berpindah klub. Ke Manchester City. Dan ini adalah sebuah perubahan besar bagi para fans City. Mereka tidak lagi menjadi pengganggu di tengah jalan. Evolusi mereka bergerak menuju menjadi sebuah pesaing serius. Sebuah klub berlabel rival. Pembuktian awal? Mereka mendapatkan satu pemain dari United. Poster “Welcome To Manchester” yang legendaris itu pun menjadi salah satu bukti nyata.

Dan hanya dalam beberapa minggu saja, orang Argentina ini membuat derby Manchester berubah menjadi sebuah komoditi yang luar biasa dan dinanti-nantikan banyak pihak ketika itu. Kebencian dan rivalitas dua tim ini yang ada namun terkubur lama, kini tiba-tiba bangkit. Dan senjata utama City adalah mantan pahlawan United. Irony.

Bulan September 2009. Old Trafford menjadi saksi salah satu derby terbaik sepanjang masa. Hanya butuh 27 menit bagi Tevez untuk mendapatkan kartu kuning. Tackle terjadi di setiap sudut. Tujuh gol tercipta, termasuk satu gol penentu kemenangan yang diciptakan Michael Owen di penghujung pertandingan super seru tersebut. Sebuah gol yang mungkin menjadi alasan mengapa Owen hingga sekarang masih bertahan.

Selanjutnya, giliran Carling Cup yang mendapatkan perlakuan istimewa. Dua tim ini kembali bertemu. Kali ini levelnya babak semifinal. Mickey Mouse Cup inipun mendadak naik kasta. Semua orang membicarakan Derby Manchester seolah terjadi di kasta tertinggi.

Pertarungannya pun berjalan sengit. Tevez menjadi bintang di partai perdana. Tapi Rooney mencuri sebuah gol penting. Hasil agregat pun membawa United melaju ke final. Meninggalkan kepahitan di muka para pemain City.

Satu hal yang pasti, rivalitas kedua tim ini mencapai titik puncak pada saa itu. Dan bertahan hingga detik ini. Saat City akhirnya berhasil meraih trofi, dan United akhirnya berhasil melewati rekor Liverpool.

Semuanya hanya karena satu nama: Carlos Tevez.

Di musim mendatang, terbuka peluang lebar Tevez tidak ada lagi di Manchester. Kota yang (menurutnya) bahkan tidak layak untuk didatangi saat berjalan-jalan. Ia siap ditampung klub besar lainnya di Eropa, atau mungkin Amerika Latin.

Tapi apapun yang terjadi nanti. Derby Manchester kini sudah menjadi sebuah warna tersendiri dalam Liga Inggris atau kompetisi apapun. Saat kedua tim yang saling melabeli satu sama lain dengan penuh kebencian ini bertemu, mata dunia sepakbola pun tertuju pada mereka.

Semua ini menjadi warisan Tevez jika ia pada akhirnya pergi nanti. Sebuah warisan luar biasa. Dan sesuatu yang akan membuatnya dirindukan di masa mendatang…