Inggris dan Italia babak belur di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Bermaterikan sebagian besar pemain senior, Italia harus pulang lebih awal dari jadwal semula karena hanya mampu bertahan sampai babak penyisihan. Ingrris lebih baik, sempat menembus babak 16 besar sebelum akhirnya angkat koper lantaran dibantai Jerman 1-4.
Johann Cruyff, legenda s
epak bola Belanda mengatakan, salah satu kegagalan Italia dan Inggris adalah tak adanya regenerasi di kedua negera tersebut. Kenapa tak ada regenerasi? "Itu lantaran banyaknya pemain asing yang bermain di klub, sehingga potensi pemain lokal mati," kata Cruyff.
Seniman sepak bola yang mengantarkan Belanda runner up Piala Dunia 1974 menambahkan, otoritas sepak bola Italia dan Inggris harus memperhatikan persoalan ini secara serius. "Tim nasional adalah kebanggaan setiap bangsa dan ini tak digubris oleh Italia dan Inggris," kata Cruyff.
Solusinya, masih kata Cruyff, pemain-pemain asing harus dibatasi. Setiap klub harus memprioritaskan potensi-potensi lokal. Dengan kata lain, bakat-bakat lokal mendapat kesempatan lebih besar.
Menyimak komentar Cruyff, saya kontan ingat sepak bola Indonesia. Indonesia, kalau boleh saya membandingkan, tak jauh beda dengan Italia dan Inggris. Sejak bergulirnya Liga Indonesia tahun 1994 yang kemudian menjelma menjadi DISL (Djarum Indonesia Super League), pemain-pemain asing lebih mendominasi. Hampir semua klub punya legiun asing. Saat era galatama, pemain asing memang sudah ada, tapi keberadaan mereka masih bisa dihitung pakai jari. Katakanlah seperti Fandi Achmad (Niac Mitra), Jairo Matos (Pardedetex), dan lain-lain. Tapi, saat ini, sudah tak terhitung lagi pemain asing yang hilir mudik di blantika sepak bola nasional.
Eksistensi pemain impor tak hanya membawa pengaruh positif, tapi juga berdampak negatif yakni mematikan potensi lokal. Ini sangat menggelisahkan yang membuat beberapa mantan pemain nasional seperti Ronny Pattinasarani (almarhum), Iswadi Idris (almarhum), Ricky Yacobi, Sutan Harhara, Nobon, Herry Kiswanto, Zulkarnain Lubis, Patar Tambunan, dan sejumlah pemain nasional lainnya menyatakan sikap keprihatinan dua tahun silam.
Para legenda itu menyimpulkan, PSSI selaku otorita sepak bola di Tanah Air harus membatasi pemain asing. "Tujuannya agar pemain lokal bisa mengembangkan permainan. Lokal juga tak kalah hebat dari pemain asing. Kita juga jangan menutup mata, banyak pemain asing yang kemampuannya sangat mengecewakan. Pemain asing juga kerap menjadi biang keributan di lapangan. Mereka gagal jadi panutan," sungut Ronny kala itu.
Saya setuju pemain asing dibatasi. Saat ini, PT Liga Indonesia (LI) selaku penyelenggara kompetisi sepak bola profesional menetapkan setiap tim boleh merekrut lima pemain asing, tiga di antaranya adalah pemain Asia. Ini jelas bumerang bagi pemain-pemain muda Indonesia. Mereka tak punya kesempatan. Akibatnya, stok pemain nasional jadi sangat minim. Terbatasnya stok tak jarang membuat pelatih-pelatih timnas mengeluh.
Ironisnya, klub lebih mengedepankan pemain impor ketimbang lokal. Di samping itu, hampir semua posisi strategis diisi oleh pemain asing.
Dampaknya sangat terasa.
Prestasi timnas, 20 tahun belakangan terjun bebas. Di tingkat Asia, Indonesia terakhir menembus semifinal Asian Games 1987. Empat tahun berselang, tepatnya tahun 1991 di Manila, Indonesia secara gemilang menyabet medali emas sepak bola SEA Games. Kala itu, pemain lokal masih merajalela di klub. Namun, setelah itu, kiprah Pasukan Garuda tak lagi disegani. Bahkan, saat SEA Games tahun lalu di Laos, tim Merah Putih bertekuk lutut di hadapan Laos.
Cruyff benar, jika Inggis dan Italia sukses di Piala Dunia 2014 atau Piala Eropa 2012, maka tak ada pilihan, pemain asing harus dibatasi. Sependapat dengan Cruyff, Indonesia juga harus membatasi pemain import. Kalau tidak, tekad kita untuk mentas di Piala Dunia hanya sebatas mimpi.
Mari belajar kepada Spanyol. Sukses La Furia Roja jadi Juara Dunia 2010 tak datang begitu saja, tapi melalui proses pembinaan. Materi pemain Spanyol merata di semua lini, termasuk pemain yang duduk di bangku cadangan. Badan sepak bola Spanyol telah menyiapkan pengganti Iker Casillas, Carles Puyol, Andres Iniesta, dan Fernando Torres jauh-jauh hari. Di Spanyol juga banyak pemain asing. Hanya saja, mereka tetap memprioritaskan potensi lokal. Hasilnya, bisa Anda lihat sendiri.