Sepakbola Inggris adalah ladang subur bagi investor-investor asing untuk “berkarir†di sana. Ini rasanya sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta sepakbola Inggris. Maklum, kini, semakin banyak klub-klub di Inggris yang dimiliki oleh pengusaha-pengusaha asing. Sebut saja Chelsea yang dimiliki oleh taipan Rusia, Roman Abramovich, Manchester City yang dikuasai oleh Sheikh Mansour, Manchester United yang dimiliki oleh orang Amerika Serikat, Malcolm Glazer, hingga Aston Villa yang dimiliki orang AS lainnya, Randy Lerner.
Salah
satu konglomerat yang memiliki sebuah klub di Inggris adalah Bernie Ecclestone, orang kaya yang lama berkecimpung di ajang balap mobil Formula One. Ia adalah pemilik saham mayoritas Queens Park Rangers, klub promosi Premier League musim 2011/12. Keterlibatan Ecclestone di dunia sepakbola dimulai ketika pada Agustus 2007, ia dan Flavio Briatore membeli QPR yang saat itu sedang dalam kondisi kesulitan keuangan dengan nilai 14 juta pounds. Ecclestone saat itu hanya membeli 15% saham QPR, sedangkan Briatore membeli 54% bagian. Baru pada Desember 2010 kemarin, Ecclestone kemudian membeli saham mayoritas dari Briatore sehingga saham QPR miliknya menjadi 69%. Ecclestone pun menjadi pemilik saham mayoritas QPR.
Di awal kedatangannya di QPR, Ecclestone dan Briatore berjanji memperbaiki klub dan membawa klub ini secepatnya kembali ke pentas Premier League. Keduanya, beserta Laksmi Mittal yang belakangan juga membeli 20% saham QPR kemudian menyuntikkan dana ke dalam klub dan membantu meminjamkan uang untuk membangun QPR. Hasilnya, empat tahun kemudian, QPR mampu promosi ke pentas Premier League setelah menjuarai Championship Division.
Tetapi apa benar Ecclestone memang mencintai sepakbola sehingga mau menghabiskan belasan juta pounds miliknya untuk membeli saham QPR? Atau ia hanya seorang businessman biasa yang membeli klub untuk investasi semata?
Dalam perjalanannya, Briatore yang kemudian menjadi presiden klub, justru yang lebih banyak mengurus klub dibandingkan dua rekannya yang lain. Briatore lah yang berhadapan dengan wartawan membicarakan kondisi klub, dan membayar utang QPR kepada perusahaan ABC senilai 10 juta pounds. Lalu bagaimana dengan Ecclestone? Apa ia memang mengerti sepakbola, memahami kondisi tim, dan peduli dengan QPR?
Well, Anda b
isa menilai hal tersebut dari pernyataan Ecclestone ketika diwawancarai Daily Mail pada 2 Mei yang lalu. Saat itu, QPR tinggal melawan Watford untuk memastikan diri sebagai juara Championship Division. Dan ternyata, Ecclestone, yang sudah menjadi pemilik saham mayoritas QPR, enggan datang ke Watford untuk menyaksikan pertandingan tersebut, apalagi masuk ke kamar ganti pemain untuk menyatakan selamat kepada pemain.
“Tidak. Saya hanya akan pergi jika kami bermain lokal (di kandang sendiri),†ujar Ecclestone. Hal ini terbilang ironis, karena beberapa minggu sebelumnya, ia mau terbang ke Kuala Lumpur dan Melbourne untuk menonton F1 yang digelar di sana.
“Ketika saya pergi menonton pertandingan sepakbola, saya pergi saat pertengahan babak. Dan mereka menutup jalan dan semua bisnis. Saya tak ingin terlambat hingga satu jam ke depan. Saya tak mampir untuk minum bersama dewan direksi lainnya. Saya tak tahu apa yang harus saya katakan pada mereka. Saya tak mengerti apa yang mereka bicarakan,†ucap Ecclestone, jujur.
“Jika Anda bertanya kepada saya lima nama dari tim ini, saya tak mampu menyebutkannya. Mereka orang-orang yang baik, tetapi saya tak bisa berbaur dengan mereka dan tak mengetahui mereka dengan baik.â€
“Yang terpenting adalah mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.â€
Saat ini pun, Ecclestone dan QPR sedang dalam sorotan terkait rencana penjualan klub oleh sang konglomerat. Ia bahkan menyebut, karena kini QPR sudah bermain di Premier League, inilah saat yang tepat untuk menjual kepemilikan klub tersebut. Tak main-main, Ecclestone memasang harga 100 juta pounds! Bos F1 ini sudah pasti akan mendapatkan keuntungan luar biasa. Rumornya, beberapa pengusaha asal Asia dan Amerika Serikat tertarik untuk membeli mayoritas saham QPR, termasuk CEO Air Asia, Tan Sri Tony Fernandes.
Well, sepertinya Anda sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan apakah Ecclestone membeli klub karena mencintai sepakbola atau hanya bisnis semata. Bagaimana menurut Anda?