Berikut ini beberapa cara yang paling populer digunakan oleh para pemain profesional modern saat mereka ingin meninggalkan klub saat ini untuk pindah ke klub lain yang (mungkin) lebih besar dan lebih menarik.1. Menyalahkan Orang Lain
Tipe seperti ini mencari-cari alasan yang tidak terbantahkan untuk kepindahan dirinya ke tempat lain. Contoh yang paling jelas adalah: memanfaatkan keinginan istrinya untuk kembali ke tempat asal mereka, karena sudah merasa tidak nyaman. Siapa yang bisa marah dan melarang seseorang untuk membahagiakan keluarganya?
Cara ini akan sukses membuat seorang pemain terlihat “muliaâ€. Bukannya pencari uang semata. Dan sudah digunakan selama bertahun-tahun sejak masa lampau.
Kata-kata yang biasa digunakan:
“Pada akhirnya, saya hanyalah seorang manusia biasa, yang sangat merindukan kehadiran keluarga dalam hidup saya.â€
2. Mengandalkan “Keputusan†Tuhan.
Siapa yang bisa berdebat dengan Tuhan? Tuhan akan menentukan masa depan seorang pemain dan hanya Ia-lah yang paling tahu di mana sang pemain akan menghabiskan musim berikutnya.
Mempertanyakan keputusannya bisa menjadi penghinaan bagi banyak penganut agama di seluruh dunia, dan sang pemain bisa dengan aman dan lancar mencoba memuluskan upaya transfer-nya dengan menggunakan alasan ini.
Kata-kata yang biasa digunakan:
“Masa depan saya? Hanya Tuhan yang bisa memutuskannya!â€
3. Mencari Simpati
Ada beberapa pemain yang memilih opsi ini. Mereka membagi kekecewaan mereka karena “dipaksa†pergi dari klub yang dicintainya dan harus menjalani musim berikutnya di tempat lain yang sama sekali berbeda. Atau mungkin juga “terpaksa†pergi karena kontrak yang ditawarkan tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Mereka akan memainkan peran sebagai seorang pemain sepakbola yang rapuh. Image yang mungkin muncul adalah sang pemain akan meninggalkan stadion dan para pendukungnya dengan mata sedikit berair –dengan membawa beberapa barang kesayangannya. Mungkin di dalam tas plastik.
Kata-kata yang biasa digunakan:
“Saya sama sekali tidak ingin meninggalkan klub ini, para fans akan mengerti. Suatu hari nanti, mereka akan mengetahui segalanya.â€
4. Klub Tidak Memiliki Ambisi yang Sama Dengan Dirinya.
Normal jika seorang pemain ingin berada pada level tertinggi. Liga Champions biasanya menjadi salah satu tujuan mereka. Sesuatu yang mungkin bisa membantu karir mereka di level internasional. Tapi terkadang, para pemain sebakbola ini bahkan tidak memilih tim yang benar-benar berada di zona ini sebagai tujuannya.
Selain mungkin liga champions, keinginan memenangi trofi seringkali juga menjadi alasan untuk pindah. Trofi apapun bisa. Bahkan Carling Cup.
Kata-kata yang biasa digunakan:
“Saya ingin sukses dengan tim ini. Tapi setiap pemain memiliki karir yang terbatas dan saya harus mencoba mengetes kemampuan saya di level yang lebih tinggi lagi.â€

5. Memiliki Impian Sejak Kecil
Para pemain akan punya impian. Jika mereka tidak punya impian, bagaimana mungkin mereka akan mencapainya? Atau hal semacam itulah.
Siapa yang bisa mempertanyakan impian seorang anak? Banyak pemain yang ketika kecil membayangkan akan bergabung dengan sebuah klub yang mereka sukai. Dan para fans sangat mengerti ini. Karena itu, taktik ini termasuk sering digunakan oleh para pemain yang ingin pindah dan menyentuh hati para fans.
Hanya satu klub saja? Belum tentu. Ada beberapa pemain yang bahkan dengan tanpa ragu-ragu menyatakan hal ini SETIAP pindah klub. Well, anak kecil bisa memilki banyak tim yang didukung, kan?
Kata-kata yang biasa diucapkan:
“Rasanya sangat luar biasa bisa akhirnya memenuhi impian masa kecil saya. Inilah satu-satunya klub yang membuat saya rela meninggalkan *masukkan nama klub sebelumnya di sini*â€
Bagaimana dengan pemain di klub kesayangan anda? Ada yang bertingkah laku seperti ini? Hati-hati, ia bisa segera berada di klub lain tanpa anda sadari.