Pertama, Persisam Putra Samarinda.
Mengawali musim dengan persiapan mencengangkan, tim Elang Borneo tercatat sebagai tim terboros dengan prestasi keropos. Pada awal musim Persisam jor-joran menggelontorkan uang demi menciptakan tim super. Sebut saja untuk memperkuat barisan pertahanan merekrut M Robby, Hamka Hamzah dan Jauqes Tsimi. Di lini tengah, nama-nama besar liga super seperti Danilo Fernando dan Ronal Fagundez diapit. Sementara untuk pos penyerang juga tak kalah sigap, Zaenal Arif pun direkrut. Belum lagi tambahan pemain Thailand, Pipat Tonkaya. Hasilnya tidak sepadan, akibatnya pelatih Aji Santoso keluar dan pindah ke Persema Malang sebelum liga berakhir. Persisam harus mengakhiri kompetisi di peringkat ke-12.
Kedua, M. Isnaini.
Pria Pekanbaru, yang lahir 29 tahun silam ini sebenarnya seorang polisi. Namun karena naluri tajam seorang Abdulrahman Gurning, diduetkanlah polisi ini dengan Herman Dzumafo. Hasilnya luar biasa. Mencetak 14 gol dalam debut di Liga Super dan hanya kalah dari Boaz Solossa untuk ukuran penyerang lokal. Sementara Aldo Baretto berhasil menjadi topskorer sekaligus menggagalkan ambisi penta top skor Cristian Gonzalez dengan 19 gol.
Ketiga, aturan pemain.
Dalam musim kompetisi ke-15 (2009/2010) yang juga merupakan musim kedua dalam penyelenggaraan DISL, PSSI mengubah format penggunaan pemain asing. Untuk Divisi Utama (kompetisi level 2) format penggunaan pemain asing berubah dari format 4-3 menjadi format 3-3. Ini berarti jumlah pemain asing dengan sendirinya akan berkurang pada masing-masing klub. Sementara untuk DISL (kompetisi level 1) jumlah pemilikan dan pemain yang dibolehkan main tetap dengan jumlah lima pemain asing untuk setiap klub yang dikenal dengan format 5-5 mengalami perubahan menjadi format (3+2)-5. Artinya, setiap klub Liga Super diperboleh menggunakan lima pemain asing dengan syarat dua diantaranya merupakan pemain asing yang berasal dari Asia.
Syarat pemain asing di Liga Indonesia: Eropa dan Amerika minimal bermain di divisi 2, Afrika minimal divisi 1 dan Asia minimal klub divisi utama/super sedangkan ASEAN harus merupakan pemain nasional di negaranya.
Imbas dari aturan tersebut, berbondong-bondonglah para pemain Asean ke liga super terutama pemain dari Singapura. Tercatat ada nama-nama Mustafiq Fachrudin dan Baihakki Kaizan (Persija), Noh Alam Shah dan M. Riduan (Arema) serta Precious (Sriwijaya FC). Noh Alam Shah dan M. Riduan di Arema lah yang paling berbahagia karena berhasil mengantarkan Singo Edan menjadi juara.
Keempat, kasus pertandingan Persik vs Persebaya.
Sangat mengganjal ketika liga super sudah usai, namun masih menyisakan sebuah ‘PR’ besar. Seharusnya penyelesaian masalah ini harus diputuskan sebelum liga super berakhir. Seperti kita ketahui, banding Persik diterima komisi banding sehingga Persebaya harus masuk ke zona degradasi sementara Pelita Jaya naik ke zona play-off.
Kelima, hukuman tanpa penonton.
Banyaknya pertandingan yang terganjal perijinan membuat beberapa laga di Liga Super banyak dilaksanakan tanpa adanya penonton. Hal ini tentusaja merugikan pihak sponsor.
Demikian beberapa catatan penting yang tersisa dari perhelatan DISL 2009/2010. Semua pihak harus bisa introspeksi diri demi perbaikan. Arema Indonesia telah membuktikan tanpa dana APBD pun sanggup menjadi juara.
Semoga musim depan PSSI selaku regulator dan BLI selaku operator banyak membuat perbaikan demi majunya sepak bola Indonesia.