Drogba memang sa
ngat dinantikan, bahkan mengalahkan bomber-bomber kelas dunia lainnya, katakannya seperti Ricardo Kaka, Lionel Messi, Ibrahimovic, dan striker lainnya. Ini bukan sekadar bicara doang, tapi berdasarkan survei yang dilakukan beberapa hari sebelum Piala Dunia 2010 Afrika Selatan digelar.
Sayang memang. Sinar dan sihir Drogba tak kunjung datang. Pantai Gading, negera yang dia bela bahkan pulang lebih awal dari Afrika Selatan. Namun, meski begitu, publik sepak bola dunia toh tak memalingkan muka dari mesin gol Chelsea itu. Terbukti, di Liga Inggis, Drogba masih jadi jaminan mutu. Taican The Blues, Carlo Ancelotti tetap memasukkan Drogba sebagai pemain inti.
Kenapa sinar dan sihir Drogba terus menyala? Jawabannya ada dua. Yang pertama, ya itu tadi. Drogba dengan segala talenta yang dimilikinya adalah sosok striker langka. Tak hanya lihai, Drogba juga tipikan penyerang yang komplet di mana kemampuan mencetak gol dan stamina nan prima menyatu padu.
Satu lagi, dan ini yang paling utama, Drogba punya semangat egaliter. Drogba paham betul, manusia tak bisa hidup sendiri. "Seperti tim sepak bola, manusia harus saling bekerjasama," kata dia. Maka dari itulah, Drogba menyadari banyak orang-orang lain yang butuh kasih kayang. Berangkat dari sinilah, striker berambut kriwil-kriwil itu bergabung dalam yayayasan kemanusiaan yang memerangi virus HIV dan AIDS.
Bersama vokalis U2, Bono, Drogba
beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Tentang ini, Drogba tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Kata dia, peduli terhadap sesama manuasi, jelas merupakan hal yang membanggakan. "Sangat senang bisa membantu serta menyelamatkan hidup orang banyak," Drogba menambahkan.
Menurut Drogba, sebagai warga Afrika, dia merasa terpanggil untuk menyelamatkan masyarakat dunia dari jeratan virus HIV dan AIDS. "Penyakit ini telah menghancurkan Afrika dan ini tak bisa dibiarkan," ucapnya. HIV dan AIDS membuat Afrika menangis, juga meradang. Drogba masygul. Lewat kampanyenya, Drogba mengajak warga Afrika serta dunia untuk bebas virus yang mematikan.
So, jika banyak yang simpati kepada Droba, itu sah-sah saja. Banyak pemain top yang punya nama besar, namun tak memiliki hati seperti Drogba. Kesibukan yang padat tak membuat Drogba mundur dari pelayanan kemanusiannya. "Saya sangat bangga dengan pekerjaan ini," kata Drogba.
Drogba, kami pun bangga kepadamu. Suer!