FAIR PLAY! Sikap ini terus dikumandangkan PT Liga Indonesia, selaku penyelenggara DISL (Djarum Indonesia Super League) 2009/2010. Pelaku sepak bola – tanpa terkecuali – harus menjunjung tinggi sikap persaudaraan, no anarkis, no rasis, dan mengedepankan nilai-nilai sportivitas. "Kita ingin membangun sepak bola yang lebih berbudaya," kata Joko Driyono, CEO PT LI.
Tapi apa yang terjadi?
Kemarin, atau Selasa 4 April 2010, susuatu yang memalukan tersuguhkan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur. Striker Arema Indonesia, Noh Alam Shah, nyaris baku pukul dengan pemain Persela Lamongan FX Yanuar. Insiden memalukan itu dipicu tindakan Noh Alam Shah yang memeluk FX Yanuar pada menit ke-71. Yanuar yang tidak terima perlakuan Noh Alam Shah lalu coba melepaskan diri yang membuat legiun asal Singapura terjatuh. Melihat koleganya terjatuh, M Ridhuan berlari ke arah Yanuar. Perang mulut pecah. Beberapa pemain terlibat saling doring, berikhtiar mencegah kedua pemain.
Wasit Oki Dwi Putra yang memimpin pertandingan spontan mengganjar kedua pemain dengan kartu merah. Noh Alam Shah meninggalkan lapangan dengan emosi. Striker yang akrab disapa Along berusaha mengejar Yanuar yang berjalan menuju ruang ganti. Langkah Along terhenti saat beberapa ofisial Arema termasuk pelatih Alberts Roberts Rene ikut menenangkan Along.
Memalukan, benar-benar memalukan.
Bagaimana tidak! Insiden yang tak perlu terjadi itu disaksikan langsung oleh perwakilan AFC yang sengaja datang ke Malang guna melakukan verifikasi kepada tim-tim DISL asal Jawa Timur.
Ini bukanlah kali pertama terjadi, sejak DISL bergulir November 2009. Beberapa waktu lalu, sejumlah pemain Persisam Samarinda dipukul oleh ofisial dan pemain Persiwa Wamena kala Elang Borneo dijamu di Stadion Pendidikan Wamena, juga di pentas DISL.
Pemain Persipura Jayapura, Orstisan Solossa, pun pernah tertangkap basah lewat layar televisi melayangkan bogeman mentah ke arah pemain Persema Malang, M Kamri.
Selain perkalhian sesama pemain, DISL juga diwarnai pelanggaran-pelanggaran keras yang mencederai yang ujung-ujungnya memaksa pemain untuk gantung sepatu atau beristirahat dalam waktu yang cukup lama. Jaya Hartono, mantan pelatih Persib Bandung menyesalkan pelanggaran keras yang terjadi terhadap salah satu pemain andalannya, Hilton Moreira. Moreira mengalami cedera ligamen lantaran dihajar keras dalam satu pertandingan. Cedera yang sangat parah memaksanya untuk pulang sebelum DISL berakhir.
"Wasit harus tegas di lapangan. Semua pelanggaran dari belakang harus diganjar kartu merah. Lihat Moreira. Kasihan dia," tandas Jaya.
Jacksen F Tiago, pelatih Persipura Jayapura, mengeluhkan hal yang sama. Saat melakoni laga tandang kontra Arema, 24 April 2010, seorang pemain Mutiara Hitam dihajar yang mengakibatkan si pemain cedera serius. "Benar-benar keras. Seharusnya pelanggaran tak perlu terjadi. Gara-gara cedera, pemain saya itu terpaksa istirahat lama," tukas Jacksen.
Cukup? Tidak!
Pilar Persebaya Surabaya, Anang Ma’ruf, mengalami patah tangan. Pemain gaek Bajul Ijo ‘dimakan’ keras oleh pemain Persitara Jakarta Utara, Sutikno, kala kedua tim bertanding di GOR Brojosumantri, Kuningan, Jakarta Selatan.
Apapun namanya, apapun alasannya, kekerasan harus dihentikan. Ingat Jumadi Abdi? Pemain PKT Bontang (kini Bontang FC) tersebut meregang nyawa di rumah sakit, karena sebelumnya mengalami benturan keras dari seorang pemain Persela Lamongan, 7 Maret 2009. Fair play, please!