1. Kenny Dalglish sud
ah harus dijadikan manajer full-time Liverpool sekarang
Apa lagi yang harus ditunggu? Liverpool, sekali lagi, menjadi tempat yang menyenangkan. Atmosfir yang muncul di Anfield luar biasa. Sebuah perubahan yang sangat signifikan dibandingkan beberapa pekan silam. Tidak Cuma di lapangan, tapi juga di kalangan para suporter. Bahasa tubuh para pemain juga sudah berubah, kini mereka seolah sepenuhnya memang ingin membela tim mereka. Tanggal 29 Desember silam, stadion ini menjadi saksi kekalahan Liverpool atas Wolverhampton Wanderers. Dan Roy Hodgson terlihat kesal dan marah dengan atmosfer yang muncul. Dua bulan berselang, Kenny Dalglish mengubah segalanya. Jadi sepertinya sudah jelas mengapa orang ini layak dapat lebih dari sekedar pekerjaan caretaker. Dan, oh, ada lagu “Happy Birthday†yang dinyanyikan oleh para fans di tengah-tengah pertandingan spesial untuknya!
2. Luis Suarez = Ruud van Nistelrooy, bukan Alfonso Alves.
Saat seorang striker bergabung ke Liga Inggris dari Liga Belanda, akan muncul banyak penilaian dari berbagai pihak. Nama Alfonso Alves bisa disalahkan untuk hal ini. Ia mencetak 45 gol dalam satu musim di Eredivisie bersama Heerenveen tapi begitu kesulitan menemukan mana yang disebut jala gawang saat membela Middlesbrough. Atau Mateja Kezman di Chelsea? Failure. Namun Luis Suarez sejauh ini membuktikan dirinya tidak sama dengan deretan pemain-pemain ‘gagal’ tersebut. Ia adalah sebuah pilihan yang tepat dalam transfer Liverpool Januari silam. Seperti siapa dirinya di Liga Inggris? Ruud van Nistelrooy. Salah satu striker paling tajam yang pernah dimiliki Manchester United. Masih kurang yakin dengan Suarez? Liat lagi aksinya saat gol pertama The Reds tercipta kemarin.

3. Tidak ada lagi Gary Neville, tapi Percikan Api tetap Ada dalam Pertandingan ini.
Sesuatu yang tidak pernah hilang setiap kali Liverpool dan Manchester United bertemu adalah percikan api yang kadang berubah jadi ledakan besar. Dan di pertandingan kali ini kita bisa menyaksikannya di akhir-akhir babak pertama saat semua pemain rasanya ingin memindahkan diri ke arena ring tinju –bukannya lapangan sepak bola. Sang wasit, Phil Dowd, sebenarnya cukup baik dalam mengontrol suasana. Namun keputusan kuncinya tidak memuaskan. Jamie Carragher layak diusir wasit untuk tackle mengerikannya pada Nani. Dan Rafael –meski tidak seburuk Carra- juga cukup beruntung bisa tetap berada di lapangan.
4. Tangisan Nani.
Tidak mudah menjadi seorang Nani di pertandingan ini. Ia harus diangkut keluar lapangan dengan menggunakan papan. Cederanya terlihat buruk setelah kakinya dihajar oleh Jamie Carragher –dan terlihat sangat menyakitkan. Ia juga membuat satu blunder luar biasa yang membuat Liverpool mampu mendapatkan gol kedua mereka. Rough day? Pasti. Tapi menangis di lapangan? Well… Ini yang sedikit mengejutkan. Bryan Robson tidak pernah menangis. Roy Keane tidak pernah menangis. Dan bahkan si raja drama United, Cristiano Ronaldo, tidak pernah sekalipun menangis. Jadi, rasanya bahkan Sir Alex Ferguson sekalipun tidak akan terlalu bersimpati dengan tangisan salah satu pemain terbaiknya musim ini. Sedikit memalukan? You bet.

5. Fans Arsenal Bingung Harus Senang atau Malah Menyesal.
Ada sorakan yang muncul di daerah London saat peluit panjang berbunyi. Yap. Pendukung Arsenal diam-diam, atau terang-terangan, mengharapkan kemenangan Liverpool atas United demi kemudahan mereka dalam mengejar pimpinan klasemen saat ini. Tapi tidak hanya rasa senang saja yang muncul, tidak sedikit yang menyesal dengan tim kesayangan mereka ini. Hasil imbang dengan Sunderland berarti jarak masih 3 poin. Bayangkan jika Arsenal menang, hanya satu poin jaraknya dan dengan satu pertandingan lebih banyak, mereka bisa unggul dua poin. Ditambah gol Javier Hernandez di menit-menit akhir bisa terbukti vital. Kenapa? Lihat selisih gol dua tim ini. Sangat tipis. So, every goals counts. Jadi, fans Arsenal, which one are you?