Kondisi Arsenal beberapa tahun belakangan ini memang sedang jauh dari sempurna. Tidak ada satu gelarpun yang mampir di Stadion Emirates selama enam musim terakhir. Sesuatu yang jelas mendorong beberapa pemain ke batas kesabaran mereka.
Penampilan tim London Utara ini tidak lah buruk. Mereka punya ciri khas permainan menyerang yang menghibur, dan mampu menciptakan banyak peluang dan banyak gol dalam begitu banyak pertandingan. Tapi sayangnya, tim ini seolah sangat jauh dari dewa atau dewi pengatur kemenangan. Terutama di saat-saat akhir.
Musim lalu menjadi contoh terbaru dan paling jelas. Melewati setengah musim, The Gunners masih menjadi salah satu kandidat memenangi EMPAT gelar sekaligus. Di akhir musim? Tidak satu pun datang ke Emirates. Berawal dari horor kegagalan di final Carling Cup, prestasi Arsenal terus menukik turun hingga akhirnya bahkan mengakhiri musim di posisi keempat.

Ini jelas membuat beberapa bintang mereka merasa tidak nyaman berada di sana. Pengaruh uang dan tawaran ambisi dari tim-tim rival begitu kencang. Sehingga tidak heran rasanya satu demi satu punggawa mereka tergoda untuk pergi dan menyeberang ke klub lainnya.
Untuk saat ini, dua nama yang kencang disebut adalah Cesc Fabregas dan Samir Nasri. Keduanya masih berusia 24 tahun, menjadi tulang punggung Arsenal di lini tengah, dan punya talenta yang luar biasa.
Yang pertama adalah kisah lama. Sudah beberapa musim Cesc Fabregas disebut-sebut akan segera kembali ke Barcelona. Klub yang pertama kali menemukannya dulu di masa kecil, sebelum dimatangkan dengan sempurna di London. Tarik ulur yang begitu panjang antar kedua tim membuat berita mengenai transfer ini tidak kunjung usai. Posisi Fab sebagai kapten juga tidak membantu segalanya agar berjalan lancar.
Tap
i kabar terakhir menyatakan Barcelona sudah menyiapkan dana 35 Juta Pound untuk memboyong sang pemain impian, dan Arsenal sudah siap menyerah kehilangan sang kapten dan mencoba untuk memulai hidup baru. Akan segera terjadi ataukah kita masih akan dihadapkan ke saga ini dalam waktu yang lebih lama lagi? Only time will tell.
Selanjutnya Samir Nasri. Kontraknya hanya tinggal satu tahun lagi di Arsenal. Dan ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memperpanjangnya. Timnya dihadapkan pada dua pilihan berat: membiarkan Nasri bermain hingga habis kontrak dan kemudian kehilangan dirinya tanpa menghasilkan satu penny pun atau melepasnya dengan harga tinggi sekarang dan memperoleh keuntungan.
Opsi kedua sepertinya lebih menggoda Arsene Wenger. Manchester United dan Manchester City adalah dua tim terdepan yang siap menampung. Tawaran 20 Juta Pound rasanya terlalu menggiurkan untuk ditolak. Terutama bagi pemain yang tinggal menyisakan setahun lagi di kontraknya dan sudah menunjukkan tanda-tanda ingin pergi.
Jika memang kedua permain itu pergi –ditambah lagi pemain lain semacam Gael Clichy yang sudah nyaris pasti hengkang atau Theo Walcott yang kabarnya diincar juga oleh klub besar Eropa- apa yang akan terjadi dengan Arsenal?
Wenger jelas pusing memikirkan hal ini. Tapi bukan berarti tanpa solusi. Ia sudah memiliki daftar belanjanya sendiri yang sepertinya bisa menambal kekosongan akibat ditinggalkan beberapa pemain handalnya tersebut. Nama-nama semacam Gervinho, Gary Cahill, Christopher Samba, Craig Gordon, Ricky Alvarez dan masih sederet nama lainnya siap mengisi Stadion Emirates untuk membentuk generasi terbaru di Arsenal.
Pertanyaan besar yang muncul di benak para pendukung Arsenal adalah: apakah akan ada perubahan? Seharusnya seperti itu. Kehilangan dua orang –atau lebih- penghuni tetap skuad utama jelas merupakan pukulan besar tersendiri. Tapi ini bukan alasan untuk tidak bisa bangkit. Mereka pernah mengalami sebelumnya. Kehilangan beberapa bintang besar yang mereka ciptakan untuk kemudian pindah ke klub lain. Thierry Henry dan Patrick Vieira bisa menjadi contoh.
Jika memang segala chaos di dunia transfer Arsenal musim panas ini bisa teratasi, maka musim depan akan menjadi musim penentu bagi tim ini di Liga Premier. Apakah mereka mampu untuk bangkit dan menunjukkan bahwa mereka masih bisa disebut sebagai tim papan atas? Atau malah terpuruk dan terlempar dari posisi empat besar langganan –dan harus membangun lagi tim ini sejak awal.
Seperti sudah disebut di atas, only time will tell…