KOI/KONI dan PSSI

August 23, 2010 oleh Samuel Bukti
Dilihat sebanyak 8 Kali

Pernyataan Ketua Umum KOI/KONI Rita Subuwo bahwa setiap anggota KOI tak boleh tersangkut pidana mendapat tanggapan serius dari banyak pihak, terlebih Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Rita tak asal ucap, karena dia mengacu kepada AD/ART Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

PSSI menanggapi serius ucapan Rita. PSSI menilai, KOI sah-sah saja menegakkan AD/ART kepada semua anggotanya. Namun, PSSI juga punya aturan dasar yang berkiblat ke FIFA, selaku otorita sepak bola dunia.

"PSSI memiliki Pedoman Dasar atau yang sudah diratifikasi FIFA menjadi Statuta PSSI," kata Suryadharma ‘Dali’ Tahir, salah satu pengurus PSSI yang juga  anggota Komite Eksekutive Konfederasi Sepak bola Asia (AFC), seperti dilansir situs resmi PSSI.

Menurut Dali Tahir, statuta PSSI adalah panduan atau pegangan mutlak bagi seluruh stake-holders atau pemangku kepentingan persepakbolaan nasional. Statuta PSSI merupakan "penjelmaan" dari berbagai ketentuan atau pedoman yang digariskan oleh AFC maupun FIFA.

Maka dari itulah, kata Dali Tahir, pihak lain tak boleh mencampuri internal PSSI. "Karena itu bersifat intervensi," tandasnya.

PSSI jelas sewot, sebab banyak yang mengaitkan aturan AD/ART KOI mengarah kepada Nurdin Halid selaku Ketua Umum PSSI. Nurdin memang pernah mendekam di dalam bui lantaran kasus pidana. Selama menjabat sebagai orang No 1 di PSSI, prestasi timnas tak ada yang membanggakan. Kompetisi di dalam negeri juga acap kali dikritik lantaran masih banyak kekurangan.

Sebelumnya, lewat Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang, Jawa Timur, KOI/KONI juga meminta agar Nurdin meletakkan jabatannya karena dinilai gagal. Akan tetapi, Nurdin tetap memimpin PSSI hingga kini.
 
Mantan Ketua Umum PSSI, Agum Gumelar, meminta agar PSSI mematuhi AD/ART KOI/KONI yang disahkan 24 Juni 2010. Mantan Komandan Jederal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut mengatakan PSSI harus tertib aturan. "Harus dipatuhilah," katanya.

Menurut Agum, jika tidak patuh, PSSI bisa rugi besar sebab timnas bisa saja tidak akan berlaga di Asian Games, SEA Games, dan Olimpiade.

Bila Agum benar, betapa kecewanya kita. Bayangkan, kita tak bisa menyaksikan Pasukan Garuda bertarung di level Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Kita, masyarakat Indonesia yang sangat mencintai sepak bola berharap timnas kembali menunjukkan taringnya seperti era 1950 sampai 1991, tanpa memandang siapa Ketua Umum PSSI.

Timnas sangat terpuruk dan miskin prestasi. Di tingkat Asia Tenggara, kita terakhir kali menyabet medali emas tahun 1991 kala SEA Games berlangsung di Manila, Philifina. Di ajang Asian Games 1987, kita pernah masuk babak semifinal. Setelah itu, prestasi timnas tak pernah lagi membanggakan. Cabang olahraga lain juga tak kalah menyedihkan. Di ajang OYG (Olympic Youth Games) di Singapura beberapa waktu lalu, Indonesia sangat mengecewakan. Dari 14 atlet yang dikirim mengikuti tujuh cabang olahraga, hanya satu yang membawa pulang perunggu. Medali diperoleh dari cabang angkat besi putri.

Itu harus segera dihentikan. Saatnya kini Garuda kembali terbang gagah di angkasa, menjadi kekuatan yang disegani. Garuda yang mengharumkan nama bangsa, di mana bendera Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang lantang. Oleh sebab itulah, kita berharap, PSSI dan KOI/KONI segera berbenah dan lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.