Kompetisi Baru, Persoalan Baru

August 10, 2010 oleh Samuel Bukti
Dilihat sebanyak 8 Kali

Klub-klub peserta DISL (Djarum Indonesia Super League) 2010/2011 belum juga membentuk skuat resmi, padahal DISL akan dimulai 19 September 2010. Perburuan pemain dan pelatih memang tengah dilakukan, tapi semua masih dalam sebatas negoisasi mengingat klub harus menunggu kucuran dana Anggaran Pendatapan Belanja Daerah (APBD). Lambannya persiapan tentu saja mempengaruhi persiapan tim.

PSM Makassar, misalnya. Tim berjuluk Juku Eja sudah mengantongi pelatih dan pemain-pemain yang akan dibeli. Mengenai pelatih, Juku Eja membidik Roberts Rene Alberts. Pelatih asal Belanda yang sukses mengantarkan Arema Indonesia juara DISL 2009/2010 dinilai punya potensi untuk mendongkel prestasi Ayam Jantan Dari Timur musim depan.

"Sembilan puluh lima persen dia sudah milik kami," kata Faisal Maning, Asisten Manajer Umum PSM kepada SUPERSOCCER di Jakarta beberapa waktu lalu.

Alberts, imbuh Faisal, sudah berkunjung ke Makassar 3 Agustus 2010. Di samping bertemu petinggi PSM, Alberts juga berkesempatan melihat dari dekat fasilitas yang dimiliki tim kebanggaan warga Makassar. Hanya saja, manajemen belum bisa memastikan 100 persen bahwa musim depan Alberts akan menukangi Juku Eja. Masalahnya, tim belum menerima kucuran dana segar.

"Musim depan, kami membutuhkan dana 18 sampai 20 miliar. Musim lalu 11 miliar," kata Faisal. Membengkaknya anggaran disesuaikan dengan target yang akan dicapai. Musim lalu, Juku Eja terpuruk di papan bawah, yakni peringkat ke-13. "Target kami musim depan masuk papan ataslah," kata Faisal.

Menurut Faisal, di samping Alberts, Juku Eja juga akan merekrut sejumlah pemain baru. "Sebagian pemain lama akan diganti. Soal pemain baru, kami mau konsultasi dulu dengan Alberts," tandas Faisal.

Tak jauh beda dengan PSM, tiga tim asal Kalimantan Timur, Persisam Samarinda, Persiba Balikpapan, dan Bontang FC juga belum bisa berbuat banyak. Persisam, sejauh ini, bahkan belum melakukan pembicaraan dengan pelatih Hendri Susilo. "Saya masih dalam posisi menunggu. Kalau ditanya berapa persen yang akan dipertahankan, maka saya akan bilang ke manajemen 80 persen pemain lama masih pantas bermain di musim depan," kata Hendri.

Hal senada dikatakan Junaidi, pelatih Persiba. Beruang Madu, kata mantan pelatih Persijap Jepara itu, menargetkan juara. Target tersebut dinilai realistis, sebab musim lalu Beruang Madu bertengger di peringkat ke tiga. Perombakan juga terjadi di tubuh tim. Sejumlah pemain baru akan dibeli, di antaranya Erick Setiawan. Eks pemain sayap Persija Jakarta bahkan sudah ikut latihan.

Sementara, Bontang FC, sama sekali belum melakukan pergerakan. Tim berjuluk Laskar Khatulistiwa masih berkutat dengan persoalan internal. Striker mereka, Aldo Barretto, mengaku belum menerima gaji selama empat bulan. Striker asal Paraguay itu digaji sebesar Rp 70 juta per bulan. "Sampai sekarang belumn saya terima. Saya tidak tahu kapan mereka mau melunasinya," sungut topskor DISL 2009/2010.

Arema Indonesia, juara DISL, pun tengah dipusingkan dengan masalah dana. Belum jelasnya kontrak baru membuat beberapa pemain berniat untuk mencari klub lain. Noh Alam Shah dan M Ridhuan dikabarkan akan bergabung ke Sriwijaya FC. Jika Alberts jadi ke PSM, Alberts kemungkinan besar akan membawa sejumlah pemain, di antaranya kiper Kurnia Meiga, M Fakhrudin, dan asisten pelatih Liestiadi.

Dua klub besar lainnya, Persija Jakarta dan Persib Bandung pun belum menggumumkan skuatnya. Maung Bandung, di bawah pelatih anyar Darko Daniel Jankovic masih berkutat mencari pemain baru. Pelatih asal Prancis ini dikabarkan akan melakukan perombakan besar-besaran. "Banyak pemain lama yang akan saya ganti," kata Jankovic.

Gagal total di musim lalu membuat Persija memecat pelatih Benny Dollo dan beberapa pemain. Posisi Bendol diisi oleh Rahmad Darmawan, eks taican Sriwijaya FC. Seperti di Sriwijaya FC, Rahmad akan membawa sejumlah pemain ke kandang Macan Kemayoran. Namun, pelatih yang akrab disapa RD belum melakukan tanda tangan kontrak sebab masih menunggu kepastian dana dari APBD.

Sejak DISL digulirkan tiga tahun lalu, PT Liga Indonesia (LI) meminta agar semua klub peserta tak lagi mengandalkan dana APBD. Masing-masing klub diharuskan memiliki PT seperti yang disyaratkan AFC. Tapi apa boleh buat, klub masih saja memakai dana APBD.