Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) berakhir sudah. Bertempat di Hotel Santika Malang, Jawa Timur, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng menutup perhelatan senilai Rp 3 miliar, Rabu 31 Maret 2010.
Jika merujuk kepada hasil, KSN yang berlangsung selama dua hari tersebut tak menghasilkan apa-apa. Harapan sebagian besar masyarakat Indonesia agar Nurdin Halid mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI buntut dari keterpurukan tim nasional selama tujuh tahun kepemimpinannya tak terwujud.
KSN menghasilkan tujuh butir rekomendasi, yakni:
1. PSSI perlu segera melakukan reformasi dan restrukturisasi atas dasar usul, saran dan kritik serta harapan masyarakat dan mengambil langkah-langkah konkret sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai prestasi yang diharapkan masyarakat.
2. Perlu adanya pembangunan dan peningkatan infrastruktur olahraga khususnya sepakbola.
3. PSSI perlu meningkatkan komunikasi, koordinasi dan sinkronisasi dengan seluruh stakeholder, terutama KONI dan Pemerintah.
4. Dilakukan pembinaan sejak usia dini melalui penanganan secara khusus melalui pendekatan IPTEK, dengan melibatkan tim yang terdiri dokter, psikolog, pemandu bakat dan pakar olahraga dan perlu segera disusun kurikulum standar nasional untuk penyelenggaraan Sekolah Sepakbola, PPLP, dan PPLM Sepakbola.
5. Metode pembinaan atlet pelajar/muda agar juga memperhatikan pendidikan formalnya
6. Pemerintah menyediakan anggaran dari APBN dan APBD untuk mendukung dan menunjang target dan pencapaian sasaran untuk menuju prestasi (karena dana APBD masih dibutuhkan untuk stimulan).
7. Perlu segera disusun dan dilaksanakan program pembinaan prestasi yang fokus kepada pembentukan tim nasional untuk menjadi juara dalam SEA Games 2011.
Satu rekomendasi, yakni pembentukan Dewan Sepak Bola Nasional Independen dihapus oleh Ketua KSN Agum Gumelar setelah mendapat tantangan dari Nurdin Halid dan kroni-kroninya. Tadinya, Dewan Sepak Bola Nasional Independen ini bertugas mengawasi PSSI sekaligus memberikan masukan guna membangkitkan kembali kejayaan sepak bola nasional. "Kami bukan terdakwa yang harus diawasi," kata Nurdin yang diamini sekutunya.
Sempat terjadi perlawanan dari kubu anti Nurdin. Suasana tegang sempat terjadi. Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Agum Gumelar kemudian melemparkan persoalan itu kepada floor. Belum lagi suasana tenang, Nurdin dkk langsung berteriak,"Hapus. Hapus". Agum pun mencoret butir kedelapan. Dan Nurdin dkk pun melonjak kegirangan.
Kemenangan Nurdin, bagi saya, adalah pencederaan bagi sebagian besar pecinta sepak bola di Tanah Air. Dengan kata lain, ini adalah sebuah paradoks. Keinginan masyarakat agar PSSI direformasi bahkan direvolusi tak berjalan sebagaimana yang diharapkan. KSN, jelas, adalah peluang untuk itu.
Idonesia terakhir kali merebut medali emas sepak bola SEA Games, tatkala SEA Games di Manila, Philifina, tahun 1991 lalu. Itu ditingkat ASEAN. Di Asian Games 1987, Indonesia sukses masuk peringkat empat. Di Piala Asia, terhitung mulai tahun 1996 timnas selalu masuk babak final. Namun, di masa kepemimpinan Nurdin, timnas terkapar di semua lini. Bahkan menyerah dari Laos, negara yang tak punya tradisi sepak bola.
Hasil buruk yang ditoreh timnas dan amburadulnya kompetisi dalam negeri memantik kepedulian masyarakat luas, juga Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI. Presiden kemudian meminta PWI untuk menyelenggarakan KSN. PWI kemudian melibatkan stakeholder lainnya, yakni Menegpora, KONI, PSSI, dan mantan pemain timnas. Selain PSSI, keempat stakeholder menginginkan adanya tanggung jawab kinerja PSSI di bawah komando Nurdin. Maslalah statuta juga disinggung. Ironisnya, setiap kali hal ini dibahas dalam rapat pleno serta sidang-sidang komisi, selalu saja mendapat perlawanan dari kubu PSSI. Alhasil, debat kusir dan saling cemooh pun terjadi.
"Buat apa saya jauh-jauh ke Malang ini kalau hasilnya tidak ada," sungut mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Menurut Bang Yos, KSN adalah momen penting untuk melakukan perubahan sekaligus membangkitkan kembali kejayaan sepak bola nasional. "Itu juga kan pesan yang disampaikan Bapak Presiden SBY," kata Bang Yos.
Bang Yos tak sendiri, tentu saja. Mantan pemain timnas yang juga saksi hidup kejayaan timnas Indonesia seperti Sarman Panggabean, Anjas Asmara, Ricky Yacobi, para superter yang kritis, serta sebagian besar pecinta sepak bola nasional berharap yang sama.
Tapi apa boleh buat, Nurdin Halid terlampau kuat untuk dimakzulkan lewat KSN yang hanya berlangsung dua hari.
Selama dua hari, Nurdin secara gamblang memaparkan misi dan visi PSSI ke depan. Sungguh indah, sungguh enak didengar. Tapi Nurdin lupa, sepak bola tak melulu bicara visi dan misi, melainkan PRESTASI! Inilah yang dia tidak punya.
Di akhir sidang, saat kroni-kroninya menyalami Nurdin, saya ke kamar mandi dan buang air kecil. Dalam hati saya ingat wejangan lawas ini: Pohon yang baik tak dilihat dari rimbunnya daun atawa ranting-rantingnya yang menjuntai, tapi dari buahnya.
Dengan kata lain, PSSI adalah pohon, daun yang rimbun adalah visi dan misi, serta ranting-ranting yang menjuntai adalah kompetisi dalam negeri. Tapi buahnya, kita semua tahu, tidak ada! Timnas kita bukannya makin berprestasi, melainkan semakin melempem!