Hanya dalam tiga tahun periodenya di Fulham, sosok Roy Hodgson telah menjadi idola bagi klub tersebut. Ia menyelamatkan The Cottagers dari degradasi meski terseok-seok di liga dan nampaknya tidak tertolong lagi. Ia membawa Fulham musim lalu menjadi finalis Europa League dan mengalahkan tim-tim yang lebih besar, termasuk Juventus, dalam perjalanan mereka. Hodgson pun diganjar gelar Manager of The Year musim lalu.
Prestasi Hodgson tersebut dianggap Liverpool cukup mumpuni untuk menangani klub yang morat-marit secara finansial dan prestasi ini, maka diangkatlah ia menjadi manajer Liverpool. Siapa yang sangka bila ternyata Hodgson gagal mengangkat Liverpool ke tempat yang lebih tinggi dan permainannya dituding tidak berkelas.
Hodgson memang bukan Arsene Wenger atau Pep Guardiola. Ia tidak terlalu mementingkan bagaimana cara meraih kemenangan, yang penting menang meski harus membosankan sekalipun. Cara tersebut bisa berjalan di Fulham, tapi belum sukses di Liverpool.
Banyak orang menilai bahwa Liverpool memainkan sepakbola yang tidak efektif dan kembali ke tata cara primitif dengan kick and rush football, salah satu kegemaran Hodgson. Suporter membandingkannya dengan kiprah Rafa Benitez yang dianggap lebih stylish dan pernah memenangkan satu Liga Champions bersama Liverpool.
Waktu memang dibutuhkan Hodgson untuk membangun kembali Liverpool yang runtuh dan hanya bisa terpaku pada papan tengah. Ironisnya, mungkin ia bisa belajar dari Fulham tentang bagaimana cara memainkan sepakbola, berkaca pada performanya musim lalu.
Sementara Fulham sendiri sedang tidak berada dalam posisi yang bagus karena mereka sudah beberapa pertandingan tidak pernah meraih kemenangan. Manajer Mark Hughes sudah pasti akan dipecat jika pemilik Fulham sekejam pemilik Manchester City yang mengusir Hughes musim lalu karena kecewa akan hasilnya