Flashback ke awal mu
sim, tidak banyak yang mengunggulkan Manchester United untuk juara musim ini. Skuad yang dimiliki Sir Alex Ferguson ini jelas menjadi alasan utama. Dibanding dengan pendahulunya, tim kali ini termasuk yang paling “biasa-biasa sajaâ€.
Semenjak menghilangnya Cristiano Ronaldo dan Carlos Tevez, skuad United memang masih belum lagi diisi oleh bintang dengan level serupa. Yang ada justru anak-anak muda –dan juga beberapa orang tua- yang bahu membahu mencoba menjaga tradisi juara United. Tidak cukup meyakinkan bagi banyak pihak.
Sekarang lihat kondisi United saat ini. Berada di puncak klasemen dengan 9 pertandingan tersisa. Unggul tiga poin dari sang rival terdekat, Arsenal. Meski masih harus menjamu Chelsea di kandang dan juga bertamu ke Emirates, posisi ini rasanya sama sekali tidak buruk.
Di Piala FA, laga semifinal super melawan sang rival sekota sudah menanti di Wembley. Melawan Manchester City jelas jadi tantangan berat bagi United untuk lolos ke final dan menambah banyak koleksi gelar mereka. Tapi dengan rekor pertemuan musim ini (1 imbang membosankan, 1 menang dengan gol spektakuler), United can fancy their chances.
Dan satu lagi… Liga Champions. Mungkin ini adalah satu-satunya ajang di mana United tidak begitu diunggulkan. Alasannya jelas. Masih ada Barcelona. Tapi laju Wayne Rooney cs. hingga saat ini masih belum berhenti. Terakhir mereka menumbangkan Marseille untuk memastikan satu tempat di perempat-final. Masih belum pasti melawan siapa, tapi yang pasti selangkah lebih dekat untuk merebut gelar keempat mereka di ajang ini.
Kesimpulannya, dengan pasukan se-pas-pasan sekarang, United masih punya peluang besar untuk mengulangi prestasi tertinggi mereka di tahun 1999. Meraih treble winner.
Apa yang istimewa dengan skuad United kali ini? Nyaris tidak ada. Hanya saja, entah bagaimana, setiap pemain mereka punya kemampuan dan kemauan untuk bersaing keras menghadapi tim manapun di kondisi manapun. Tidak selalu tampil baik tentu saja (kalah dari Wolves di Liga dan kemenangan susah payah atas Crawley Town di Piala FA bisa menjadi contoh), tapi tim ini tahu bagaimana caranya menghadapi tekanan yang muncul.

Dan kejeniusan Sir Alex pun rasanya masih belum mati dimakan waktu. Meski belakangan makin sering ngambek dengan wasit –karena sudah menua, perhaps?- tapi kemampuan melatihnya sama sekali tidak bisa diragukan. Lihat taktik mengejutkannnya saat melawan Arsenal. Meletakkan 7 pemain bertahan di lapangan, tapi tetap bisa menyerang dan menang 2-0.
Dari sisi pemain, Edwin Van der Sar mampu menunjukkan alasan mengapa banyak sekali orang di United meminta dirinya untuk menambah satu musim lagi karirnya. Tidak pensiun dulu. Penampilannya seringkali luar biasa dan kerap membantu timnya meraih kemenangan. Suporter United pasti familiar dengan kondisi ini. Yup, Peter Schemeichel. 1999. Saat itu, kiper legendaris ini juga sedang menjalani musim terakhirnya dan tampil spektakuler. Hasilnya? Treble. Coincidence?
Lini belakang United sangat tangguh. Terutama jika Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic mampu tampil. Chris Smalling juga menjalani musim debut yang luar biasa. Di bek sayap, Patrice Evra merajai di kiri. Dan Rafael juga mulai bersinar di kanan. Sayangnya, bagian ini mulai dihantam masalah cedera belakangan. This has proven costly last season.
Di tengah, pengalaman Paul Scholes (meski masih belum bisa melakukan tackle dengan baik) dan Ryan Giggs (yang seolah tidak bertambah tua) masih menjadi warna yang kuat. Ditambah lagi dengan kedewasaan Nani yang semakin rajin menciptakan assist dan mencetak gol. Kelemahan hanya terlihat di sisi tengah lainnya. Terutama saat Darron Gibson, Darren Fletcher dan Michael Carrick tidak tampil terlalu konsisten.
Depa
n? Wayne Rooney-Dimitar Berbatov-Javier Hernandez. Tiga nama ini bergantian mengisi scoresheet United. Hernandez nyaris melupakan fakta bahwa ini adalah musim perdana bagi anak muda asal Meksiko ini. Penampilan gemilangnya seringkali menjadi penentu kemenangan bagi United. Bagi sebagai super-sub ataupun jika dimainkan sejak awal. Bukti teranyar? Dua gol yang diciptakannya ke gawang Marseille.
Meski memang tidak se-mentereng para pendahulunya (tidak ada nama-nama seperti Eric Cantona, David Beckham, Ruud van Nistelrooy atau tentu saja Ronaldo), tapi tim ini menunjukkan mereka sama sekali tidak bisa diremehkan. Kerja keras di lapangan ditambah strategi gemilang Fergie membuat United tidak menghilang dari persaingan musim ini.
Dan dengan akhir musim sudah di depan mata, kemungkinan treble juga semakin terbuka lebar. Masalah yang paling mengganggu sekarang adalah di lini belakang yang dihantam cedera. Tapi jika bisa teratasi segera, maka peluang menyaksikan sejarah terulang –dengan tim yang lebih “lemahâ€- ada di depan mata kita.
Pertanyaannya, mampukah United melakukannya?