
Tidak adil membandingkan keuangan City dan Blackpool. Di bawah kucuran dana Abu Dhabi, City menghabiskan ratusan juta Pounds musim ini saja untuk membeli pemain, sedangkan besaran dana yang dibutuhkan untuk membiayai seluruh skuad Blackpool hanya 3 juta Pounds. Jomplang.
Tapi sesungguhnya di atas lapangan hijau Blackpool lebih memikat dibanding City. The Citizens memang bertengger di tempat yang lebih tinggi di klasemen, tapi mereka sering membuat para penonton netral kebosanan dengan sepakbola yang mereka mainkan. Sebaliknya dengan Blackpool, tim dari pinggir pantai ini menawan hati banyak orang karena sepakbola jujur dan mengalir yang mereka mainkan.

Jikalau ada pembeda di antara kedua klub, pastilah itu kualitas individu para pemain bintang. Salah satunya adalah Mario Balotelli yang terakhir mencetak hattrick ke gawang Aston Villa. Tidak ada yang menyangsikan bakat besar Balotelli, tapi ego striker muda Italia ini terlalu besar sehingga ia kerap tampil arogan.
Padahal jika ia mau meredam sedikit saja, Balotelli bisa menjadi pemain yang luar biasa. Ia diplot Roberto Mancini untuk menggantikan Carlos Tevez sebagai striker tunggal di lini depan dan ia menunjukkan ia bukannya tidak mampu dengan trigol tersebut. Tapi memang ia butuh tetap menjejak bumi agar bisa fokus dengan permainan di lapangan saja.
Jika diturunkan, Balotelli akan menjadi tumpuan permainan di lini depan dengan didukung David Silva di belakangnya sebagai motor serangan. Di atas kertas City memang dijagokan tapi jangan pernah meragukan Ian Holloway yang membawa Blackpool menjadi tim penuh kejutan musim ini.