Apakah anak-anak asuh Sir Alex Ferguson ini paling bersinar di masa-masa terakhir musim? Wrong. Tidak seperti biasanya, di mana mereka terlihat paling sukses dan menerobos jauh di puncak pada bulan-bulan terakhir, untuk musim ini United bersinar di tengah kegelapan musim dingin.
Mulai pertengahan November hingga awal Februari. Saat itu sepakbola sedang dihantam berbagai macam hal-hal lain di luar Liga Premier. Mulai dari Liga Champions yang merepotkan, Piala FA, hingga urusan transfer musim dingin. Tapi ketika itu, efisiensi United meraih poin demi poin terbukti sangat vital untuk menentukan hasil di akhir musim.
Sebelum akhirnya menuntaskan formalitas dengan satu poin penentu di Blackburn pada hari Sabtu kemarin, United sudah menjalani negosiasi selama 36 pertandingan. Dan jika berbicara soal momentum, kata ini sama sekali jauh dari relevan dengan performa Manchester Merah belakangan ini.
Sebelum datang ke Ewood Park, catatan United tercatat yang terburuk sepanjang perjalanan mereka musim ini. Dalam 12 pertandingan terakhir, mereka tumbang di empat pertandingan, dan satu kali imbang. Kandas di kaki Wolves secara mengejutkan. Kemudian juga tumbang dari Chelsea, Liverpool, dan Arsenal. Itu adalah kekalahan United musim ini. Dan semuanya terjadi di fase-fase terakhir. Hanya 22 poin diraih. Tapi jumlah ini terbukti cukup. Apalagi ditambah fakta penampilan rival mereka –Arsenal misalnya- yang sering kehilangan poin di saat saat menentukan.
Sang juara bertahan, Chelsea, sepertinya mulai merasakan penuaan di dalam skuad mereka dan sempat kehilangan naluri membunuh pada fase tertentu di musim ini. Dan di jantung musim ini, United lah yang berhasil menemukan efisiensi dan momentum yang mereka butuhkan. Sementara Chelsea –dan juga para pesaing lain- terlihat terhambat. Anak-anak asuh Sir Alex ini mendapatkan 30 poin dari 36 yang tersedia sepanjang 13 November hingga 1 Februari. Dan, oh, mereka juga tidak terkalahkan.
Segala gangguan memang tersedia juga di masa-masa itu. Ada beberapa pertandingan Liga Champions yang muncul –tapi United sudah mengamankan 10 poin yang mereka butuhkan untuk lolos dari grup. Pertandingan Piala FA melawan Liverpool juga cukup mengganggu. Tapi tim ini tetap berhasil lolos dengan skuad yang sedikit berbeda.

Manajer lainnya akan kesulitan memanfaatkan segala sumber daya yang ia miliki untuk menghadapi berbagai tekanan seperti ini. Tapi saat ini kita berbicara tentang Sir Alex Ferguson. Kemampuannya meramu strategi dan menemukan potensi dalam diri berbagai pemain muda tidak pernah bisa diremehkan. Dan musim ini, ia membuktikannya lagi.
Di Old Trafford, tidak ada yang namanya first XI alias skuad utama. Dan para pemain tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari hal ini. Karena itu, mereka jelas menyadari posisi masing-masing. Penampilan Antonio Valencia pada hari Sabtu kemarin adalah yang ke 10 di Liga. Ini menjadikannya pemain ke 22 yang layak untuk menerima medali pemenang. Fergie berhasil menjaga timnya tetap satu –meski rotasi terus dan terus dilakukan.
Kemampuan transfer United di pasar memang seringkali mengejutkan. Kita bisa melihat mereka menghabiskan 30 Juta Pound untuk membeli Dimitar Berbatov. Setelah tiga musim, ia memang menunjukkan sentuha-sentuhan yang brilian. Dan kini duduk di puncak top scorer –sebelum diganggu Carlos Tevez. Tapi ia jauh lebih sering duduk-duduk di bangku cadangan menunggu saat untuk tampil.

Ada juga pemain-pemain muda yang masuk dalam radar scouting Fergie semacam si kembar Da Silva dari Brazil. Duet Rafael dan Fabio berkembang sangat pesat musim ini. Dan masa depan United bisa saja berada di tangan pemain-pemain generasi mereka berdua.
Dan berbicara soal transfer, kita tidak mungkin mengabaikan nama Javier Hernandez. Hanya 7 juta Poundsterling dan terbukti sangat vital untuk United musim ini. Seorang pemain muda yang sebelum masuk United nyaris tidak terlihat, kini menjadi amunisi yang sangat mematikan saat tampil menghadapi siapapun. Seorang idola baru di Old Trafford.
Siapa yang bertanggung jawab atas ini semua? Sir Alex Ferguson. Menentukan transfer, menentukan tim, memilih siapa pemain yang fit, menjaga performa. Semuanya dilakukan dengan sempurna olehnya di musim ini. Menunjukkan di usianya yang sudah mencapai 69 tahun, ia adalah orang yang paling tepat untuk memimpin sebuah tim meraih juara di Liga Inggris.

Dan inilah alasan sempurna mengapa momentum United diraih pada saat yang tepat. Pertengahan musim. Kehilangan sedikit momentum di akhir tidak berarti banyak karena fondasi yang sudah dibangun Fergie di timnya begitu kuat dan tidak bisa dikejar tim manapun. Ada sedikit kekhawatiran yang muncul, tapi semuanya terhapus begitu saja.
Satu lagi, United juga berhasil menembus final Liga Champions di tengah-tengah penurunan momentum mereka di Liga. Kebetulan? Who knows. Mungkin hanya Fergie dan semua staffnya di dalam ruang ganti Old Trafford yang tahu. Bagaimana mengendalikan tim ini dan mengarahkannya menjadi tim yang paling sukses di tanah Inggris –setidaknya hingga saat ini.