Manis Pahit Surya Lesmana

August 17, 2010 oleh Samuel Bukti
Dilihat sebanyak 22 Kali

Sudah banyak yang lupa dengan Surya Lesmana. Surya adalah salah satu pahlawan Indonesia di kancah sepak bola nasional. Dia keturunan Tionghoa, lahir di Balaraja, Tangerang, 20 Mei 1944 dengan nama Liem Soei Liang. Pada era 1960-an, nama Surya sangat disegani di blantika sepak bola Asia Tenggara dan Asia . Dia mengharumkan nama Indonesia di ajang Lion Cup 1970 di Singapura, juara Kings Cup 1969 di Thailand, juara Merdeka Games 1968 di Malaysia, dan juara Aga Khan Gold Cup 1966 di Bangladesh.

"Rasanya bangga sekali membela nama Indonesia di pentas Internasional," kata Surya saat berbincang-bincang dengan SUPERSOCCER di kawasan Senayan Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Surya, di eranya dulu, dia dan teman-temannya bangga bermain bersama tim nasional. "Kami tak memikirkan uang. Di dada kami hanya ada satu kata, yakni juara. Memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara melebihi segalanya," kata Surya yang memulai karier sepak bolanya di UMS (Union Makes Strength) Jakarta pada tahun 1958.

Kiprahnya bersama timnas selama 10 tahun (1963-1972) membuat Surya dilirik banyak klub, termasuk tim luar negeri. Perannya sebagai gelandang serang jempolan memikat hati pemilik klub Mac Kinan Hongkong. "Saya main di sana satu musim," kata Surya sembari menambahkan bahwa peristiwa penting dalam karier sepak bolanya itu tertoreh pada tahun 1974. Ini jelas kebanggaan bagi PSSI, mengingat sangat jarang pemain Indonesia di luar negeri.

Surya jadi pujaan sekaligus idola banyak anak-anak muda. Ke manapun dia pergi orang-orang mengerumuninya. Aksinya di lapangan hijau selalu ditunggu. Setiap membawa bola, namanya dielu-elukan.

Sayang, Surya tak mempersiapkan masa depannya dengan baik. Dia lupa menabung, sebagai bekal di hari tua. "Saya benar-benar sangat menyesal," kata Surya. Matanya tuanya sedikit berkaca-kaca. Ketika ketenaran sirna, hidup Surya benar-benar berbalik 180 derajat. Legenda sepak bola Indonesia seangkatan Mulyadi (Tek Tong) yang juga anak asuh pelatih kenamaan Indonesia Endang Witarsah (almarhum) hidup terlunta-lunta.

Sebelum mendapat bantuan rumah dari pemerintah, Surya menumpang di rumah temannya di kawasan Glodok, Jakarta Barat. "Saya tidur beralaskan kardus," katanya. Untuk bertahan hidup, Surya melatih anak-anak kecil di lingkungannya.

Meski getir, Surya mengaku tak mau menyerah dalam hidup. Dia juga tak menyesali kelalaiannya. "Buat apa disesali. Saya tak akan menyerah," pungkasnya.