Masalah Utama di Dalam Skuad Chelsea Saat Ini: Stagnansi

February 23, 2011 oleh Ethan Hajira
Dilihat sebanyak 15 Kali

Sebuah tim bisa saja terlalu terbiasa dengan satu dengan yang lainnya, hingga mereka menjadi stagnan. Ada sesuatu dalam line-up Chelsea yang terlihat sama sekali tidak bisa memenangi pertandingan melawan Everton di Piala FA kemarin. Mereka akhirnya tumbang dalam adu penalti. Meski semalam berhasil ‘bangkit’ dengan mengalahkan FC Copenhagen 2-0 di ajang Liga Champions, tapi jelas terlihat ada masalah di tim ini.

Banyak yang menyebut permasalahan Chelsea adalah soal umur. Banyak pemain mereka yang sudah menua dan menurun. Really? Jika kita melihat rata-rata umur pemain tim London Biru ini, yang muncul adalah angka 28 tahun. Sedikit lebih tinggi dari rata-rata pemain EPL memang. Namun masalah sebenarnya lebih pada ketergantungan mereka yang berlebihan pada sekelompok pemain yang sudah bermain bersama untuk waktu yang sangat lama.

Jadi, kita bisa melihat meskipun Frank Lampard sudah sembuh dari cederanya dan kembali mampu menguasai bola di tengah lapangan, Chelsea tetap terlihat kehilangan sentuhan berbahaya. Apalagi ditambah penampilan Didier Drogba yang jauh dari standar tingginya setelah dihantam malaria musim gugur silam. Umur mereka berdua tidak jauh berbeda. Tapi stagnansi tidak diukur dari tahun para pemain ini lahir. Ancelotti seharusnya cukup tahu mengenai hal ini, klubnya yang dulu –AC Milan- juga mengalami hal yang nyaris sama. Sekumpulan pemain tua yang sudah bermain bersama begitu lama.

Menjaga para pemain untuk tetap tampil baik adalah sebuah pencapaian tersendiri. Tapi menjaga kengototan mereka untuk mendapatkan sesuatu adalah satu tantangan lain yang jauh berbeda. Delapan dari starting eleven yang diturunkan pada hari Sabtu kemarin sudah berada di Chelsea lima tahun atau lebih.

Sebagian besar dari mereka sudah melewati hal-hal yang besar dan berat. Kekalahan adu penalti di Final Liga Champions tahun 2008 dari Manchester United sudah cukup memukul mereka. Tahun selanjutnya, pukulan semakin keras setelah keunggulan mereka di babak semifinal gugur di menit terakhir setelah Anders Iniesta mencetak gol away penentu bagi Barcelona, yang hanya bermain dengan 10 orang di Stamford Bridge.

Semua pesepakbola yang sudah menjalani hal semacam itu hanya akan membuatnya semakin ingin memenangi Liga Champions. Sebuah tugas yang makin lama semakin sulit. Tahun lalu mereka terlempar dari babak 16 besar saat kalah home-away dari Inter-nya Jose Mourinho. Pelatih yang sebelumnya mereka puja-puja di The Bridge.

Perjalanan ini mungkin bisa diubah sedikit di musim ini. Terutama karena mereka ‘hanya’ berhadapan dengan FC Copenhagen. Dan kemenangan away semalam menjadi salah satu kelegaan tersendiri. Masuknya Fernando Torres menjadi sedikit bantuan, meski –lagi-lagi- Nicolas Anelka yang mencetak gol penentu.

Justru masalah paling utama mereka saat ini adalah di Liga Premier. Chelsea terpuruk di peringkat lima klasemen sementara. Yang artinya, masa depan mereka di Liga Champions musim depan masih sangat kabur. Kehadiran Torres dan David Luiz memang diharapkan menghilangkan stagnansi yang muncul. Tapi sejauh ini belum terlihat dampaknya.

Tidak seperti pada pesaing lain, ambisi Chelsea kini sudah diminimalkan menjadi hanya ingin mencapai posisi keempat di Liga. Torres kini dilihat sebagai seorang penerus Drogba, bukannya partner. Namun kerja sama antar keduanya untuk tiga bulan ke depan seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal. Mereka juga bisa memanfaatkan posisi yang sudah dianggap di luar zona Liga Champions menjadi keuntungan mereka. Sebuah hadiah yang diincar banyak pesepakbola di dunia.

Copenhagen sudah. Chelsea masih butuh pembuktian di Liga. Dan partai melawan Manchester United tanggal 1 Maret nanti akan menjadi ajang penting apakah stagnansi mereka sudah mulai terobati.