Queens Park Rangers (QPR), Norwich City, dan Swansea akan memasuki pertarungan level elit musim depan. Suara mereka di jendela transfer memang tidak terlalu terdengar. Tapi tim-tim promosi selalu menarik untuk dilihat kiprahnya. Kita tentu ingat bagaimana Blackpool yang mengawali musim lalu dengan hebat –walaupun akhirnya kembali harus terpuruk.
Dimulai dengan sang Juara Championship musim lalu, QPR. Kembalinya tim ini ke Liga Premier bukan tanpa kontroversi. Setelah memastikan diri jadi juara, tim ini bahkan masih belum memastikan apakah mereka lepas dari tujuh tuduhan yang diberikan oleh FA atas kasus Alejandro Faurlin di tahun 2009. Bahkan mereka terancam dikurangi poin.

Beruntung, tuduhan yang akhirnya mampir ke klub ini hanya tersisa dua. Dan mereka pun harus membayar denda 1,43 Juta Dollar. Gelar Championship tetap aman berada di genggaman klub ini.
Kontroversi tersebut tidak menutup fakta bahwa QPR memanglah tim terbaik yang ada di divisi tersebut sepanjang musim lalu. Mereka mendapatkan poin dari 87 persen pertandingan, dan hanya kehilangan posisi puncak dua pekan. Memenangi lebih dari setengahnya dan yang lebih istimewa lagi, ada catatan 54 persen clean sheet yang jelas impresif.
Dan meskipun penampilan kiper Paddy Kenny menjadi salah satu elemen penting. Tapi sepakbola QPR sebenarnya lebih menarik dibandingkan segala statistik tersebut. Bahkan Arsene Wenger sempat memuji mereka.
QPR juga
punya pemilik yang cukup kaya –yang dengan berani menjanjikan sepakbola eropa di musim 2012-13. Meski begitu PR besar tetap ada di depan QPR. Pemain andalan mereka, Adel Taraabt menjadi incaran beberapa klub besar Eropa. Dan melihat kondisi yang berkembang belakangan rasanya sulit untuk mempertahankannya.
Pelatih Neil Warnock punya cukup dana, dan sudah melihat-lihat nama besar semacam Joe Cole-nya Liverpool, Jermaine Jenas-nya Spurs hingga pemain tengah Hull, Jimmy Bullard. Ini semua jelas persiapan jika pemain andalan asal Marokonya tersebut akhirnya hengkang.
Posisi Warnock sendiri juga tidak bisa dikatakan 100 persen aman. Ambisi luar biasa besar para pemilik membuat kursinya bahkan sempat disebut sebut bakal diisi Carlo Ancelotti. Lebih buruk lagi, kenaikan harga tiket 40 persen untuk musim depan sudah disetujui. Ini jelas tidak akan menyenangkan para fans.
Jadi apa yang bisa diharapkan dari QPR musim depan? Kejutan. Tim ini punya potensi untuk mempersulit setiap lawannya dan kemungkinan besar bisa bertahan. Tapi untuk lolos ke Eropa? Rasanya masih butuh pembuktian dan amunisi lebih.
Selanjutnya adalah sang Runner Up. Norwich City.
Tim in
i mengawali musim dengan tidak begitu baik. Tapi kemudian perlahan tapi pasti mulai bangkit dan menunjukkan ketajaman mereka. Norwich pun akhirnya melaju mulus dan lolos langsung ke Liga Premier dengan duduk di posisi kedua klasemen.
Jumlah 83 gol yang mereka ciptakan adalah yang tertinggi di Championship. Dan kecepatan rapid perkembangan mereka juga cukup impresif. Dua musim silam, mereka masih terdampar di divisi tiga dan dalam sekejap sudah menjadi salah satu nama di kasta tertinggi Inggris. Sesuatu yang hanya pernah dilakukan Manchester City 11 tahun silam.
David Fox, Andrew Surman, Andrew Crofts, Wes Hoolahan, Simeon Jackson, dan Grant Holt adalah beberapa nama yang menjadi andalan tim ini dalam menjalani musim brilian mereka. Kini pembuktian dengan level yang berbeda jelas dinanti.
Keberadaan mereka di Liga Premier masih sedikit diragukan. Kemampuan menciptakan gol mereka yang luar biasa akan menerima ujian berat. Belum lagi lini belakang yang harus ditambal. Norwich butuh kerja keras untuk bertahan di Liga Premier.
Dan terakhir, Swansea City.
Hanya delapan tahun setelah menghindari terbuang ke kasta non Liga, Swansea berhasil memenangi play-off mereka dan menjelma menjadi klub Wales pertama yang bermain di Liga Premier. Mereka juga menjadi klub terakhir yang pernah lolos di kasta tertinggi Inggris pada tahun 1980an silam. Pencapaian mereka kini jelas lebih besar dari saat itu.
Penampilan mereka sebelum mengalahkan Reading 4-2 di final playoff cukup stabil. Mereka mampu bertahan di enam besar klasemen sepanjang musim dan bahkan sempat punya peluang untuk lolos langsung. Hingga akhirnya, Swansea harus puas berada di posisi ketiga dan menghadapi play-off. Yang mereka hadapi dengan baik.
Mungkin mereka akan kehilangan satu atau dua pemain musim depan. Beberapa pindah klub, beberapa kembali ke klub lamanya. Termasuk mungkin Scott Sinclair. Mantan pemain muda Chelsea ini tampil impresif dan menciptakan 27 gol. Termasuk hattrick di Final. Sebuah catatan yang rasanya sulit untuk diabaikan.
Permaina
n Swansea adalah permainan mengalirkan bola. Dengan umpan-umpan pendek dan menguasai lebih banyak bola dibanding klub lainya. Sesuatu yang sepertinya akan tetap mereka pertahankan sebagai identitas klub ini di Liga Premier musim mendatang.
Bagaimana peluang mereka? Selain posisi mereka sebagai wakil dari Wales, Swansea punya sepakbola yang cukup atraktif. Dan ini akan mendapatkan tantangan luar biasa besar dari tim-tim papan atas. Kebebasan mereka menguasai bola jelas akan sulit diulangi, walaupun bukan tidak mungkin. Potensi kejutan jelas terbuka. Tapi pembuktian diri bahwa mereka bukanlah yo-yo team, harus dilakukan Swansea segera.