Villas-Boas menjadi kandidat kuat pelatih Chelsea, setelah Roman Abramovich menginginkan mantan staff pelatih Jose Mourinho itu kembali ke Stamford Bridge untuk menangani timnya.
Pasca kepergian Mourin
ho, nama-nama besar seperti Avram Grant, Luis Felipe Scolari, dan Carlo Ancelotti menjadi korban ambisi sang pemilik yang selalu menginginkan gelar setiap musimnya.
Villas-Boas adalah mantan staff pelatih Mourinho, ia memilih meninggalkan gurunya itu untuk mencoba peruntungan baru menjadi pelatih utama. Tepatnya pada tahun 2009, ia meninggalkan Inter Milan (tim yang waktu itu ditangani Mourinho) dan bergabung dengan tim yang berlaga di negara kelahirannya, Academica de Coimbra di Portugal.
Pada saat Villas-Boas masuk menangani tim tersebut, Academica berada di dasar klasemen tanpa kemenangan. Namun mereka mengadopsi gaya bermain yang baru, pasca ditangani oleh Villas-Boas, bahkan tim itu finish di posisi 11 klasemen akhir Primeira Liga, 10 angka di atas zona degradasi.
Ketika pelatih Jesualdo Ferreira meninggalkan Porto, Villas-Boas dihubung-hubungkan dengan tim yang bermarkas di Estadio de Dragao tersebut. Ia resmi diumumkan menjadi pelatih klub tersebut pada awal Juni 2010, ia memenangkan piala pertamanya yaitu Portuguese Supercup setelah mengalahkan Benfica 2-0.
Dan di musim pertamanya melatih klub tersebut, ia memenangkan Treble Winners (Primeira Liga, Portuguese Cup, dan UEFA Cup). Tak hanya itu, ia mencetak banyak rekor di musim perdananya menangani Porto. Ia merupakan pelatih termuda yang pernah memenangkan gelar Eropa, karena baru berusia 33 tahun.
Ia membawa Porto tak terkalahkan sebanyak 36 kali di semua kompetisi, memecahkan rekor gurunya – Mourinho – yang hanya mampu 33 kali. Porto merupakan tim yang tak terkalahkan dan menyamai prestasi Benfica di musim 1972-1973.
Karena prest
asinya yang mengkilap itu sejak menjadi pelatih utama, ia digadang-gadang menjadi ’Special One’ jilid 2 dan diharapkan bisa seperti sang guru. Karena umurnya masih sangat muda – ia bahkan seumuran dengan Frank Lampard dan Didier Drogba – ia punya masa depan yang sangat cerah. Oleh karena itu jangan heran, mengapa Roman kesengsem berat padanya dan sepertinya rela membayar klausul kontraknya di Porto demi memboyongnya kembali ke Stamford Bridge.
Sama seperti Mourinho, ia bukanlah mantan pemain bola profesional. Ia bahkan baru dua musim lamanya menjadi pelatih utama, namun ia menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menjadi pelatih yang menjanjikan kesuksesan bagi sebuah tim besar.
Apakah ini berarti ia akan kembali ke London Barat dan menangani The Blues musim depan? Chelsea memang membutuhkan pelatih yang bisa bertahan lama, dan Roman harus sedikit melonggarkan ambisinya untuk memenangkan gelar, karena segala sesuatunya tentu butuh proses.
Jika Villas-Boas jadi melatih Chelsea, ia akan membawa gaya baru pada permainan tim itu. Yang pasti, ia akan meregenerasi skuad Chelsea yang bahkan punya pemain yang satu umur dengan dirinya.
Apakah nama Hiddink akan meredup dari calon kuat kandidat pelatih The Roman Emperor seiring kehadiran anak muda yang punya masa depan cerah ini?