“Apakah Carlo Ancelotti akan segera dipecat?â€, kira-kira pertanyaan tersebut yang berada di dalam benak semua orang. Hal ini berdasarkan kebiasaan Roman Abramovich, sang pemilik yang tak segan memberhentikan pelatih yang dianggap olehnya gagal.
Musim ini, nyaris pasti The Blues harus puasa gelar, setelah musim lalu di bawah kepemimpinan Ancelotti mereka memenangkan Double Winner yang pertama. Ancelotti membawa Chelsea meraih gelar juara Premier League dan Piala FA sekaligus, dan ini adalah yang pertama kali di Stamford Bridge.
Banyak rumor yang beredar, beberapa waktu yang lalu Ancelotti dikabarkan akan kembali ke negaranya Italia, dan melatih AS Roma. Sampai kabar terbaru yang mengatakan bahwa Roman akan memanggil kembali Guus Hiddink dan Gianfranco Zola.
Sepertinya Roman mengabaikan sebuah kata yang sebenarnya tidak dimiliki oleh Chelsea, yaitu ‘kestabilan’. Sejak membeli Chelsea di tahun 2003, sudah berapa nama pelatih yang keluar-masuk menangani tim tersebut? Sebut saja Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Guus Hiddink, sampai terakhir Ancelotti.
Chelsea sepertinya harus meniru Manchester United dan Arsenal, dua tim yang lama ditangani oleh pelatih masing-masing. Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger adalah contoh pelatih yang mampu membawa kestabilan pada tim yang mereka latih, dan ini merupakan hal yang penting.
Pergantian pelatih tentunya akan mengganggu kestabilan pada tim, misalnya saja kebutuhan dalam hal memilih para pemain, setiap pelatih tentu mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda. Masuknya pelatih baru hanya akan merombak komposisi tim, dan merusak skema permainan yang sudah mulai diadaptasi.
Roman juga harus mulai berpikir jangka panjang, karena segala sesuatu tak bisa diukur hanya dari gelarnya saja. Masa depan Ancelotti tentu akan menjadi pertanyaan di beberapa pekan ke depan, dan kepergian Ancelotti tak lain hanya akan menjadi bencana baru bagi klub tersebut. Mengapa?

Ancelotti adalah yang terbaik yang pernah dimiliki klub tersebut selama bertahun-tahun, ia menunjukkan dan memperlihatkan apa yang dibutuhkan oleh tim yang berasal dari London barat itu.
Memang ia masih sulit mencari solusi tentang Fernando Torres dan Didier Drogba, siapa yang harus dipilihnya untuk bermain. Atau sepertinya ia harus menemukan cara baru, bagaimana keduanya bisa dimainkan secara bersama dan efektif.
Sejak Torres didatangkan pada Januari lalu dengan harga 50 juta Pounds, Ancelotti berusaha untuk memadukan keduanya. Namun usahanya masih belum berhasil, dan kesulitannya ibarat harus memainkan dua penjaga gawang hebat sekaligus dalam satu tim, yang tak pernah mungkin terjadi.
Dan jika Abramovich masih bermimpi untuk memenangkan Liga Champion, sepertinya ia harus mempertahankan Ancelotti. Pelatih asal Italia ini sudah cukup terbiasa dengan piala tersebut, ia empat kali memenangkannya, dua kali sebagai pemain dan dua kali sebagai pelatih.

Setelah tercecer ke peringkat lima musim ini, dan tampil menurun sejak November silam, Chelsea belakangan mulai menemukan kembali sentuhannya. Mereka nyaris saja mengambil alih puncak klasemen kembali dari tangan United, jika saja mampu menang atas mereka di Old Trafford kemarin.
Hal tersebut juga harus diperhatikan, meski tak juara, tapi Chelsea menunjukkan karakter pantang menyerah di bawah asuhan Ancelotti. Dan jika Ferguson dan Wenger saat itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memenangkan sesuatu, Ancelotti mencetak sejarah dengan memenangkan dua gelar sekaligus di musim pertamanya.
Keuntungan dari memberikan pelatih waktu untuk membangun tim dan kekuasaan penuh, tentunya akan membawa hasil positif bagi klub tersebut.
Jika saja Abramovich mau mencobanya, mungkin impiannya untuk membawa Chelsea pada masa kejayaan akan terwujud.