Menghitung Hari Andre Villas-Boas di Chelsea

November 24, 2011 oleh Muhajjir Esyaputra
Dilihat sebanyak 55 Kali

Kedatangannya menimbulkan banyak kehebohan. Setelah musim lalu tampil luar biasa membawa sebuah tim Portugal bernama FC Porto meraih begitu banyak gelar, ada satu tim Inggris bernama Chelsea yang langsung kepincut.

Tanpa berpikir terlalu panjang –seperti yang juga dilakukannya saat membeli pemain semacam Andrey Shevchenko dan Fernando Torres- pemilik kaya Chelsea bernama Roman Abramovich mengeluarkan 13 Juta Pound untuk mendatangkannya ke Stamford Bridge.

Sebuah rekor tersendiri untuk seorang manajer. Apalagi dengan usianya yang masih 33 tahun. Kehebohan dan ekspektasi besar pun muncul dari segala penjuru. Apalagi sejarah menunjukkan dirinya belajar dari salah satu yang terbaik: Jose Mourinho.

Tingkah lakunya di lapangan dengan mudah ditangkap mata banyak orang. Ucapannya di luar lapangan juga masuk ke telinga para jurnalis dan dibaca banyak orang. Villas-Boas tidak butuh waktu lama untuk menjadi salah satu nama paling menonjol di Liga Inggris.

Sayangnya, this is all for the wrong reason.

Penampilan Chelsea di bawah AVB layaknya sebuah rollercoaster. Dalam beberapa pertandingan, mereka bisa menunjukkan potensi yang mereka miliki dengan tampil hebat dan menghantam siapapun lawan mereka.

Namun di pertandingan lain, moncong rollercoaster mereka melaju begitu kencang ke arah bawah dan membuat jantung para fans berhenti sejenak.

Hasilnya adalah sebuah rentetan hasil terburuk sepanjang Abramovich datang ke London. 4 kekalahan dalam 12 pertandingan saja. The Red Rom sudah memecat banyak orang dengan hasil yang jauh lebih positif dari itu.

Sebelumnya, AVB masih sedikit tertolong dengan penampilan pas-pasan Chelsea di Liga Champions. Namun semalam, mereka kembali harus merasakan pil pahit –yang mungkin akan terasa biasa karena semakin sering ditelan- kekalahan dari Bayer Leverkusen.

Jadi, apakah ini saatnya AVB untuk pergi?

Jika melihat level keburukan hasil yang muncul sejauh ini dan juga level kesabaran Abramovich, petaruh yang baik akan meletakkan uangnya untuk melihat orang Portugal ini meninggalkan The Bridge dalam waktu dekat.

Namun ada masalah bernilai 20 Juta Pound yang menjadi penghalang antara dirinya, Abramovich, dan pintu keluar Chelsea.

Kompensasi sebesar itu, ditambah juga angka 13 Juta Pound yang baru dikeluarkan untuk dirinya sekitar lima bulan yang lalu jelas membuat sang bos berpikir puluhan kali.

Kehadiran AVB sendiri di Chelsea bisa dibilang adalah sebuah pertaruhan besar. Layaknya perjudian di sebuah kasino, Abramovich memutuskan untuk meletakkan angka besar pada sesuatu yang terlihat bersinar –namun masih belum terbukti konsisten menang.

Villas Boas adalah seorang manajer muda. Usianya nyaris sama dengan beberapa pemain senior Chelsea –yang memang punya hobi menumpukkan pemain tua dalam skuadnya. Premis ini saja sudah cukup untuk meramalkan akan muncul masalah dalam diri The Blues.

Pengalaman yang dimilikinya masih sangat mentah dan tidak begitu banyak untuk menangani tim sekelas Chelsea. Sebuah tim yang memiliki orientasi hasil. Bukan pada proses. Inilah yang membuat nama-nama semacam Carlo Ancelotti, Luiz Felip Scolari, hingga bahkan Jose Mourinho harus rela terdepak.

Kembali lagi ke pertanyaan, haruskah AVB terdepak sekarang?

Segalanya akan bergantung pada kerelaan Abramovich untuk menuliskan angka besar tersebut di dalam cek-nya. Namun, sang manajer muda masih layak untuk diberikan kesempatan.

Justru ini adalah ujian sebenarnya bagi label ‘jenius’ yang didapatnya. Melewati fase mimpi buruk jelas menjadi salah satu syarat seseorang untuk menjadi jenius.

Sebelum musim ini dimulai, sempat ada artikel dari media Inggris yang mencoba memperkirakan berapa lama Andre Villas-Boas akan bertahan. Pertanyaan lebih tepatnya ketika itu adalah, “Apakah Andre Villas-Boas akan dipecat saat musim ini berakhir?”

Sekarang, rasanya pertanyaan itu harus diubah menjadi,

“Apakah Andre Villas-Boas bisa melewati setidaknya setengah musim di Chelsea?”