Pekerjaan Rumah Besar Bagi Manajer Baru Chelsea -Siapapun Itu

June 6, 2011 oleh Muhajjir Esyaputra
Dilihat sebanyak 27 Kali

Apakah saat ini ada hal yang lebih penting bagi siapapun saat melatih Chelsea selain berteman dekat dengan John Terry atau berusaha untuk selamat dari campur tangan level tinggi Roman Abramovich? Guus Hiddink pasti berpikir ada hal lain yang bisa didapat. Karena ia sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaannya di Turki demi fase keduanya di Stamford Bridge.

Insting memperlihatkan Hiddink mencintai masa tiga bulannya bersama Chelsea di tahun 2009 silam. Tapi ia juga merasa lega setelah akhirnya dilepas. Baginya, Liga Premier seperti sebuah ledakan. Pertandingan langsung datang terus menerus, pemain bahagia akhirnya bisa lepas dari Luiz Felipe Scolari dan ada Piala FA yang bisa dirayakan pada akhir musim.

Tapi satu hal yang juga terllihat, sepertinya Abramovich tidak begitu berniat menjadikannya manager full time. Kehidupan di Liga Premier terlihat sedikit di luar jangkauan pelatih yang selama satu dekade ini memimpin tim-tim semacam Korea Selatan, Australia, Rusia, dan saat ini Turki –yang hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Belgia hari Jumat kemarin.

Setelah pertandingan, ia berbicara pada pers dan memposisikan dirinya semakin kuat sebagai pengganti Carlo Ancelotti di Chelsea. Di depan nama-nama lain semacam Harry Redknapp dan juga Mark Hughes.

Untuk menyebut Hiddink sebagai calon terkuat untuk saat ini sedikit terlalu cepat. Siapapun bisa menjadi manajer tim London yang satu ini. Dan kemungkinan besar –jika diberi pilihan- Hiddink akan merasa lebih tepat untuk menjadi Direktur Sepakbola di klub tersebut. Di posisi ini ia mampu membantu dari balik layar dan tidak bersentuhan langsung dengan pemain-pemain semacam John Terry, Frank Lampard, John Terry, dan Didier Drogba.

Nama-nama lama ini begitu dominan di Chelsea. Ya. Mereka memang meraih tiga gelar liga premier antara tahun 2005-2010. Tapi setelah itu, Abramovich berubah menjadi sangat kejam. Pemecatan Ancelotti di Goodison Park bahkan sebelum ia melangkahkan kaki ke bus tim menjadi sebuah bukti yang jelas. Ingat, ini adalah nama yang membawa Chelsa meraih double-winning di musim sebelumnya.

Alasannya jelas. Eropa. Dengan begitu banyak kekayaan yang sudah dikeluarkan oleh sang billionaire Rusia ini, satu piala masih berlum tersentuh. Hiddink sendiri sempat cukup dekat dengan kemenangan. Tahun 2009, timnya tampil impresif di Eropa sebelum akhirnya dibuang oleh Barcelona dengan bantuan wait Tom Henning Ovrebo.

Tapi John Terry sudah mulai kembali menunjukkan dominasinya di balik layar Chelsea. Ia menyatakan tidak akan ada perubahan di lapangan latihan. Segalanya tidak akan berubah –siapapun manajer yang masuk nantinya. Ini sudah memotong setidaknya satu wewenang dari seorang manajer. Hal yang tidak bisa kita temui di klub lainnya.

Hiddink tahu ini yang akan ia hadapi. Di Stamford Bridge, kekuatan terlihat dominan di mana-mana. Kedekatan dengan Abramovich dan juga para petinggi, di mana kolaps pada musim dingin kemarin membuat tim ini terlihat sama sekali tidak bisa bangkit.

Siapapun yang akan menjadi manajer Chelsea musim depan tidak akan menghadapi kesulitan untuk memilih pemain yang akan dibuang. Nama-nama semacam Paulo Ferreira, Hilario, Jose Bosingwa, Nicolas Anelka, John Obi Mikel, Florent Malouda, Yuri Zhirkoz, dan Nicolas Anelka akan dengan senang hati dilepas. Sementara masalah ketajaman dalam duet Didier Drogba-Fernando Torres harus diselesaikan segera.

Untuk mengandalkan tim muda dan segar, sang manajer baru akan kesulitan melakukannya jika ia sering mendapat pemain baru tanpa persetujuan dirinya. Hadiah dari sang pemilik yang hanya memikirkan kepentingan dirinya.

Dengan campur tangan Abramovich yang begitu jelas, Chelsea sekarang menjadi klub yang tidak akan bisa menjanjikan posisi yang pasti dan aman bagi sang manajer. Orang yang mengisi pos ini nantinya hanya akan mencoba tantangan ini sebagai tes bagaimana mereka mampu bertahan hingga berapa lama sebelum akhirnya menerima cek dalam jumlah besar di akhir nanti.

Tidak akan ada unsur emosional yang muncul. Ikatan yang dibutuhkan untuk membawa sebuah klub menjadi lebih besar lagi. Sang manajer baru nanti akan menghadapi PR besar di Chelsea. Hiddink mungkin pernah melakukannya –tapi saat itu ia hanya seorang caretaker. Kali ini, jika ia benar terpilih, posisinya adalah manajer yang penuh tekanan. Ia harus mampu memimpin timnya di tengah begitu banyak orang yang ikut campur tangan di dalamnya. Sekaligus juga yang terpenting, ia harus mampu mengimbangi Roman Abramovich.

Siklus sukses lima tahun Chelsea sudah mencapai fase terakhir. Para pemain menua, penampilan mereka menurun, dan manajer mereka terus berganti. Siapapun yang akhirnya dipilih nanti akan jadi pilihan terpenting bagi klub ini di musim panas ini. Sebuah pilihan yang akan menentukan apakah Chelsea bisa bertahan di papan atas Inggris dan Eropa, atau tergusur karena keegoisan yang kerap muncul dari dalam tubuh sendiri.