Biasanya mereka melakukan evaluasi dari berbagai aspek, salah satunya adalah pemain-pemain yang ada di tim. Setelah bermain di putaran pertama, mereka me review satu persatu penampilan para pemain yang mereka punya. Apakah penampilan pemain mereka cukup memuaskan, atau malah sebaliknya.
Mereka juga melakukan persiapan untuk memasuki putara kedua, misalnya untuk belanja pemain. Atau sudah punya catatan setidaknya, pemain mana yang kira-kira cocok atau bisa membantu prestasi tim lebih baik dari putaran pertama.
Biasanya, yang lebih fokus mencari pemain-pemain baru untuk dimasukkan ke dalam tim adalah: tim yang berada di posisi paling atas, dan tim yang berada di posisi paling bawah. Mengapa?
Tim teratas tentunya mencari suntikan pemain baru untuk menjadi back up atau solusi apabila komposisi pemain yang mereka sudah punya menemui jalan buntu saat berada di lapangan, karena mereka pasti sudah cukup puas dengan kompisisi pemain yang mereka punya saat menjalani kompetisi di putaran pertama. Tentunya untuk meraih target, menjadi Juara.
Sedangkan untuk tim yang berada di urutan paling bawah, mereka mencoba mencari pemain-pemain baru untuk merubah permainan mereka yang pastinya tidak baik selama putaran pertama. Pemain baru diharapkan bisa menjadi solusi dan membawa timnya ke tempat yang lebih aman, tentunya untuk menghindari degradasi dan terlempar ke divisi utama.
Sedangkan untuk tim-tim yang berada di papan tengah, biasanya mereka tak terlalu bersemangat untuk belanja pemain, mengingat posisi mereka relatif sudah aman. Kecuali dari pihak tim menargetkan untuk mengejar pimpinan klasemen, tentunya beda soal.
Apakah belanja pemain bisa menjadi solusi dan bisa efektif untuk masing-masing tim? Biasanya, mayoritas tim itu mencari pemain depan untuk dibelanjakan. Karena pemain depan biasanya menjadi faktor kunci untuk meraih kemenangan, melalui gol-gol yang bisa mereka ciptakan.
Saat ini, beberapa pemain sudah bersiap-siap masuk di bursa transfer putaran kedua. Rata-rata dari mereka adalah pemain-pemain asing, karena pemain asing dinilai masih lebih berkualitas dari pada pemain lokal.
Kegagalan sebuah tim untuk mencapai target juga biasanya menyalahkan pemain asing yang mereka punya, menurut mereka kegagalan tim disebabkan penampilan pemain asing mereka yang jauh dari harapan.
Saat ini, Arema memimpin puncak klase
men sementara. Sedangkan berbanding terbalik dengan mereka, Pelita Jaya masih menjadi tim juru kunci dengan mengumpulkan poin paling sedikit. Apakah akan tetap seperti ini di akhir putaran dua yang akan baru dimulai Februari ini? Kita tunggu saja, hasil dari evaluasi dan kesiapan mereka menghadapi putaran kedua nanti.
Tentunya alasan semua tim melakukan review selama putaran pertama dan bersiap menghadapi putaran kedua adalah alasan yang tak jauh berbeda: PRESTASI.