Manchester United dan Arsenal kini menjadi calon utama. Setelah sempat terlihat nyaris semua tim bisa memenangi Liga ini –dan juga seolah tidak ada yang mau menang- kini United dan Arsenal sudah melaju berdua di puncak. Dengan selisih 4 poin antara keduanya.

Keberadaan United di atas memang sudah menjadi perkiraan banyak orang di awal musim. Meski tim mereka tidak sekuat sebelumnya, ada faktor-faktor penting di United yang membuat mereka selalu stabil duduk di papan atas Liga Premier. Dan setelah mengawali musim dengan biasa-biasa saja, kini tim ini justru duduk nyaman di puncak klasemen. Bahkan sempat menikmati rekor tidak terkalahkan yang berjalan cukup lama.
Strategi United masih tetap seperti biasa. Bermain menyerang dan terbuka, dengan pertahanan yang kuat. Keseimbangan di setiap lini ini menjadi keunggulan tersendiri. Mereka tajam di depan, dan juga kuat di belakang. Sisi disiplin juga pemain-pemain United tidak begitu buruk, sejauh ini mereka baru menerima 1 kartu merah dan 39 kartu kuning. Cukup untuk meletakkan mereka di posisi keenam klasemen fair-play.

Kondisi bertolak belakang akan muncul jika kita membandingkan tim ini dengan pesaing terkuat mereka, Arsenal. Di bawah Arsene Wenger, tim london utara ini dikenal sebagai sebuah tim yang memiliki sepakbola indah, passing antar pemain yang luar biasa baik, dan juga naluri menyerang yang luar biasa. Orang-orang akan heran saat melihat potensi talenta yang dimiliki tim ini jika dibandingkan dengan jumlah trofi yang mereka dapatkan di beberapa musim belakangan.
Jadi sepertinya Wenger memutuskan untuk menambahkan satu elemen lagi dalam setiap penampilan timnya: rough play alias permainan keras. Musim-musim sebelumnya, yang sering kita dengar adalah keluhan dari pemain Arsenal yang menjadi korban permainan kasar tim lain. Musim ini ceritanya berbeda.
Hingga detik ini, Arsenal sudah menerima ENAM kartu merah. Terbanyak di antara Liga Premier bersama West Bromwich Albion. Ditambah 41 kartu kuning. Di papan klasemen fair play, mereka terpuruk di posisi 15.
It doesn’t matter. Karena dengan penampilan seperti ini, mereka punya peluang untuk memenangi tiga gelar musim ini. Bahkan, mereka baru saja mengalahkan Barcelona di Liga Champions. Ini jelas jadi modal berharga bagi mereka untuk memecahkan telur gelar mereka yang sudah bertahan sejak tahun 2004.

Jadi, apakah bermain keras menjadi syarat utama untuk bisa bertarung meraih gelar di Liga Inggris? Yang jelas strategi ini memang menjadi pilihan banyak manajer. Mari kita lihat urutan lima tim dengan rekor disiplin terburuk:
20. Newcastle United (59 kuning, 1 Merah)
18. Aston Villa (55 kuning, 2 Merah), Manchester City (51 kuning, 4 merah)
17. Wigan Athletic (49 kuning, 4 merah)
15. Bolton Wanderers (45 kuning, 4 merah), Arsenal (41 kuning, 6 merah)
Jika melihat daftar ini, ada dua tim papan atas yang masuk di dalamnya. Arsenal dan juga Manchester City. Permainan keras menjadi modal mereka untuk bersaing. Yang terburuk? Newcastle juga menjalani musim yang cukup baik sejauh ini.
Ini jelas tidak menjadi patokan utama apakah sebuah tim bisa meraih gelar juara. Manchester United membuktikan mereka tidak perlu main kasar untuk memimpin klasemen. Namun jika melihat tren yang tercipta, terutama dengan dua tim yang mengejar mereka justru masuk lima terbawah dalam soal disiplin, rasanya permainan keras menjadi warna penting dalam persaingan di Liga Premier musim ini.
Jadi, apakah permainan ‘baru’ Arsenal ini bisa membawa mereka menjadi juara? Atau justru konsistensi Manchester United akan menghadiahi mereka gelar ke-19 yang diidam-idamkan? Atau malah bakal ada kejutan –which is very unlikely- lain lagi: muncul satu tim lain yang menjadi juara di luar dua tim ini?
11 pekan yang tersisa akan membuktikan segalanya. So let’s sit back and enjoy the show.
*penulis adalah mantan pemain sepakbola berdarah Inggris-Jepang. Tinggal di daerah Surrey, Inggris. Lebih memilih menulis sambil memakan fish and chips dari atas koran dibandingkan dengan sushi.