The Infidelity of John Terry

February 4, 2010 oleh Pangeran Siahaan
Dilihat sebanyak 16 Kali

Mr. Chelsea, Captain Fantastic, bagi suporter Chelsea John Terry adalah simbol kebesaran klub mereka. Sebagai produk jebolan akademi Chelsea, nama John Terry menjadi abadi saat ia memimpin The Blues menjuarai Liga Inggris untuk pertama kalinya dalam 50 tahun pada tahun 2005, dan mengulanginya semusim kemudian. Partnershipnya dengan Ricardo Carvalho merupakan salah satu duet paling tangguh di Premiership dan ban kapten tim nasional Inggris pun membungkus bisepnya tiap kali ia bermain untuk negaranya.

Membutuhkan waktu bertahun untuk membangun reputasi dan satu kedipan mata cukup untuk meruntuhkannya. John Terry, sang kapten tim nasional Inggris, mendadak merasa langit jatuh dan berharap bumi menelannya setelah kabar perselingkuhannya dengan bekas kekasih sahabatnya, Wayne Bridge, terendus media dan bocor ke publik. Veronica Perroncel, seorang model lingerie asal Prancis yang juga ibu dari anak Bridge, terlibat skandal asmara dengan Terry saat ia masih berstatus kekasih Bridge. Terry juga yang mengatur agar Perroncel melakukan aborsi saat hubungan gelap mereka berbuah kehamilan.

Awalnya Terry berusaha mencegah skandal ini bocor ke khalayak dengan meminta super-injunction kepada pengadilan Inggris. Dengan super-injunction, maka kabar ini tidak boleh dipublikasikan oleh media. Belakangan pengadilan mencabut super-injunction tersebut, media mempublikasikannya, dan ban kapten timnas Inggris milik Terry berada di ujung tanduk.

Dengan hanya beberapa bulan menjelang Piala Dunia, skandal seperti ini bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh negara yang terakhir kali menjuarai Piala Dunia tahun 1966 serta merasa tahun ini adalah momen yang paling pas untuk menjuarainya lagi. Masyarakat Inggris terbelah opininya antara mereka yang menghendaki ban kapten Terry dicopot dan tidak. Yang lebih keras malah berpendapat Terry seharusnya tidak dimasukkan ke dalam skuad yang akan berangkat ke Afrika Selatan.

Fabio Capello belum memutuskan nasib John Terry sebagai kapten Inggris tapi ia akan melakukannya segera. Tindakan Terry yang dengan gegabah berselingkuh dengan pasangan rekan setim (kala di Chelsea) dan sahabatnya sangat mungkin menyebabkan dirinya kehilangan respek di mata koleganya. Rekan setimnya di Chelsea dipercaya mendukung Terry sepenuhnya dalam krisis ini, tapi belum tentu ia akan mendapatkan dukungan serupa dari kompatriotnya di timnas Inggris, apalagi Wayne Bridge merupakan salah satu di antaranya.

Manajer Chelsea, Carlo Ancelotti, mengatakan bahwa ia hanya peduli performa Terry di lapangan dan kehidupan pribadi sang kapten bukanlah urusannya. Masalah tidak sesimpel itu bila menyangkut rekan-rekan setimnya. Terry jelas tidak akan mendapat simpati di tim nasional oleh rekan-rekan Bridge di Manchester City yang juga dipanggil Capello seperti Gareth Barry dan Shaun Wright-Philips. Bagaimana juga perasaan para pemain timnas Inggris lainnya seperti Wayne Rooney, Steven Gerrard, atau Rio Ferdinand bila mereka dipimpin oleh kapten yang bermain serong dengan pasangan rekan setimnya?

Kebetulan ketiga nama di atas disebut-sebut sebagai kandidat kuat penyandang ban kapten timnas Inggris selanjutnya jika Capello mencopotnya dari lengan Terry.

Tidak hanya ban kapten yang bisa lepas dari genggaman Terry, pernikahannya dengan Toni Poole pun sebelas duabelas. Tidak hanya sekali dua kali Terry mengkhianati Toni, tapi tercatat lebih dari DELAPAN kali Terry berselingkuh di belakang Toni, baik saat belum menikah maupun sesudah menikah.

Tidak heran jika nyonya Terry sekarang melarikan diri ke Dubai, Uni Emirat Arab untuk menenangkan diri sembari mengajukan gugatan cerai. Terry telah diberikan izin untuk absen dari tim selama beberapa hari untuk menyusul Toni demi menyelamatkan pernikahannya. Toni Poole yang berprofesi sebagai ahli kecantikan ini adalah kekasih Terry sejak lama, sebelum Terry menjadi meraih gelar kebintangannya.

Sebenarnya, daftar keliaran perilaku Terry tidak hanya terbatas pada urusan perselingkuhan.

Pada tanggal 12 September 2001, sehari setelah tragedi 9/11 yang menghancurkan World Trade Center di New York, Terry bersama Lampard, Jody Morris, dan Frank Sinclair, mengadakan pesta sampai mabuk di sebuah hotel dekat bandara Heathrow, London dan menjadikan tragedi 9/11 bahan ejekan kepada mayoritas tamu hotel yang berkebangsaan Amerika Serikat.

Pada bulan Februari 2002, Terry yang lagi-lagi mabuk tertangkap kamera sedang mengencingi gelas di sebuah bar sebelum melempar gelas tersebut ke lantai.

Pada 25 April 2004, Terry tertangkap basah berselingkuh dengan seorang wanita panggilan kelas elite yang bertarif 2000 Pounds per malam setelah bertemu dengannya di sebuah pesta. Terry tidak mengetahui sebelumnya bahwa wanita tersebut berprofesi sebagai penjaja cinta.

Pada 11 November 2005, keinginan seorang remaja 17 tahun untuk meminta tanda tangan John Terry berujung pada tindakan asusila keduanya di dalam mobil. Jenny Parker, nama remaja tersebut, mengaku bahwa Terry tak berhenti menggodanya. Ironis karena beberapa hari sebelumnya Terry berjanji pada Toni bahwa ia tidak akan berbuat serong lagi.

Yang teranyar adalah pada bulan Desember silam saat Terry ketahuan wartawan mengorganisasi tur ilegal di dalam stadion Stamford Bridge dengan biaya 10.000 Pounds per kepala.

Belum lagi reputasi keluarga Terry yang tercoreng karena ibu Terry tertangkap basah mengutil barang di supermarket sedang ayahnya juga ketahuan menjual kokain kepada wartawan yang sedang menyamar.

Kecuali bagi rekan setimnya di Chelsea, reputasi dan kredibilitas John Terry sedang berada di titik nadir.

Memang perilaku seks liar dan segala tindakan hedonistik tidak bisa dilepaskan dari para pesepakbola modern. Wayne Rooney misalnya, pernah ketahuan memakai jasa wanita panggilan yang puluhan tahun lebih tua darinya. Rooney dan teman-temannya di Manchester United, Nani, Anderson, dan Cristiano Ronaldo juga pernah mengorganisasi orgy bersama 4 wanita. Steven Gerrard juga bukan orang tanpa cela setelah ia menghajar seorang DJ sampai babak belur di sebuah bar di Liverpool. 

Bila dirunut lebih ke belakang lagi, salah seorang pemain paling berbakat dalam sepakbola Inggris, Paul Gascoigne, kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari jeratan alkohol. Begitu juga legenda Manchester United dan Irlandia Utara, George Best, yang gaya hidupnya tak jauh-jauh dari minuman keras (yang kelak merenggut nyawanya) dan wanita. Bekas kapten Arsenal, Tony Adams, harus keluar masuk rehabilitasi kecanduan alkohol untuk mengatasi masalahnya tersebut.

Tapi berselingkuh dengan pasangan rekan satu tim merupakan masalah yang berbeda. Kesampingkan urusan moral yang semakin lama semakin terkikis dari sepakbola modern, persatuan dan kesatuan tim sudah pasti akan goyah sesudahnya.

Simak contoh apa yang terjadi di Manchester United pada dekade 70-an dengan kejadian serupa. Tommy Docherty adalah manajer United kala itu dan sampai sekarang dianggap manajer tersukses nomor tiga di belakang Sir Alex Ferguson dan Sir Matt Busby. Tommy the Doc dipecat dengan tidak hormat dari kursi manajerial United setelah ia terbukti selingkuh dengan istri fisioterapis United, Laurie Brown. Pemecatan ini membuat kondisi United menjadi limbung (sampai sekian belas tahun United terpuruk sepeninggal Docherty sampai akhirnya Fergie mendarat di Manchester), tapi etika harus ditegakkan.

Bila membuang Terry dari timnas Inggris dirasa terlalu keras, maka pencopotan ban kapten dari lengan Terry rasanya bukanlah sesuatu yang berlebihan. Don Fabio Capello yang akan menentukan dalam beberapa hari ke depan.

Seburuk-buruknya keputusan yang akan diambil Capello, rasanya Terry tetap akan dimasukkan ke dalam skuad Piala Dunia nanti. Karena bagaimana pun, para pemain tidak akan bisa bermain dengan tenang di Afrika Selatan jika mengetahui Terry berada di Inggris bersama istri-istri mereka……