Yang Tersisa Dari Bursa Januari Yang Menggila

February 9, 2011 oleh Firman Prasetyo
Dilihat sebanyak 48 Kali

Pertunjukan itu bernama bursa transfer. Sebuah periode dalam siklus sepakbola yang selalu membuat para fans berdebar. Berita berseliweran hanya dalam hitungan menit. Faktual tidak lagi dipikirkan, selama itu aktual, berita tetap disebarluaskan. Rumor dan fakta hanya beda tipis.

Selain banjir arus informasi, uang yang berputar juga tidak kalah deras. Bursa kali ini mencatat rekor pengeluaran terbesar. Tercatat angka 225 juta Pounds sebagai nominal yang beredar di pasar pemain. Gila.

Jumlah tersebut meningkat berkali lipat dari bursa Januari tahun lalu saat pengeluaran “hanya” mencapai angka 30 juta Pounds sekaligus mengalahkan rekor Januari 2008. Saat itu jumlah total pengeluaran belanja pemain mencapai 175 juta Pounds. Jumlah ini jauh mengalahkan pengeluaran klub di liga papan atas Eropa lain macam Italia dan Spanyol.

Jika diteropong lebih jauh, 80% dari jumlah 225 juta Pounds itu sebenarnya hanya berkisar di empat klub saja, yaitu Chelsea, Liverpool, Aston Villa dan Manchester City. Yang lebih menarik lagi, angka itu digunakan hanya untuk menebus enam pemain saja. Jadi pada dasarnya, bursa kali ini bergerak sempit dengan hanya melibatkan beberapa klub saja.

Sepakbola memang sudah berubah. Kemampuan finansial beberapa klub yang diakusisi kekuatan uang dari luar Inggris –Chelsea dengan aroma taipan Rusia dan sumur minyak yang membiayai kas Manchester City- membuat harga pemain melambung tinggi diluar nalar. Kita bisa menemukan beberapa korban dari “insiden” di bursa kali ini.

Para pendukung Sunderland sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli tiket terusan dengan harapan melihat Darren Bent berkaus Merah-Putih. Sementara fans Liverpool, yang sudah sadar kalau mantan pujaan bernomor sembilan mereka tidak akan lama lagi tinggal di Anfield, tentu shock dengan kepindahan El Nino di paruh musim. Kekecewaan terbesar tentu bagi mereka yang biasa mengisi bangku tribun St James’ Park.

Bursa paruh musim adalah kesempatan bagi klub untuk menyetel ulang armada yang kebetulan sedang didera cedera sekaligus memperbarui kekuatan untuk meraih gelar di akhir musim. Tapi kini tidak. Uang telah berbicara lebih keras. Gampang saja untuk menuding aksi jor-joran klub untuk memperoleh nominal yang lebih besar di akhir musim. Ketakutan Chelsea tidak bisa finish di posisi kualifikasi Liga Champions sama besarnya dengan kekhawatiran Aston Villa akan terdegradasi di akhir musim. Berpartisipasi di kompetisi wahid Eropa dan bertahan di divisi teratas memiliki makna tersirat yang sama: pendapatan bagi klub. Uang, uang dan uang.

Sepakbola memang telah berubah.