Sebelum tahun 2011 berakhir, kondisi United sedang di atas angin. Kemenangan 5-0 mampu mereka raih secara berurutan. Siapapun yang dimainkan, sang juara bertahan mampu bermain tajam dan menunjukkan bahwa mereka siap untuk menjadi juara lagi.
Or so that it seems. Pada malam Tahun Baru kemarin, bencana menghantam Old Trafford. Kedatangan tamu peringkat paling bawah, Blackburn Rovers, United harus rela tumbang 2-3. Parahnya lagi, saat itu sang manajer kesayangan, Sir Alex Ferguson, sedang berulang tahun ke 70.

Peluang bangkit kemudian terbuka lebar saat mengunjungi kandang Newcastle United semalam. Wayne Rooney sudah kembali siap dimainkan setelah didenda. Newcastle penampilannya sedang turun. Panggung seolah terlihat siap untuk menyambut kembalinya Manchester Merah ke jalur kemenangan.
Hasilnya? Sebuah penampilan yang layak disebut medioker dan bahkan cenderung menyedihkan. Lini tengah United keteteran menghadapi rapinya permainan tuan rumah. Dan akhirnya harus mengakhiri pertandingan dengan kekalahan 0-3 sekaligus pemandangan yang lumayan suram ke masa depan.
Belum selesai mimpi buruk ini, United akan menghadapi Manchester City di Piala FA akhir pekan ini. Jika ada yang lupa, terakhir kali bertemu, City mampu menghantam tetangganya itu dengan skor 6-1… Di Old Trafford.

So it’s not looking good, eh?
Well. Bisa dibilang seperti itu. Secara permainan, konsistensi memang menjadi barang langka bagi United di musim ini. Mereka bisa tampil luar biasa dan mengalahkan siapapun di satu hari, dan tampil seperti sekumpulan pemain-pemain yang kebingungan di lapangan di hari lainnya.
Tentunya, modal semacam ini tidak cukup kuat jika mereka benar-benar ingin mempertahankan gelar di akhir musim nanti. Apalagi melihat performa City yang –dibandingkan kebanyakan tim lain- cukup konsisten. Bahkan, kini Tottenham Hotspur mengancam dengan hanya selisih tiga poin dan memiliki satu pertandingan sisa.

Tekanan berat berada di pundak Fergie dan para pemainnya. Mereka sempat memiliki momentum di akhir tahun kemarin. Dan tidak seperti biasanya, kali ini mereka menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Lebih parah lagi, mereka malah memilih untuk tenggelam dan menyulitkan diri sendiri. Meski masih di posisi kedua, jika terpeleset sedikit lagi saja, United akan dengan mudah terlempar.
Jadwal ke depannya juga cukup mengerikan. United masih akan menghadapi rival-rival gelarnya di kandang lawan. Emirates, Stamford Bridge, White Hart Lane, dan tentunya Etihad Stadium menanti mereka sepanjang sisa musim ini. Long and winding road it is.
Untungnya, ini masih bulan Januari. Yang United butuhkan hanyalah pelunakan hati dan gengsi sang manajer, serta kucuran dana beberapa juta Pound dari sang pemilik untuk menambal satu sisi yang kerap disebut-sebut menjadi masalah besar mereka di musim ini: lini tengah.
United merindukan Paul Scholes. Like it or not. Belum ada satu pengganti yang benar-benar sepadan di lini tengah. Anderson tampil layaknya Roller Coaster, Tom Cleverley masih muda dan sayangnya rentan cedera, Ryan Giggs sudah telalu tua untuk menyandang beban terlalu berat, Darren Fletcher tenggelam dalam virusnya, dan Michael Carrick bisa menjadi dewa di satu pertandingan, dan pajangan di pertandingan lainnya. Ravel Morisson dan Paul Pogba masih terlalu muda dan beresiko.

Mungkin membeli satu pemain bintang mahal tidak bisa menjadi solusi instan –Fernando Torres dan Andy Carroll sudah menjadi bukti yang luar biasa jelas- namun setidaknya, harus ada keinginan dan tindakan yang diambil oleh Fergie untuk menyelamatkan United-nya musim ini. Alarm emergency sudah mulai terdengar di sekitar Old Trafford.
Jika tidak ada yang dilakukan? Peluang Manchester United untuk mengakhiri musim tanpa gelar apapun –yap. Bahkan Europa League- akan sangat terbuka lebar.