Spurs adalah sebuah tim yang nyaris selalu muncul sebagai tim pengganggu empat besar. Permainan menyerang mereka selalu menghibur dan kerap menjadi sandungan bagi tim manapun di Liga Premier.
Hanya saja, mereka sering kekurangan satu hal penting untuk bertarung di papan atas: konsistensi. Musim lalu menjadi sebuah bukti. Meski tampil gemilang setahun sebelumnya dan lolos ke Liga Champions, anak-anak asuhan Harry Redknapp ini terdampar di papan tengah dan hanya mampu bermain di Europa League.

Alibi ketika itu adalah: Spurs tidak punya kemampuan –dan sumber daya pemain- yang cukup untuk membagi konsentrasi mereka antara Liga Premier dan Liga Champions. Jika melihat yang terjadi sekarang, rasanya alibi itu terbukti.
Musim ini, fokus The Lilywhites hanya Liga Premier. Setiap kali tampil di Europa League, Redknapp memutuskan memainkan para pemain muda dan lapis kedua. Hasilnya mereka terbuang dari fase grup. Namun positifnya, laju kencang mereka di Liga masih belum berhenti.
Mengawali musim dengan tidak sempurna –diwarnai dengan kekalahan 1-5 dari Manchester City- perlahan tapi pasti Spurs mulai menemukan permainan terbaik mereka. Dan perlahan tapi pasti pula merangsek naik ke papan atas klasemen.
Sekarang mereka sudah memainkan satu pertandingan sisa yang mereka miliki dan berhasil berbagi posisi kedua dengan Manchester United –hanya kalah selisih gol- dan terpaut tiga poin dari Manchester City. Mereka bahkan bisa berbagi posisi puncak jika menang dari Wolves akhir pekan ini dan City melanjutkan rekor buruk mereka belakangan ini.
Bagaimana ini bisa terjadi? Spurs tidak mengganti timnya terlalu banyak. Penambahan ada di lini depan dengan masuknya Emmanuel Adebayor. Juga di lini tengah dengan kehadiran Scott Parker. Tapi terbukti, tidak perlu banyak bongkar pasang pemain untuk mendapatkan konsistensi.
Kengototan Redknapp untuk mempertahankan Luka Modric pada bursa transfer musim panas berbuah manis. Hasilnya nyaris sama –atau bahkan mungkin lebih baik- jika dibandingkan dengan membeli seorang pemain baru. Modric tetap menjadi sosok berpengaruh di lini tengah dan melengkapi formasi hebat mereka. Siapapun yang diturunkan.

Lihat nama-nama ini: Gareth Bale, Rafael Van der Vaart, Aaron Lennon, Jake Livermore, Scott Parker, Giovani Dos Santos dan masih sederet lagi nama yang memang layak disebut sebagai bintang. Perpaduan solid merekalah yang membawa Spurs melayang tinggi hingga saat ini.
Pada awalnya, banyak yang meragukan kemampuan mereka untuk bertahan lama di papan atas. Karena jelas, ini bukan pertama kalinya Spurs tampil hebat di awal-awal musim dan terlihat menjanjikan –hanya untuk terhempas di penghujung musim.
Namun ada yang berbeda di musim ini. Spurs mampu jauh lebih konsisten dan sangat berbahaya setiap kali tampil. Siapapun lawannya, akan setidaknya merasa khawatir jika mereka mulai menyerang. Kecepatan dan ketajaman mereka menjadi sebuah senjata mematikan dan membuat Duo Manchester di puncak harus benar-benar memperhatikan perkembangan sang rival.
Kelemahan mereka? Lini belakang yang masih sering tampil tidak konsisten. Meski sejauh ini terlihat amat sangat lebih baik dibanding musim lalu. Hanya saja, dengan persaingan yang begitu rapat dan siapapun bisa mengalahkan siapapun, kelengahan semacam ini harus diminimalisir. Terutama jika Spurs ingin menciptakan kejutan terbesar musim ini.

Mampukah mereka? Jawabannya ada pada diri Bale dan kawan-kawan. Jika mereka mampu konsisten bermain, ditambah dengan sedikit (atau banyak) keberuntungan, bukan tidak mungkin sejarah tercipta setelah puluhan tahun berlalu tanpa gelar di Liga.
Jauh dari kata mudah memang, tapi mari kita mulai memasukkan Tottenham Hotspur dalam kolom ‘Calon Juara Liga Premier Musim 2011/2012”