• berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion

Mimpi Liverpool Kembali Ke Empat Besar

Jika anda pernah mendengar istilah Big Four di Premier League, Liverpool adalah salah satunya.

Namun dimana mereka kini berada? Finish di peringkat delapan mungkin tak pernah terbesit dipikiran para pendukung Liverpool, ya begitupun dengan saya. Terus terang saja. Bagaimana mungkin tim dengan torehan sejarah yang luar biasa seperti itu bisa terpuruk seperti ini? Apalagi dengan komposisi skuad seperti saat ini, mereka seharusnya mampu bersaing, setidaknya di empat besar, tempat yang biasa mereka huni setiap tahunnya.

Musim 2008-2009 mungkin adalah musim terbaik The Reds sepanjang sejarah kompetisi dengan format yang baru. Ya, tiga musim yang lalu mereka mampu finish di peringkat dua klasemen, hanya terpaut empat angka dari Manchester United yang menjuarai liga pada saat itu. Lalu dimana mereka setelah itu? Semusim setelahnya mereka menurun dengan sangat drastis. Liverpool finish di peringkat tujuh klasemen, dan membuat Rafa Benitez – pelatih yang membawa mereka memenangkan Liga Champion di musim perdana pada 2005 silam – akhirnya harus angkat kaki dari Anfield.

Mengawali musim 2010-2011, Liverpool memulai musim dengan optimis dan berharap bisa bangkit dari keterpurukan musim lalu. Masalah finansial yang mereka alami pun membuat penampilan tim juga cukup bermasalah. Di awal-awal musim mereka malah sempat menghuni zona degradasi, tempat yang tak lazim untuk tim semewah Liverpool. Masalah internal pun menjadi santapan media, ketika duo American, George Gillet dan Tom Hicks membuat klub itu harus berhutang lebih dari 200 juta Pounds. Alhasil para suporter pun berdemo, mengharapkan dua pemilik mereka itu pergi.

Singkat cerita, Liverpool terjual pada Fenway Sport Group pada Oktober 2010 dengan harga sekitar 300 juta Pounds. Namun karena tak konsistennya penampilan anak asuh Roy Hodgson – pelatih yang menggantikan Benitez – membuat sang pelatih hanya bertahan enam bulan saja di Merseyside. Pada awal tahun 2011, pihak klub pun resmi memutus kontrak Hodgson. Pemecatan Hodgson tak membuat suporter Liverpool bersedih, pasalnya yang menggantikannya adalah seorang yang memang ditunggu-tunggu kehadirannya. Ya, ia adalah legenda hidup klub tersebut, Kenny Dalglish.

Yang menarik adalah, Dalglish adalah orang yang dimintai tolong oleh Liverpool saat Benitez hengkang dari Anfield. King Kenny merekomendasikan Hodgson untuk menggantikan Benitez, namun pelatih yang dipilih olehnya umurnya hanya seumur jagung. Hal itu membuat Dalglish yang akhirnya ditunjuk sebagai pelatih dengan status caretaker. Pemain pertama yang didatangkan oleh Dalglish adalah Andy Carroll – yang sempat memecahkan rekor transfer Inggris – dengan harga 35 juta Pounds. Tak hanya Carroll, Dalglish juga mendatangkan Luis Suarez dari Ajax Amsterdam kala itu.

Di bawah asuhan Dalglish, Liverpool finish di peringkat yang lebih baik. Mereka mengakhiri musim 2010-2011 di posisi enam klasemen. Status Dalglish pun dipermanenkan, Liverpool memberikan kontrak selama tiga tahun pada sang legenda. Di musim panas 2011, Dalglish berencana untuk merevolusi skuadnya dan mendatangkan muka-muka baru. Sebut saja Jose Enrique, Stewart Downing, Charlie Adam, Alexander Doni, dan Jordan Henderson. Jika ditotal sejak kedatangannya, Dalglish sudah menghabiskan lebih dari 100 juta Pounds untuk merevolusi skuadnya.

Alih-alih mampu bersaing di papan atas, Liverpool terseok-seok dalam perjalanan mereka di musim 2011-2012. Cidera panjang sang kapten Steven Gerrard adalah salah satu masalah mereka, di luar masalah-masalah internal yang lain. Begitupun dengan absennya Luis Suarez selama delapan pertandingan karena penghinaan rasial pada Patrice Evra dalam sebuah pertemuan di Oktober silam yang juga menjadi salah satu penyebab kurang konsistennya penampilan Liverpool.

Pada Februari kemarin, Dalglish membawa Liverpool mengakhiri enam tahun puasa gelar mereka. Ya, Liverpool berhasil menjuarai Carling Cup setelah menundukkan Cardiff di partai puncak yang dihelat di Wembley melalui adu tendangan penalti. Sebenarnya Dalglish juga mampu membawa Liverpool mencapai partai puncak FA Cup, namun mimpi mereka untuk mengangkat trofi untuk yang kedua kali dalam satu musim digagalkan oleh Chelsea. Mereka takluk 2-1 dari anak asuh Roberto Di Matteo, di tempat yang sama.

Kegagalan memenangkan FA Cup serta kenyataan harus finish di peringkat delapan – peringkat terburuk klub selama 18 tahun – di Liga Inggris akhirnya membuat para petinggi Liverpool mengambil langkah berani, mereka menghentikan kontrak Dalglish dan melepas sang pelatih pergi. Banyak yang tak percaya mereka rela melakukan hal itu pada legenda hidup klub mereka sendiri, saya adalah salah satu orang yang terbengong-bengong ketika mendengar kabar tersebut. Mungkin pada saat itu saya akan lebih percaya jika saya melihat seekor anjing yang sedang mengajak saya berbicara dengan bahasa Inggris. Mungkin.

Kepergian Dalglish membawa duka mendalam bagi para suporter Liverpool, pasalnya Dalglish adalah salah satu orang paling berjasa di klub tersebut. Ada yang masih ingat terakhir kali Liverpool memenangkan gelar liga yang saat itu masih bernama Football League First Division di musim 1989-1990? Jika ada yang lupa, saya mengingatkan kembali bahwa itu sekitar 22 tahun yang lalu. Sebagian dari kalian mungkin memang belum dilahirkan. No offense.

Dalglish membawa timnya memenangkan gelar liga ketiganya kala itu. Ya, gelar ke-18 Liverpool, yang masih diagung-agungkan para suporternya – setidaknya sampai United merebut gelar ke-19 musim lalu. Lalu setelah dipecat apakah Dalglish dianggap gagal? Tidak juga. Setidaknya ia boleh berbangga karena sempat membawa Liverpool menjuarai Carling Cup  terakhir dalam sejarah. Wait! Jika ada yang beranggapan bahwa League Cup akan dihapuskan? Saya tegaskan, tidak!  Kompetisi itu akan tetap ada musim depan, namun akan berganti sponsor sehingga namanya akan berganti menjadi Capital One Cup. Bukan Carling Cup lagi. RIP, Carling Cup.

Pemecatan Dalglish membuat banyak nama dikait-kaitkan dengan kursi pelatih di Liverpool. Sebut saja nama Jurgen Kloop, Frank De Boer, Andre Villas-Boas, sampai mantan pelatih mereka, Benitez. Namun hanya nama Roberto Martinez yang nyaris bergabung dengan Liverpool, pelatih Wigan itu bahkan sempat terbang ke Amerika Serikat untuk berbicara dengan pemilik klub secara langsung.

Tak banyak yang akan menyangka nama Brendan Rodgers – yang sebelumnya pernah menolak tawaran Liverpool – yang akhirnya akan terpilih. Pelatih Swansea itu baru saja diresmikan sebagai pelatih Liverpool yang baru, setelah diyakinkan bahwa ia adalah pilihan pertama yang diminati oleh klub tersebut.

Rodgers memang bukan nama yang populer, penampilan terbaiknya adalah mampu membawa Swansea promosi ke Premier League musim lalu dan bertahan satu musim setelahnya dengan peringkat yang cukup memuaskan – setidaknya untuk klub yang berstatus promosi – peringkat 11 klasemen. Rodgers memulai karir sebagai pelatih di Watford pada 2008, sebelumnya ia pernah menjadi staff pelatih di Reading dan Chelsea. Ia kembali ke Reading setelah meninggalkan Watford, tepatnya di musim panas 2009. Namun ia gagal total, dan ia meninggalkan klub tersebut di akhir tahun yang sama.

Rodgers akhirnya resmi melatih Swansea pada Juli 2010 silam, ia mampu membawa Swansea ke babak playoff untuk promosi ke Premier League semusim setelahnya. Rodgers berhasil membawa Swansea mencicipi Premier League dengan label sebagai tim pertama dari Wales yang mampu menembus kompetisi tersebut. Dan setelah dua musim berada di Swansea, ia pun pergi dari Liberty Stadium karena resmi direkrut Liverpool.

Apakah penunjukkan Rodgers adalah pilihan yang tepat bagi Liverpool? Ia memang masih muda – 39 tahun – dan cukup berbakat, tapi ia belum punya pengalaman yang cukup untuk membuktikan kemampuannya. Realistis saja, Liverpool adalah klub yang jauh berbeda dari Swansea, dari sisi sejarah dan komposisi pemain tentunya. Entah apa alasan penunjukan Rodgers, yang jelas tugas berat kini diemban pelatih anyar itu untuk membawa Liverpool kembali berjaya, setidaknya dengan finish di empat besar musim depan.

Brendan, you don’t have to be afraid. Cause You’ll Never Walk Alone!

Belum ikutan main FM Super Soccer? Klik disini untuk ikutan bersaing dengan ratusan ribu manajer lainnya untuk menjadi manajer terbaik dan menangkan hadiahnya.