Curahan Hati Seorang Robinho
Robinho mengungkapkan bahwa pelatihnya di Manchester City gagal untuk mengerti dirinya dan menyatakan City adalah tempat yang mengerikan untuk hidup.
Walaupun kepindahannya menjadi rekor transfer di Inggris ketika ia didatangkan dari Madrid ke Manchester, Robinho akhirnya mengakhiri karirnya selama dua tahun di sana setelah pada akhir penutupan bursa transfer dirinya bergabung dengan AC Milan, setelah setengah musim kemarin dirinya dipinjamkan ke kampung halamannya di Santos.
Dengan kemampu
an yang dimilikinya, Robinho berjuang untuk beradaptasi dengan permainan di Inggris. Sebenarnya dirinya hampir saja bergabung dengan Chelsea, karena pada saat itu Chelsea dilatih oleh mantan pelatihnya di timnas Brazil, Luiz Felipe Scolari.
Robinho merasa Mark Hughes (pelatih yang mendatangkkannya ke City) dan Roberto Mancini tak memahami dirinya.
“Tak ada satupun dari Hughes dan Mancini yang mengerti saya. Mungkin mereka hanya percaya dari sisi olahraga semata, namun itu tak cukup untuk saya.â€, katanya kepada surat kabar People.
“Sangat minimnya kontak antara pemain dan klub, klub ini sangat mirip kantor (berlatih-pulang, bertanding-pulang). Saya seorang Brazil, dan saya tak akan memberikan penampilan terbaik saya apabila saya tak bahagia.â€, jelasnya.
â€Itulah masalah saya. Saya adalah pesepak bola yang spesial, saya harus bahagia ketika saya bermain. Itulah yang saya rasakan di Real Madrid, mungkin seharusnya saya tak meninggalkan Madrid.â€, tambahnya.
“Tujuan saya adalah Chelsea karena Luiz Felipe Scolari, namun tiba-tiba City muncul dan saya menerimanya. Saya tak memutuskan transfer tersebut. Kedua klub saling menghubungi, dan saya tak mengetahui hal itu, dan akhirnya Mark Hughes menghubungi saya dan menginginkan saya bergabung dengannya. Dialah yang menentukan kepindahan saya.â€, kata Robinho.
Awalnya penampilan Robinho
menjanjikan kesuksesan di Inggris, namun ketika rekan senegaranya Elano dan Jo yang gagal mempesona Hughes dan akhirnya pindah secara permanen dan sementara, Robinho mulai merasa tak nyaman ada di sana.
â€Awalnya positif, namun Inggris adalah negara yang keras, dan saya mempunyai masalah dalam beradaptasi. Mempunyai Elano dan Jo adalah sebuah bonus, mereka membantu saya untuk beradaptasi. Dan akhirnya Elano pergi, saya masih tak mengerti motivasi kepindahannya.â€, kenang Robinho.
“Saya tak mengerti mengapa orang-orang membicarakan kami. Kami memperlihatkan kualitas kami di tim, dan Elano dan saya adalah orang Brazil. Mungkin Hughes tak mengerti betapa baiknya kami untuk skuadnya.â€, sambungnya.
â€Setelah itu, Mark pergi dan saya tak merasa Mancini membuat saya yakin. Dipinjamkan ke Santos adalah solusi terbaik, karena apabila saya masih tinggal di City, mungkin saya tak akan bermain di Piala Dunia. Peminjaman itu sangat sukses. Saya mendapatkan kembali semangat saya untuk bermain sepak bola, memenangkan gelar dan mendapatkan tempat di tim nasional. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan, dan mereka ingin memperpanjang peminjaman saya, namun City telah merubah pemikirannya untuk menjual saya.â€, jelas Robinho.
Robinho mengakui, bahwa dirinya kecewa bahwa City gagal menjadi salah satu kandidat juara di Inggris selama dirinya berada di sana dan merasa bahwa suasananya tak bisa ditahankan lagi.
â€Ketika saya tiba, para petinggi City mengatakan kepada saya, bahwa dalam beberapa tahun kami akan menggantikan United, namun waktu telah berlalu dan tak ada yang berubah.â€, kenangnya lagi.
â€Manchester adalah tempat yang hebat untuk bermain sepak bola, namun tempat yang mengerikan untuk ditinggali. Pada saat musim dingin, cuaca, dan gelapnya malam. Sangat berat untuk pemain muda Brazil.â€, menurutnya.
â€Premier League adalah salah satu yang terbaik di dunia, tak perlu diragukan lagi. Stadionnya selalu penuh dan atmosfirnya luar biasa, namun tak semua pemain bisa bermain di Inggris. Karakternya bisa menyulitkan untuk seorang pendatang.â€
â€Stadion terbaik adalah Anfield dan Old Trafford karena sejarahnya, dan kenangan terbaik saya adalah gol pertama saya untuk City karena pada saat itu semua orang sangat senang kepada saya, dan semua dukungan fans City selama saya di sana.â€, tutupnya.
Dan Robinho kini telah pergi dari Manchester, Inggris. Kali ini dirinya mencoba peruntungan di klub yang memang mempunyai sejarah besar di Eropa dan Italia, Milan sepertinya bisa lebih bersahabat dengan dirinya.
Biasanya pemain Brazil cukup bersahabat dengan suasana di Italia, mudah-mudahan dirinya tak kecewa pada akhirnya bermain di sana.
Well, goodbye Robinho!
Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account elo (max 10 poin per hari untuk point komentar).Selebihnya komentar elo tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik di Collections Super Soccer. Belum terdaftar sebagai member www.supersoccer.co.id? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin supaya bisa cepat belanja.
Ulasan Lainnya
-
01.02.12 12:00
-
24.01.12 14:30
-
20.01.12 08:56
-
13.01.12 20:42
-
05.01.12 18:43






