Paul Scholes: The Ever-Ginger
Paul Scholes, sosok legenda United yang tidak kenal usia.
Evergreen adalah tumbuhan yang tetap berdaun sepanjang tahun.
Layaknya evergreen, permainan Scholes kebal pergantian musim, atau lebih tepatnya, perubahan umur.
Pada usianya yang akan menginjak 36 bulan November nanti, kaki yang melambat seolah tidak mempengaruhi kemampuan 'Scholesy' mendikte jalannya suatu pertandingan dari lini tengah. Umpan-umpannya masih terukur dalam hitungan cm, tendangan-tendangannya masih seakurat dan sekeras peluru kendali, dan tekelnya masih efektif dalam memancing wasit untuk meniup peluit.
Dengan segala konsistensinya tersebut, julukan Ever-Ginger cocok diberikan untuk Scholes, seorang rambut merah (seperti jahe) yang tetap merah sepanjang karirnya, mulai dari rambut, kualitas permainannya, hingga tentu saja warna kebanggaan satu-satunya klub yang dibelanya selama ini.
Penam
pilannya yang begitu dominan saat berjibaku dengan tim juara bertahan Chelsea di Community Shield dan pada pertandingan pembuka BPL minggu lalu melawan Newcastle kembali menegaskan keberadaannya di level tertinggi. Kedua kemenangan United tersebut adalah buah karyanya.
Gol pertama Valencia pada duel melawan The Blues dimulai dengan umpan lambung majestik sejauh 60 m yang tidak hanya jatuh tepat di kaki Rooney, tetapi membuat striker andalan United tersebut mampu menarik keluar John Terry dan Ashley Cole, sehingga tercipta ruang bagi Valencia untuk menerobos masuk.
2 umpannya pada partai perdana di Old Trafford musim ini melawan The Toon Army seolah berkata dengan genit kepada Berbatov dan Giggs, "tendang aku". Bola pun tak ayal, bersarang di gawang Newcastle.
Setelah 2 pertandingan tersebut, rasanya ajaib membayangkan bahwa kata-kata "Mungkin ini akan menjadi musimku yang terakhir" keluar dari mulut Scholes sendiri. Tapi itulah Scholes: tidak banyak bicara, obyektif, rendah hati, dan fokus pada sepakbola.
Tidak ada hingar-bingar tentang kehidupan pribadinya di tabloid, tidak ada wajahnya di iklan-iklan produk olahraga bernilai jutaan pound. Pemain kelahiran Salford tersebut lebih suka bertutur dengan kedua kakinya di lapangan hijau, di bawah panji klub yang dibela dan didukungnya dari kecil. Gabungan antara bakat dan kerendahan hati inilah yang telah menuai pujian setinggi langit bagi Scholes dari sesama pemain bola. Tidak tanggung-tanggung, seorang Zinedine Zidane pun pernah berkoar,
Scholes adalah pemain terbaik yang pernah saya hadapi. Ia pemain tengah terbaik generasinya.
Malah, mungkin karena sepakbola seolah bahasa yang paling fasih bagi Scholes-lah alasan kenapa dirinya masih haus untuk menang dan menggondol piala sebanyak mungkin. Usai pertandingan melawan Newcastle, Sir Alex Ferguson memuji ambisi tersebut,
Seseorang yang bisa bermain di usia seperti dia (Scholes) dan masih memiliki semangat seperti dirinya pasti dianugerahi dengan sesuatu yang spesial
Tapi tentu saja, keprib
adian semata tidak mungkin menjadi satu-satunya hal yang membuat Scholes masih eksis sebagai nukleus kreatif United hingga saat ini. Selain diberkahi teknik luar biasa, yang rasanya sudah cukup digambarkan melalui cuplikan kontribusi Scholes melawan Chelsea dan Newcastle diatas (serta ratusan umpan dan gol dari masa ke masa), perlu disorot juga keputusan Scholes untuk pensiun dini dari timnas Inggris pada usia 29 tahun, setelah Euro 2004.
Setelah dipinggirkan ke sisi kiri lapangan untuk mengakomodasi duet lini tengah paling mengecewakan sepanjang masa (Gerrard dan Lampard), Scholes memilih mengabadikan seluruh waktunya untuk klub. Hingga saat ini pun, performa Inggris terus mengecewakan di pentas internasional. Tiadanya 'kreativitas' kerap dikemukakan sebagai salah satu alasan dibalik penampilan buruk The Three Lions, sebuah kualitas yang jelas dimiliki Scholes dari atas ke bawah.
Capello pun menyadari kelebihan tersebut dan menawarkan spot di timnas Inggris di Piala Dunia 2010 kepada Scholes, yang tentu saja memilih untuk menolak tawaran tersebut.
Rugi untuk timnas Inggris, untung untuk United. Karena tidak harus bergelut bolak-balik antara klub dengan negara, khususnya untuk pertandingan-pertandingan persahabatan yang dibenci Fergie, Scholes masih relatif bugar dibandingkan pemain-pemain lain yang seumuran dirinya. Alhasil, bersama kompatriot sesama Fergie Fledlings-nya, Ryan Giggs, Scholes tetap kuat untuk beradu di tengah deru debu Liga Inggris untuk musimnya yang ke-17. Fenomenal.
To be honest, tahun-tahun yang tersisa bagi Scholesy mungkin sudah tidak banyak lagi, cepat atau lambat pasti dirinya akan gantung sepatu. Akan tetapi, dengan torehan 23 piala untuk United, dan keinginan kuat untuk menambah koleksi tersebut, rasanya masih ada asa tersisa untuk Scholes.
Yeah, katakan itu kepada Fulham minggu depan.
Atau kepada segenap rival United di Liga Inggris.
The Ever-Ginger is still kicking strong.
Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account elo (max 10 poin per hari untuk point komentar).Selebihnya komentar elo tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik di Collections Super Soccer. Belum terdaftar sebagai member www.supersoccer.co.id? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin supaya bisa cepat belanja.
Ulasan Lainnya
-
01.02.12 12:00
-
24.01.12 14:30
-
20.01.12 08:56
-
13.01.12 20:42
-
05.01.12 18:43







Ginan Rastafara 1 year ago
tua tua keladi
d'Saksono Poetro 1 year ago
1 year ago
Gede Yudhya Arsana 1 year ago
Wahyudi Sundjaja 1 year ago
Fachry Maulana 1 year ago
Akbar Maulana Nasution 1 year ago
1 year ago
Dham Dhamarr 1 year ago
Gilang Aditya Ramadhan Natanagara 1 year ago
Bisman Sibuea 5 months ago
Pongki Arie Soetrisno 2 months ago