Quo Vadis 4-4-2?
Formasi tradisional Inggris ini dikecam banyak orang karena ketinggalan zaman, terlebih usai kegagalan sensasional The Three Lions di Piala Dunia. Dengan skema lain yang lebih modern (terlebih berkat kesuksesan Barcelona dan Spanyol) seperti 4-2-3-1, masih adakah tempat untuk formasi 4-4-2? Jika diterapkan secara dinamis, Sir Alex Ferguson akan mengganggukkan kepala.
Inggris adalah 4-4-2 dan 4-4-2 adalah Inggris. Mereka adalah sepasang kembar identik yang sepertinya ditakdirkan bersama sejak formasi primitif macam W-M berevolusi menjadi sekarang ini. Di saat dunia terkesima dengan fluiditas permainan modern yang diperagakan Spanyol dan Jerman, Inggris masih tetap setia dengan formasi yang mengedepankan tenaga ini.
Di level Premiership, anda bisa mendapati hampir semua klub menerapkan formasi ini, terlebih bila manajernya orang Inggris. Alasan paling simpel mengapa manajer Inggris gemar formasi ini adalah karena para pemain Inggris dididik dalam skema ini. Itulah mengapa mereka sulit sekali melepaskan diri dari cangkang 4-4-2. Sama seperti mengapa pemain Indonesia sulit sekali meninggalkan formasi 3-5-2. Saat anda dibesarkan makan nasi, akan sulit untuk makan kentang saja.
Mereka yang melakukan revolusi strategi di Premiership, mereka adalah manajer-manajer asing yang membawa warna Eropa daratan ke ranah Britania. Arsene Wenger sudah berbelas tahun lamanya menyebarkan ajaran Eropa kontinental di ranah Inggris, yang tidak mengharamkan, tapi meminimalisir umpan-umpan jauh yang tidak perlu.
Ketika tiba di Chelsea, Jose Mourinho memperkenalkan 4-3-3 yang memulai trend baru di Premiership. Formasi yang tadinya dianggap ultra-ofensif ini ternyata bisa menawarkan stabilitas bisa dikamuflasekan menjadi 4-5-1. Itulah yang dilakukan The Special One, merubah Chelsea menjadi unit perang yang membosankan, tapi efektif. Begitu pula yang dilakukan Carlo Ancelotti sekarang. Dikenal sebagai seorang pecinta berlian (dalam arti formasi sepakbola), keteguhan hatinya akan skema tersebut mengakibatkan Chelsea menjadi tim yang atraktif musim ini.
Rafalution mungkin bukan istilah yang akan diterima semua orang, tapi sesungguhnya sebelum musim lalu yang berakhir tragis, Rafa Benitez adalah seorang yang gencar mengadvokasi 4-2-3-1 di sepakbola Inggris, sebelum demam formasi serupa melanda dunia usai Piala Dunia ini. Ia menaruh Xabi Alonso dan Javier Mascherano pada posisi gelandang bertahan yang memberikan jaminan pertahanan sekaligus distribusi bola secara bersamaan.
Jurnalis sepakbola ternama yang juga ahli dalam strategi sepakbola, Jonathan Wilson mempertanyakan apakah masih relevan untuk mempertahankan 4-4-2 dalam sepakbola dewasa ini. Wilson menjawab pertanyaannya sendiri dan menegaskan bahwa kunci utama kesuksesan 4-4-2 adalah kerapatan antara 4 pemain bertahan dengan 4 pemain gelandang yang akan merepotkan pemain lawan, sesuatu yang luput diperhatikan timnas Inggris kala mereka dihancurkan Jerman pada Piala Dunia silam.
Lebih lanjut Wilson mengatakan bahwa 4-4-2 bisa jadi barang basi jika implementasinya ketinggalan zaman. Saya bisa mengartikan ”implementasi ketinggalan zaman” itu seperti yang diperagakan Inggris di Piala Dunia: 2 gelandang tengah yang terlalu sibuk sendiri, 2 sayap yang berlari monoton menyisir sayap, serta penyerang-penyerang yang miskin suplai dari belakang.
Kenapa penting sekali bagi 4 gelandang untuk tetap rapat dengan barisan belakang? Karena itu akan menutup celah yang bisa dieksploitasi oleh pemain-pemain gantung yang dimiliki formasi yang lebih modern semacam 4-2-3-1. Mesut Ozil adalah pemain yang mengambil keuntungan itu pada Piala Dunia kemarin, atau Andres Iniesta saat Barcelona mempermalukan Manchester United pada final Liga Champions.
Manchester United menjadi menarik untuk diamati awal musim ini karena Sir Alex Ferguson kembali pada formasi 4-4-2 tradisional. Setelah pada musim-musim sebelumnya ia menggemari 4-5-1 atau variasinya. 4-4-1-1, Fergie mulai memilih 4-4-2 sebagai skema permainan timnya, ditandai dengan selalu diturunkannya duet ujung tombak di lini depan. Fergie mengambil untung dari Dimitar Berbatov yang mungkin bermain pada level terbaiknya di United, juga dari fantastisnya Paul Scholes di lini tengah.
Tapi bila dikaitkan dari kewajiban menjaga kerapatan antar lini, sebenarnya celah yang bisa dieksploitasi dari United cukup besar. Kedua sayap dan bek sayap United selalu naik jauh ke depan, meninggalkan 2 bek tengah dan 2 gelandang tengah yang jaraknya tidak terlalu rapat. United memang menang 2 kali dan seri sekali di awal musim ini, tapi pada pertandingan imbang 2-2 melawan Fulham itulah terekspos kelemahan mendasar 4-4-2: lubang lini tengah yang bisa dieksploitasi.
Anda yang menyaksikan pertandingan itu pasti melihat bagaimana Dickson Etuhu berulang kali melakukan penetrasi tidak terkawal ke wilayah permainan United. Etuhu bukanlah Ozil atau Iniesta, tapi mereka semua memanfaatkan celah yang sama.
Tapi yang membuat United menjadi unik adalah duo striker mereka yang gemar berada di posisi gantung. Wayne Rooney, Berbatov, bahkan Javier Hernandez sekalipun, mereka bukanlah penyerang tipe post-player. Mereka kerap turun ke belakang. Rooney senang sekali mengejar bola hingga ke sayap, sedang Berbatov menikmati bermain agak ke belakang. Jika Wilson mengatakan jarak gelandang ke belakang harus rapat, maka yang dilakukan Fergie adalah menjaga kerapatan lini depan dan lini tengah untuk meningkatkan daya gempur.
Manajer lain yang dikenal sebagai penganjur 4-4-2 adalah Roy Hodgson. Ia membawa tim biasa seperti Fulham hingga ke final Europa League musim lalu berkat formasi 4-4-2 yang disiplin, persis seperti yang dikatakan Wilson. Tapi mungkin ia tak akan bisa leluasa menerapkan formasi kesayangannya itu di Liverpool.
Fernando Torres adalah tipikal striker tunggal yang tak begitu apik bila dipasangkan dengan penyerang lain. Sinarnya tenggelam di Piala Dunia ketika ia disandingkan dengan David Villa. Hodgson menjajal 4-4-2 pada pertandingan Liverpool musim ini, memasang Torres di depan bersama David Ngog. Hasilnya adalah kekalahan 0-3 dari City dan lini tengah yang tidak bertenaga.
Liverpool sudah terbiasa bermain dengan 4-2-3-1 di bawah Rafa Benitez, dengan 2 gelandang bertahan berdiri di depan barisan pertahanan dan Hodgson sebenarnya memiliki sumber daya yang cukup untuk mengemulasi skema tersebut. Benar memang Javier Mascherano hengkang ke Barcelona, juga Alberto Aquilani yang gagal bersinar. Tapi Hodgson yang aktif di jendela transfer berhasil mendapatkan Christian Poulsen dan Rui Meireles. Keduanya berbeda karakter dengan Mascherano-Xabi, tapi cukup kompeten untuk membentengi lini tengah Liverpool sementara Steven Gerrard bisa berkonsentrasi menyerang.
Tottenham Hotspur adalah tim lain pengusung 4-4-2 dan bukanlah hal yang paling mengejutkan di dunia mengetahui Harry Redknapp adalah orang Inggris. Menjadi menarik apakah Redknapp akan mengubah skema tersebut menyusul kehadiran Rafael van der Vaart, seorang gelandang kreatif. Sejujurnya, saya tidak bisa melihat bahwa formasi baku Tottenham akan berubah dalam waktu dekat ini.
Sementara kita menunggu evolusi 4-4-2 pada klub-klub papan atas, anda juga masih bisa memanjakan mata dengan melihat bagaimana pecinta budaya klasik macam Sam Allardyce, Tony Pulis, atau Steve Bruce mengejawantahkan skema retro tersebut dalam pengertiannya masing-masing.
Komentari artikel ini dan kumpulkan poin di account elo (max 10 poin per hari untuk point komentar).Selebihnya komentar elo tidak mendapatkan poin. Poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik di Collections Super Soccer. Belum terdaftar sebagai member www.supersoccer.co.id? segeralah mendaftar di sini dan segera kumpulkan poin supaya bisa cepat belanja.
Ulasan Lainnya
-
01.02.12 12:00
-
24.01.12 14:30
-
20.01.12 08:56
-
13.01.12 20:42
-
05.01.12 18:43






