• berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion

Spirit Bowling

Akhirnya, La Nyalla Mattalitti terpilih sebagai Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) versi Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) lewat kongres luar biasa yang dihelat di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (18/3).

Setumpuk persoalan menanti La Nyalla, juga sembilan anggota Komite Eksekutif  periode 2012-2016. Tak hanya masalah dualisme kompetisi (ISL dan IPL), tapi yang tak kalah penting adalah mengangkat kembali harga diri tim nasional di kancah internasional, khususnya di kawasan Asia. Selain sembilan exco, La Nyalla bakal didukung Rahim Soekasah, Wakil ketua umum, yang juga menang mutlak di KLB PSSI KPSI. Rahim bukan orang sembarangan, setidaknya dalam dunia sepak bola nasional. Sudah hampir 30 tahun dia mengabdikan diri kepada kemajuan sepak bola Indonesia, baik di klub maupun tim nasional.

Siapa La Nyalla?

Nama lengkapnya La Nyalla Mahmud Mattalitti. Putra ketiga pasangan H Mahmud Mattalitti - Hj Fauziah lahir di Jakarta, 10 Mei 1958. La Nyalla tumbuh kembang di Surabaya, Jawa Timur, dari sekolah dasar hingga mahasiswa. La Nyalla lahir dari keluarga yang menjungjung tinggi ilmu pendidikan. Ayahnya jebolan Universitas Airlangga dan sampai masa hidupnya (1995) mengabdikan diri kepada universitas ternama di Jawa Timur itu sebagai pembantu dekan dan kepala biro administrasi umum.

La Nyalla sangat menyenangi dunia organisasi. Tahun 1990-an dia bergabung ke Pemuda Pancasila Jawa Timur. Keloyalannya terhadap PP menempatkan La Nyalla didapuk sebagai Dewan Pimpinan Wilayah Patriot Pemuda Pancasila Jawa Timur pada 2004. Ini sekaligus membawanya ke dunia politik praktis. Sayang, hasil Pemilu 2004 kurang menguntungkan bagi perolehan suara PPP.

Meski kalah pada Pemilu 2004, La Nyalla tetap maju lima tahun kemudian. Pada Pemilu 2009, dia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD pemilihan 1 (Surabaya - Sidoarjo). Lagi, La Nyalla gagal. Namun dia tak kecewa.

Di sepak bola, nama La Nyalla belum setenar Nurdin Halid, Nugraha Besoes, atau Arifin Panigoro. Di olahraga, La Nyalla berangkat dari bowling. Itu terjadi pada 2007. Dia menjabat Ketua Persatuan Bowling Indonesia (PBI) Jawa Timur. "Saya menjabat sebagai ketua sejak 2007 hingga 2011," kata La Nyalla. Menurut La Nyalla, spirit olahraga semuanya sama. "Orang berolahraga pasti ingin sehat. Itu spirit pertama kali. Kemudian dikaitkan dengan simbol untuk memperoleh supremasi. Untuk menegaskan bahwa kelompok yang satu lebih kuat ketimbang kelompok lainnya. Nah, baru dalam perjalanannya menyangkut masalah industri, terikat dengan masalah profesi. Di situ terlibat uang, baik itu sponsor, agen, dan lain sebagainya".

Mendapat kepercayaan sebagai Ketua Umum PSSI versi KPSI tak membuat La Nyalla besar kepala. Maka dari itulah, kata dia, kemenangan tersebut bukan sesuatu yang harus dirayakan. Bahkan, La Nyalla dan kawan-kawan tak mau buang-buang waktu. "Kami akan segera menggelar rapat exco".

Dari sekian Ketua Umum PSSI, La Nyalla, bisa dibilang, paling unik. Pada KLB kemarin tak satu pun perwakilan AFC dan FIFA yang hadir. Akan tetapi, La Nyalla tak mau pusing tujuh keliling. Cepat atau lambat, kata dia, pihaknya akan memberikan data dan fakta kepada AFC dan FIFA bahwa dirinya dipilih oleh anggota resmi PSSI. Terkait dualisme kompetisi, La Nyalla berjanji akan menyudahinya. Semua pihak, terutama kubu Arifin Panigoro akan diajak berdiskusi. "Saya juga akan mengajak kubu Nirwan Bakrie untuk sama-sama membangun sepak bola Indonesia".

Jalan masih panjang dan tak satu pun yang bisa memberi kepastian, apakah karut marut sepak bola saat ini segera berakhir. Namun, La Nyalla cs. hakulyakin semua persoalan bisa diatasi. "Sepak bola, menurut saya, bisa sangat sederhana, tetapi sekaligus bisa sangat rumit. Bergantung di mana kita berpijak dan memotretnya".

Sebelumnya, La Nyalla adalah Exco PSSI di bawah kepemimpinan  Djohar Arifin Husin yang menang lewat KLB PSSI di Solo, Juli 2011. Dalam perjalanannya, La Nyalla bersama tiga exco lainnya (Toni Aprilani, Roberto Rouw dan Erwin Budiwan) dipecat. Alasannya, keempatnya dinilai terlalu vokal mengkritisi keputusan kepengurusan PSSI. "Penyebabnya, karena Djohar Arifin cs. nyata-nyata melanggar statuta dan tidak menjalankan program kerja PSSI yang sudah ditetapkan di Kongres Bali".

Pembangkangan keempat exco kemudian mendapat dukungan dari Pengurus Provinsi PSSI di seluruh Indonesia. Mereka melebur dalam satu wadah bernama Forum Pengurus Provinsi (FPP) PSSI. FPP selanjutnya mendesak KPSI pimpinan Toni Aprilani untuk segera melengserkan Djohar Arifin Husin lewat KLB. Dan itu sudah terlaksana.