• berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion

Kita Begini, FIFA Begitu

Bagaimanakah sebenarnya posisi Indonesia di mata FIFA? Masuk hitungankah kita? Atau, jangan-jangan, kita merasa GR (gede rasa) sendiri, kalau Badan Sepak Bola Dunia itu benar-benar care terhadap sepak bola kita?

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) sama-sama punya pandangan sendiri. PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin jauh-jauh hari mengingatkan klub-klub yang memilih berseberangan agar tetap berada di bawah PSSI. Jika tidak, maka Indonesia terancam sanksi. FIFA memang memberikan batas waktu sampai 20 Maret agar dualisme kompetisi (ISL dan IPL) dapat diselesaikan.

Akan tetapi, konflik bukannya reda tapi malah kian panas. Kubu penentang Djohar yang tergabung dalam KPSI malah menggelar kongres luar biasa di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (18/3) 2012. KLB menetapkan La Nyalla Mattalitti sebaga ketua dan Rahim Soekasah sebagai wakil ketua umum. La Nyalla cs menampik undangan Djohar dan kolega untuk menghadiri Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya, pada hari yang sama.

Sebelum kongres, PSSI mengundang klub-klub ISL ke Hotel Crowne Jakarta, guna melakukan rekonsiliasi. Sayang, hanya Persib Bandung yang datang. PSSI dan KPSI boleh sama-sama mengklaim kalau mereka yang paling benar di depan FIFA, pun AFC. Nyatanya, baik FIFA dan AFC tak hadir di KLB KPSI atawa Kongres Tahunan PSSI. Bahkan, beberapa hari setelah KLB dan kongres, belum ada pernyataan resmi dari FIFA terkait agenda yang telah dilakukan Djohar cs dan La Nyalla cs. Kita menunggu, harap-harap cemas.

FIFA memasukkan Indonesia dalam rapat komite eksekutif di Zurich, Swiss, pada 29 - 30 Maret. Lagi, sebelum sanksi dijatuhkan, PSSI terus berupaya mewujudkan rekonsiliasi. Klub-klub ISL kembali diundang ke Hotel Crowne Jakarta. Tunggu ditunggu, nanti dinanti, tak satu pun yang menunjukkan batang hidungnya. PSSI kembali gigit jari. Klub-klub ISL menganggap, rekonsiliasi tak perlu lagi karena mereka tetap komit kepada hasil KLB.

PSSI versi KPSI berharap, FIFA segera memberikan sanksi. Alasannya, mereka telah mencabut mandat terhadap Djohar dan mendesak mantan pilar PSMS Medan era 1970-an segera mengundurkan diri. Tapi, FIFA, lewat hasil pertemuan 29-30 Maret sama sekali tak menjatuhkan sanksi. Badan Sepak Bola Dunia memberikan kesempatan lagi kepada PSSI untuk menyelesaikan konflik.

Sampai kapan?

FIFA memberikan kesempatan bagi PSSI hingga 15 Juni 2012. Jika tak selesai juga, demikian penegasan yang disebutkan dalam situs resmi FIFA, maka persoalan akan  diserahkan ke Komite Darurat FIFA untuk dijatuhi sanksi.

Sikap FIFA yang masih memberikan waktu, membuat kita bertanya: bagaimanakah sebenarnya posisi kita di mata mereka? Tak ada yang bisa menjawab, tak terkecuali PSSI dan KPSI. Seorang teman coba menganilis sikap FIFA. FIFA, kata dia, masih sayang sama Indonesia. "Rakyat Indonesia sangat menggilai sepak bola. Terbukti, setiap timnas bertanding di Senayan (Jakarta) atau di daerah lain, stadion pasti penuh. Penonton tak ambil pusing dengan kisruh di PSSI. Malaysia, Singapura, bahkan Thailand tak sefanatik kita. Inilah yang menjadi alasan FIFA untuk memberikan waktu kepada Indonesia. Dengan kata lain, kalau Indonesia kena sanksi itu sama saja dengan membunuh market yang sangat besar".

Alasan yang bisa diterima, setidaknya dengan logika sederhana. Setahun belakangan, di saat-saat konflik memanas, niat klub-klub raksasa untuk sowan ke Indonesia tetap tinggi. Dalam waktu yang tak lama lagi, Inter Milan, raksasa dari Italia, bakal pamer aksi di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tak hanya itu, klub-klub seperti Manchester United, Real Madrid, Arsenan, Inter Milan, dan Boca Junior bahkan sangat berminat mendirikan akademi sepak bola di Indonesia.

Kalau memang teman saya benar (semoga saja dia benar), maka bersyukurlah kita. Soalnya, dalam situaso genting saat ini, FIFA ternyata masih sayang sama Indonesia. Maka dari itulah, mereka masih memberi ruang dan waktu agar PSSI dan KPSI sama-sama rendah hati menyelesaikan konflik.