• berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion

Akankah Ronaldo Lepas dari Bayang-bayang Messi?

“Di tahun 1984, Michel Platini membawa Perancis menjadi juara Eropa. Di tahun 1986, Diego Maradona menjadi sosok kunci Argentina hingga berstatus sebagai tim terbaik di dunia. Di zaman tersebut tak ada perdebatan sengit untuk menentukan siapa pesepakbola terbaik di planet ini.” Begitulah ungkap Jason McKoy, seorang pelatih berlisensi UEFA, dalam sebuah tulisannya.

Dalam periode tertentu, memang ada dua pemain yang selalu dianggap sebagai pelaku terhebat di dunia bal-balan dalam suatu masa. Sebut saja Johan Cruyff dan Franz Beckenbauer ketika menjadi ikon sepakbola di tahun 1970-an. Mereka bahkan sempat beradu di panggung paling spektakuler, final Piala Dunia, pada tahun 1974. Pertarungan itu menjadi ajang pembuktian bagi dua tonggak tim nasional masing-masing. Hasilnya? Beckenbauer berhasil mengangkat trofi bergengsi tersebut.

Tetapi, Beckenbauer sempat mengeluarkan pernyataan saat membicarakan sosok pemain terbaik sepanjang sejarah Denmark, Michael Laudrup. Der Kaiser merasa Cruyff adalah orang yang pantas dianggap menjadi pemain terbaik di saat ia meraih trofi Piala Dunia. “Pada tahun 1960-an, Pele adalah yang terbaik. Pada tahun 1970-an, Cruyff. Pada tahun 1980-an, Maradona. Dan pada tahun 1990-an, Laudrup.”

Bergeser ke tahun 1980-an, ada Lotthar Matthaus dan Diego Maradona. Seperti Cruyff dan Beckenbauer, kedua bintang ini bertemu di final Piala Dunia pada tahun 1986. Matthaus mendapatkan tugas berat untuk menjaga ketat Maradona, yang sepanjang turnamen menjadi pemain paling berbahaya.

Jerman harus rela mengorbankan kreativitas lini tengah yang biasanya digalang oleh Matthaus akibat mencoba menahan maestro asal Argentina tersebut. Jerman bahkan sempat tertinggal dua gol sebelum sang gelandang kreatif sadar jika timnya butuh sentuhan magis darinya. Hasilnya? Die Nationalmannschaft mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Tapi, harapan Jerman untuk meraih gelar dunia ketiganya runtuh karena umpan Maradona kepada Jorge Burruchaga mengubah skor menjadi 3-2.

Sebagian besar pencinta sepakbola jelas akan lebih mengenal sosok Maradona. Namun, jika Anda tak tahu bagaimana sang legenda menghargai Matthaus, simak ungkapannya dalam bukunya yang berjudul Yo soy el Diego (Aku Diego): “Dia adalah rival terbaik yang pernah kutemui. Aku pikir itu cukup untuk mendefinisikan dirinya.”

Cruyff dan Beckenbauer serta Matthaus dan Maradona adalah pemain-pemain hebat di masanya. Bahkan, bisa dibilang sebagai pemain terbaik di dunia kala itu. Entah pengaruh akses informasi yang lebih mudah saat ini atau bukan, dahulu tak ada perdebatan berarti tentang siapa yang benar-benar hebat di atas lapangan hijau.

Kini, adu argumen soal masalah seperti ini muncul. Ada dua nama yang tak asing lagi di telinga kita yang menjadi objek perdebatan: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Tak akan ada yang meragukan kapasitas, kemampuan serta pencapaian seorang Ronaldo. Namun, pemain yang pernah merumput bersama Sporting Lisbon, Manchester United dan Real Madrid ini dianggap hanya akan dikenang sebagai pemain nomor dua di masanya. Mengapa? Messi jawabannya.

Lahir di zaman yang tidak tepat? Mungkin saja. Meski Ronaldo lebih dahulu lahir ke dunia, 5 Februari 1985, ia masih dibayang-bayangi oleh sosok seorang Messi, 24 Juni 1987, hingga saat ini. Jika terus seperti ini, bisa-bisa Ronaldo hanya diingat sebagai salah satu pemain hebat di generasinya. Tetapi, bukan yang terbaik.

Mari kita menilik salah satu rivalitas klasik di MotoGP, Valentino Rossi dan Max Biaggi. Padahal, saat masih kecil, poster Mad Max terpasang di dinding kamar sang rival masa depan! Karir Rossi dan Biaggi memang dimulai pada titik yang berbeda. The Doctor baru naik kelas ke MotoGP 500 cc di tahun 2000, dua tahun sesudah The Roman Emperor gagal meraih tahta juara karena kalah saing dari Mike Doohan dan Alex Creville selama dua tahun berturut-turut. Musim pertama kedua pembalap ini berada di kelas yang sama, Rossi memperkuat Honda dan Biaggi menggunakan Yamaha. Perseteruan mereka resmi dimulai pada tahun 2001.

Balapan seri pertama berlangsung di Suzuka, Jepang. Ketika itu Biaggi menyenggol Rossi hingga nyaris terjatuh. Rossi, yang tidak senang, mengekspresikan kekesalannya lewat acungan jari tengah saat berhasil menyalip Biaggi. Pada akhirnya, Rossi menjadi pemenang dan Biaggi harus puas di posisi ketiga. Di akhir kejuaraan, menjadi juara dunia di tahun 2001. Biaggi berkilah dengan menganggap kemenangan Rossi didukung oleh mesin Honda yang superior.

Benarkah? Salah. Rossi menggunakan Yamaha di tahun 2004 dan Biaggi, yang menggunakan Honda, tetap takluk. Tak kunjung juara di tahun 2005, Biaggi hijrah ke World Superbike pada tahun 2007. Rossi? Ia menjadi pembalap motor terbaik di dunia hingga saat ini dengan tujuh gelar juara MotoGP. Keputusan Biaggi bisa dibilang tepat karena ia menjadi juara World Superbike di tahun 2010 dan 2012.

Kembali ke masalah Messi dan Ronaldo. Apakah ini hanya opini sebagian pendukung Messi? Tidak. Legenda Swedia, Henrik Larsson, pernah merumput bersama Messi di Barcelona dan juga Ronaldo di United. Larsson sejujurnya memuji kedua pemain ini, namun ia yakin jika pria asal Argentina masih satu level lebih baik daripada pria asal Portugal.

"Aku tak berpikir jika mereka sangat berbeda, karena kedua pemain sama-sama sangat bagus. Ronaldo hanya kurang beruntung karena harus berada di masa yang sama dengan Messi. Dia sangat baik, tetapi Messi lebih baik. Orang yang memenangi Ballon d'Or dalam empat tahun terakhir adalah Messi."

Well, kami tak akan memberikan jawaban pasti soal siapa pemain terbaik sesungguhnya di era modern seperti sekarang ini. Kami hanya bisa memberikan sejumlah gambaran.

Kemampuan luar biasa milik Messi menghasilkan sebuah karya indah di atas kanvas hijau berwujud lapangan bagi para penikmat sepakbola. Siapapun yang sudah mengikuti olahraga ini sejak beberapa tahun terakhir seharusnya mengakui kehebatannya. Lalu kesimpulan mengenai siapa yang lebih baik turut melibatkan prestasi bersama klub. Dalam hal ini, Barcelona.

Apa benar Messi menjadi sebab dari seluruh pencapaian signifikan El Blaugrana atau justru klub asal Catalunya ini yang membuatnya tampak hebat? Jawabannya masih semu. Namun, kita bisa mengerucutkan opsi jawaban kepada dua orang gelandang terhebat dalam sepakbola modern: Xavi Hernandez dan Andres Iniesta.

Teknik, eksekusi, hingga rasa saling mengerti di antara mereka membuat Messi mampu menunjukkan bakatnya dengan maksimal. Berkat peran duo pemain penuh talenta asal Spanyol tersebut, Barcelona bisa mendominasi jalannya permainan selama 90 menit penuh walau tak selalu memenangi pertandingan. Tim luar biasa seperti tim asuhan Tito Vilanova adalah penyebab mengapa pemain seperti Messi bisa bersinar. Tak usah dipungkiri kalau pemain asal Argentina ini tak pernah bisa mereplika performanya bersama Barcelona di La Albiceleste.

Kualitas Ronaldo sebenarnya tak berbeda jauh dengan Messi. Hanya sikapnya yang lebih emosional dari sang rival membuat para pundit merasa dirinya tak lebih hebat dari Messi, seorang pembunuh berdarah dingin di depan gawang lawan. Ketika Ronaldo terlihat frustrasi tiap kali gagal melakukan sesuatu, Messi hanya akan keep calm and carry on.

Mari mengesampingkan masalah temperamen. Perbendaharaan skill Ronaldo lebih banyak daripada Messi. Pria Portugal ini menggunakan kedua kaki sama baiknya saat Messi lebih memilih untuk mengandalkan kaki kirinya. Pergerakannya, baik tanpa bola dan dengan bola, sama-sama mengagumkan, bahkan cenderung lebih kreatif dari Messi. Dia mampu melompat lebih tinggi dari pemain basket NBA dengan struktur tubuh yang mumpuni. Perbedaan gaya main Premier League yang lebih keras dengan permainan La Liga yang cenderung mengandalkan teknik tak membuat kemampuannya luntur. Belum lagi kemampuan eksekusi tendangan bebas mematikan yang arahnya sulit ditebak.

Namun, semua yang sudah dilakukan oleh Ronaldo hanya membuatnya lebih sering menjadi peringkat kedua dalam segala hal, apalagi Ballon d’Or. Ronaldo pernah memenangi gelar tersebut di tahun 2008 dan harus puas berada di bawah Kaka pada tahun 2007. Di tahun 2009, 2011 dan 2012, ia takluk dari Messi dan hanya bertengger sebagai runner-up.

Jika saja Ronaldo lahir lima tahun lebih awal, dia pantas untuk menerima bola emas tersebut lebih dari sekali. Ronaldo memang tidak beruntung karena bermain di masa yang sama dengan bintang fenomenal. Messi, yang dua tahun lebih muda dari Ronaldo, akan selalu memenangi perlombaan melawan pemain andalan Portugal ini.

Lionel Messi adalah ujung tombak dari Barcelona, para serigala yang berburu secara berkelompok. Sementara Cristiano Ronaldo adalah seorang serigala penyendiri yang sangat handal mencari mangsa. Selama kelompok tersebut masih ada, sang serigala penyendiri tak akan pernah menguasai hutan belantara.