Kekalahan Inter Atas Lecce: Bukan Hanya Karena Sneijder

January 31, 2012 oleh Muhammad Rezky Agustyananto
Dilihat sebanyak 22 Kali

Perjalanan luar biasa Inter sejak Desember lalu hingga pertengahan Januari ini akhirnya berakhir dengan menyakitkan. Setelah meraih tujuh kemenangan beruntun, dan delapan kemenangan dalam sembilan pertandingan terakhir, Inter akhirnya harus mengalami kekalahan, dan ironisnya, kekalahan itu datang dari Lecce, penghuni zona degradasi di klasemen sementara Serie A. Lebih mengenaskan karena Inter merupakan korban pertama yang dikalahkan Lecce di kandangnya sendiri.

Setelah 2,5 bulan tak terlihat dari daftar pemain starter Inter di liga, nama Wesley Sneijder akhirnya muncul sebagai starter di laga ini. Imbas dari kembalinya Sneijder pun terlihat: Claudio Ranieri harus mengubah susunan formasinya dari 4-4-2 yang mulai terus ia gunakan ketika mendapatkan kemenangan berturut-turut, ke 4-3-1-2 demi mengakomodasi sang playmaker dari Belanda yang memang nyaman berposisi sebagai trequartista, gelandang serang yang bergerak bebas di tengah lapangan dan berposisi di belakang dua striker.

Hasil dari perubahan formasi yang dilakukan oleh Ranieri ini rupanya tidak memuaskan. Inter, yang dianggap sudah terbiasa memainkan 4-4-2 harus membiasakan diri lagi dengan formasi 4-3-1-2 dengan Sneijder sebagai pusat permainannya. Akibat dari hal ini, Ranieri pun menarik keluar Sneijder di jeda pertandingan dan memasukkan Ricardo Alvarez, yang berarti mengembalikan formasi Inter ke 4-4-2. Sayangnya, Inter tetap gagal meraih angka di kandang Lecce.

Permasalahan ditarik keluarnya Sneijder ketika jeda pertandingan pun menimbulkan banyak spekulasi. Media pun ramai dengan pengakuan Ranieri, yang menyebutkan bahwa, “Saat ini kami lebih baik bermain dengan 4-4-2 dan inilah mengapa saya menarik Sneijder sehingga kami kembali ke sistem yang kami rasa lebih pas dengan kami. Sneijder perlu diberikan kebebasan untuk bergerak dan saya tidak bisa memaksanya bermain melebar.”

Apakah benar bahwa kekalahan Inter di pertandingan tersebut merupakan murni karena kesalahan taktik yang dibuat oleh Ranieri karena memaksakan masuknya Inter ke dalam skuad yang telah padu dengan formasi 4-4-2?

Well, jika melihat statistik yang hadir dari pertandingan ini, Sneijder sebenarnya tidak bermain terlalu buruk. Di babak pertama, ia jelas menjadi pusat dari penyerangan Inter. Sneijder membuat 42 umpan selama 45 menit, dan dua di antaranya merupakan umpan penting yang membuat Inter mendapatkan peluang di depan gawang Lecce. Akurasi umpan Sneijder juga tak terlalu buruk, sekitar 83%, dan ia pun mampu membuat satu shot on target dari tiga tendangan yang ia ciptakan.

Penggantinya, Riccy Alvarez, hanya membuat 13 umpan dan satu umpan penting. Gelandang dari Argentina ini pun membuat dua tendangan, dan tak ada yang tepat ke sasaran. Mungkin kurang fair jika statistik Alvarez dibandingkan dengan Sneijder, karena dua pemain ini memiliki peran yang berbeda; Sneijder sebagai trequartista, sementara Alvarez lebih seperti sayap kiri dalam sistem 4-4-2. Namun perbandingan statistik di atas setidaknya membuktikan bahwa Sneijder tak bermain terlalu buruk.

Permasalahan Inter adalah mereka harus beradaptasi dengan sistem baru lagi di laga melawan tim-tim yang lemah yang biasa bermain berhatan total. Buktinya, di laga pada Minggu kemarin, Lecce menaruh pemain-pemainnya di wilayah mereka sendiri dan hanya menyisakan dua pemain di depan. Hal ini jelas membuat Inter kesulitan untuk membuka peluang. Faktanya, dari 22 tendangan yang diciptakan oleh Inter di pertandingan ini, lebih dari 2/3 nya merupakan tendangan dari luar kotak penalti. Sebuah bukti bahwa Inter memang frustasi untuk menembus pertahanan ketat Lecce sehingga memutuskan untuk uji peruntungan alih-alih melepaskan umpan ke dalam kotak penalti, yang selalu kandas karena kesigapan para pemain belakang Lecce.

Sneijder, yang bertugas untuk mengkreasi serangan dan mencari celah agar para striker mendapatkan umpan yang pas untuk mencetak gol di dalam kotak penalti, jelas kesulitan dengan kondisi ini. Ketika dua striker Inter, Diego Milito dan Giampaolo Pazzini mendapatkan bola pun, keduanya kesulitan untuk mampu menciptakan peluang bagi timnya. Diego Milito, yang tengah bangkit dari penampilan buruk selama 2011 lalu, hanya bisa melepaskan tiga tembakan dan tak ada yang mampu menemui sasaran. Situs WhoScored sampai-sampai memberikan rating hanya 6.36 untuk Milito, kedua terburuk di antara sluruh pemain Inter yang bermain di laga tersebut.

Pazzini memang masih lebih baik. Eks striker Sampdoria ini mampu melepaskan empat tendangan dan dua di antaranya on target, namun ada masalah lain yang membuat Inter harus puas tak bisa meraih angka: permainan gemilang dari kiper Lecce, Massimiliano Benassi.

Kiper yang bertahun-tahun bermain di level bawah kompetisi Italia ini memang bermain luar biasa akhir pekan kemarin. Ia membuat enam penyelamatan penting yang membuatnya pantas mendapatkan predikat sebagai man of the match di pertandingan ini. Faktor kehebatan Benassi jelas merupakan salah satu faktor terpenting di laga ini, selain gol kemenangan dari Guillermo Giacomazzi, tentu.

Perubahan formasi karena harus mengakomodasi Sneijder di skuad Inter memang menjadi salah satu problem yang membuat Inter akhirnya harus puas terlempar dari posisi empat besar lagi di klasemen sementara Serie A. Namun kehadiran Sneijder bukan serta merta menjadi satu-satunya alasan kekalahan Inter. Faktanya, Inter memang kesulitan dengan strategi bertahan total ala Lecce dan karena faktor penampilan apik dari Benassi.

Ranieri mungkin harus mencoba untuk memasang Sneijder lagi di pertandingan lain untuk melihat apakah efek yang ditimbulkan dari kehadiran Sneijder ini tetap sama, terutama jika penyeimbang Sneijder di lini tengah, Thiago Motta, telah kembali dari cedera. Jika ternyata hasil yang ditimbulkan sama saja (atau lebih buruk), mungkin barulah kita bisa berkata, inilah saatnya Inter harus menjual Sneijder.