• berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion

Countdown Menuju Serie A: Part 4

Jangan membicarakan scudetto. Fokuslah merebut tiket Eropa!

Kami melihat mereka berpotensi merangsek ke papan atas. Berburu tiket Eropa adalah target yang logis dan realistis. Namun jangan bicara scudetto. Materi yang mereka miliki belum cukup untuk bersaing dengan Juventus, duo Milan serta Napoli.

Seperti apa wajah Udinese, Lazio, AS Roma dan Parma musim ini?

Udinese

Di era tahun 50-an, Udinese nyaris meraih scudetto. Namun kubu Udine masih harus mengapungkan mimpi dengan melihat AC Milan mengangkat trofi Serie A di akhir musim. Era tersebut menjadi catatan manis yang akan selalu diingat Zebrette sampai kapanpun. Musim lalu, mereka nyaris mengulang cerita yang sama. Mengakhiri musim di posisi ketiga, jelas menjadi pencapaian hebat Francesco Guidolin usai kehilangan trio maha penting Alexis Sánchez (FC Barcelona), Gökhan Inler (Napoli), dan Cristián Zapata (Villarreal CF). Terbukti, dengan pertahanan yang tangguh, Antonio Di Natale cs tetap tampil stabil bahkan mengakhiri musim setingkat lebih baik dari musim sebelumnya.

Namun gerogotan kekuatan kembali harus dialami klub yang memenangi Piala Intertoto pada tahun 2000 ini. Kekuatan utama lini belakang, Samir Handanovic memutuskan menerima pinangan Inter. Duo lini tengah, Mauricio Isla dan Kwadwo Asamoah terbang ke Turin bergabung dengan juara Juventus. Wonderkid Gabriel Torje terpaksa harus dipinjamkan ke Granada demi mengurangi kuota pemain non Uni Eropa.

Sebagai pengganti, Stadio Friuli akan kedatangan Marco Cassetti (AS Roma), Davide Faraoni (Inter), Maicosuel (Botafogo de Futebol e Regatas), Willians (Clube de Regatas do Flamengo), Allan (Club Deportivo Maldonado), Thomas Heurtaux (SM Caen) hingga Wojciech Pawlowski (Lechia Gdansk). Nama-nama yang kurang begitu berpengalaman di Serie A. Andai di play off Liga Champion, Udinese berhasil menemani Juventus dan AC Milan berlaga di Liga Champion, besar kemungkinan, dengan pembagian fokus dan terkurasnya energi, prestasi musim lalu sangat berat untuk diulang.

Player to watch: Mehdi Benatia

Lazio

Hengkangnya Edoardo Reja dan digantikan Vladimir Petković membuat keraguan akan kestabilan permainan Lazio mulai bermunculan. Track record eks pelatih Sion yang tak pernah menukangi big club bisa mempersulit perjalanan Miroslav Klose cs. musim ini.

Namun Claudio Lotito cukup bijak dengan tak terlalu melakukan bongkar pasang pemain. Nyaris, starting XI Padroni di Roma sama dengan musim lalu. Dengan cukup menjaga suasana kamar ganti dan terus memotivasi tim, debut Petković di Serie A bisa berjalan manis. Rekrutan seperti Ederson (Lyon) bisa membantu meringankan tugas Petković.

Player to watch: Ederson

AS Roma

Reuni I Lupi dengan Zdeněk Zeman mengundang romantisme akhir 90-an. Kala itu prestasi La Maggica nyaris tak ada. Di musim 1997–1998, Zeman memang mampu membawa Roma berada di posisi akhir nomor empat di bawah Juventus, Inter dan Udinese. Namun di musim selanjutnya, arsitek asal Republik Ceska harus melihat Lazio menjadi runner up sementara timnya melorot di posisi kelima.

Dikenal sebagai sosok kontroversial dan siap mencari musuh, musim ini Zeman sudah menyerang kubu Juventus dengan mengomentari hukuman skorsing Antonio Conte. Allenatore yang sukses mengantarkan Pescara menjuarai Serie B musim lalu mendapat banyak support dari manajemen klub. Tugas berat mengembalikan Roma seperti era Luciano Spalletti, Zeman diinjeksi beberapa amunisi anyar seperti Federico Balzaretti, Iván Piris, Mattia Destro, Panagiotis Tachtsidis, Leandro Castán hingga Michael Bradley. Dengan komitmen Daniele De Rossi untuk terus berada di Trigoria, kejar-kejaran posisi dengan rival Lazio bisa menjadi sajian menarik Serie A musim ini. Andai kembali gagal berpartisipasi di pentas Eropa musim depan jelas menjadi aib tak termaafkan bagi tifosi klub pemilik tiga trofi Serie A.

Player to watch:  Mattia Destro

Parma

Musim lalu, Roberto Donadoni menyulap Parma menjadi tim yang cukup mengerikan di paruh akhir kompetisi. Dari posisi rawan terdegradasi, Ducali nyaris meraih tiket ke Eropa. Hanyar terpaut dua poin dari Inter, kubu Ennio Tardini setidaknya bisa merayakan 'prestasi' mereka mengakhiri musim di posisi ke delapan.

Kini, Donadoni bisa leluasa mempersiapkan materi sejak awal, tak seperti musim lalu yang meneruskan tugas Franco Colomba di tengah jalan. Dengan rekrutan seperti Sotiris Ninis, Ishak Belfodil, Dorlan Pabón hingga Jaime Valdés seharusnya Parma bisa moncer tak hanya berkat andil pemain limpahan klub lain seperti musim-musim sebelumnya. Bukan begitu?

Player to watch: Dorlan Pabón