• berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion

Maradona dan Bola Plastik di Gang Sempit

El Pibe de Oro.

Saya tak akan pernah menggusur nama Diego Armando Maradona dari hati, lalu memberikan tempat kepada Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Mario Balotelli. Di hati ini hanya ada satu: Maradona.

Saya mengenal dan menyukai sepak bola di era Maradona. Pada 1980-an, ada sederet superstar selain Maradona. Ada Michel Platini, Zico, Karl-Heinz Rummenigge, Gary Lineker, serta Paolo Rossi. Tapi Maradona pengecualian, karena itulah dia dijuluki El Pibe de Oro. Si Anak Emas.

06 i

Maradona mencolong perhatian dunia kala tampil ciamik di Piala Dunia Junior 1979 di Jepang. Argentina mengukuhkan diri sebagai yang terbaik dan Maradona dinobatkan sebagai salah satu pahlawan kemenangan. Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, Maradona masuk skuad timnas senior. Dia bermain bersama pujaannya, Mario Kempes, sosok penting di balik kesuksesan Albiceleste merengkuh gelar pertama juara Piala Dunia 1978. Meski Argentina gagal mempertahankan gelar, aksi Maradona tak lepas dari pemberitaan media. Dan saya melahap semua berita tentang Maradona lewat koran lokal Medan, Radio Republik Indonesia, dan siaran olah raga TVRI.

Masih segar dalam ingatan, betapa senangnya saya tatkala ibu membelikan jersey Albiceleste dengan nomor punggung 10 bertuliskan Maradona, dari pasar loak bernama "Pajak Sambu". Saya tak sendirian. Teman-teman juga mengenakannya. Dengan jersey itu, kami, setiap pulang sekolah, siang atau sore, bermain sepak bola plastik di gang sempit yang tak jauh dari rumah. Sesekali, kami berjalan agak jauh, bermain sepak bola di lapangan mini dengan tiang gawang kayu yang berdiri agak miring. Bertelanjang kaki, dipanggang matahari dan diguyur hujan, mengejar, menggiring bola, membayangkan diri ini Maradona.

Argentina juara Piala Dunia 1986 di Meksiko, setelah menghempaskan Jerman Barat 3-2 di final yang berlangsung alot. Ketika itu, saya adalah seorang remaja berusia 15 tahun. Piala Dunia tahun itu memang milik Maradona. Dunia membicarakannya. Dia sangat dipuja di Argentina, tapi dicaci maki di Inggris. "Gol Tangan Tuhan" Maradona menghentikan langkah Tim Tiga Singa sampai babak perempat final. Gary Lineker cs. meninggalkan Estadio Azteca, Mexico City, dengan langkah gontai setelah ditaklukkan Argentina dengan skor tipis 2-1. Kemenangan yang sangat spesial bagi rakyat Argentina, menyusul kekalahan mereka dalam perang Malvinas dua tahun sebelumnya.

Tatkala menjadi pemain, Maradona alegori Raja Midas dalam mitologi kuno Yunani. Midas mampu mengubah sesuatu yang tak baik menjadi necis. Apa pun yang disentuh Midas, pasti menjadi emas. Demikian pula dengan Maradona.

06 ii

Berbagung bersama Boca Juniors pada 1981, El Pibe de Oro mempersembahkan gelar Campeonato Metropolitano kepada tim berjuluk Azul y Oro. Setahun berselang, giliran fans Barcelona yang tersenyum bahagia. Maradona membawa klub Catalan itu merebut Copa del Ray. "Sentuhan Midas" Maradona juga mengantarkan Napoli meraih dua gelar scudetto yakni musim 1986/1997 dan 1989/1990. Bersama Maradona, Napoli juga menyabet juara Piala UEFA musim 1988/1989. Partenopei memutuskan mendatangkan Maradona dari Catalan pada 30 Juni 1984, kendati harus menggelontorkan uang yang tak sedikit. Untuk menghormati Maradona, Napoli pun memensiunkan nomor punggung 10. Hal ini juga pernah diusulkan AFA atau Federasi Sepak Bola Argentina kepada FIFA, namun Badan Sepak Bola Dunia menolaknya. Kendati begitu, FIFA mengamini bahwa tak banyak pemain sepak bola seperti Maradona. Seperti halnya Pele, Maradona merupakan pemain terhebat sepanjang masa.

Adalah lazim, kalau saya dan remaja era 1980-an sangat mengidolakan Maradona, walau Maradona juga mengisahkan cerita minor seperti kasus doping yang menjadi batu sandungan dalam perjalanan kariernya sebagai pesepak bola profesional. Dia juga pernah menjalani diet ketat, karena pola makan yang serampangan.

Lahir di Buenos Aires, 30 Oktober 1960, Maradona adalah sumber informasi yang terus dinanti, bahkan sampai saat ini. Maradona sepertinya tak terlahir sebagai pelatih. Dia gagal total di Piala Dunia 2010. Berangkat ke Afrika Selatan dengan materi pemain kelas dunia seperti Lionel Messi, Carlos Tevez, Gonzalo Higuain, dan Juan Sebasian Veron, Tim Tango hanya mampu finish sampai babak perempat final.

Kegagalan Maradona tiga tahun silam, gol kontroversialnya di Piala Dunia 1986, dan kecanduannya terhadap narkoba tak membuat kita antipati. Dia pernah menjadi tamu istimewa Fidel Castro, Presiden Cuba. Wayne Rooney, penyerang Manchester United yang tengah galau itu mengaku sangat bahagia bisa bersua Maradona.

06 iii

Pada 2001, di kota Rosario, 186 mil dari Buenos Aires, sekelompok orang memproklamirkan berdirinya Iglesia Maradoniana atau "Gereja Maradona". Pengikutnya disebut Maradonians. Di dalam gedung terpampang foto-foto Maradona, tak lupa trofi Piala Dunia 1986 tiruan. Maradonians, boleh percaya boleh tidak, menganggap sakral trofi tersebut sehingga mereka sangat mengagung-agungkannya. Tak hanya di Argentina, "Gereja Maradona" juga punya "jemaat" di Amerika Serikat, Meksiko, Spanyol, Filipina, dan Australia. Maradonians mengklaim punya 200 ribu pengikut. Wow!

Maradona akan datang ke Indonesia, menyambangi empat kota yakni Jakarta, Medan, Surabaya, serta Makassar. Jika tak ada aral melintang, "El Diez" tiba 18 Juni. Di setiap kota, Maradona tak lama. Paling hanya beberapa jam dan itu dikemas dalam serangkaian acara seperti seminar, coaching clinic kepada anak-anak usia 8 sampai 15 tahun, tango footbal, dan jumpa penggemar yang dikemas dalam gala dinner.

Saya berharap bisa bertemu Maradona, menjabat tangannya, lalu berfoto bersama. Suatu saat, ketika saya pulang ke Medan, kampung halaman, saya akan bercerita kepada kawan-kawan lawas yang dulu bermain sepak bola plastik dengan jersey Albiceleste bahwa saya telah bertemu Maradona.

Waktu terus merangsek ke depan, melahirkan banyak bintang sepak bola. Dan saya tak akan pernah menggusur nama Diego Armando Maradona. Dia tetap di hati, tak tergantikan. El Pibe de Oro.