Apologi Nurdin Halid

August 26, 2010 oleh Samuel Bukti
Dilihat sebanyak 6 Kali

Beberapa hari lalu, saya bertemu Nurdin Halid, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kami bertemu di Lapangan Tim Nasional (Timnas) Indonesia di kawasan Senayan, Jakarta. Kehadiran Nurdin di lapangan timnas untuk memantau TC (Training Center) timnas di bawah asuhan Alfred Riedl.

Seraya menyaksikan aksi pemain-pemain timnas yang diproyeksikan mengikuti ajang Piala AFF 2010 Desember mendatang, saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada Nurdin.

Hal pertama yang saya tanyakan adalah ihwal Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia. "Terus terang, saya baru baca buku itu tadi. Nggak lebih dari black campaign," kata Nurdin.

Menurut Nurdin, Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia yang diterbitkan oleh gerakan Reformasi Sepak Bola Nasional Indonesia yang digagas oleh pengusaha dan politisi senior Arifin Panigoro itu tak lebih bagus dari buku yang ditulis oleh Nurdin, yakni Visi 2020 : Membangun Sepak Bola Indonesia Modern.

"Coba you bandingkan saja, mana yang lebih bagus. Visi 2020 saya kira lebih bagus," kata Nurdin. Buku Visi 2020 dibagikan saat Kongres Sepak Bola (KSN) di Malang, Jawa Timur, 30-31 Maret 2010.

Lalu, saya juga menanyakan soal pernyataan Ketua KOI/KONI Rita Subowo yang mengatakan bahwa anggota

Pernyataan Ketua Umum KOI/KONI Rita Subuwo bahwa setiap anggota KOI tak boleh tersangkut pidana ditanggapi dingin oleh Nurdin. Pernyataan Rita Subowo didasari AD/ART Komite Olimpiade Indonesia (KOI). "Itu terlampau mengada-ada. Harus diingat, PSSI punya aturan berdasarkan ketentuan FIFA".

Sejak mengomandoi PSSI lebih kurang tuju tahun, Nurdin memang panen kritik. Pemicunya tak lain adalah merosotnya prestasi timnas di semua level. Belum lagi soal kompetisi dalam negeri yang kerap mendapat sorotan lantaran isu suap, mafia wasit, perkelahian atar penonton maupun antar suporterk, serta masalah perizinan. Semua itu menempatkan Nurdin sebagai sasaran tembak. Tak sedikit pula yang memintanya untuk mundur.

Meski begitu, mantan Manajer PSM Makassar kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 17 November 1958, tetap kokoh dengan pendiriannya. Dia menganggap, KSN, Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia dan lain-lain itu adalah upaya untuk mendongkel jabatannya.

Nurdin ingin mundur, tapi harus dengan ketentuan organisasi. "Pemilihan Ketua Umum PSSI ada mekanismenya, yaitu lewat rapat anggota. Kalau rapat anggota mengatakan saya sudah tak pantas, ya saya mundur. Tapi kalau mereka masih menginginkan saya, maka saya menganggapnya sebagai amanah".

Nurdin juga mengkritik pemerintah. Pemerintah, kata dia, kurang perhatian sama sepak bola. "Masih banyak stadion dan lapangan yang kurang bagus di Indonesia. Ini butuh perhatian dari pemerintah".

Berdasarkan aturan PSSI, masa jabatan Nurdin berakhir November 2011. Nurdin mengatakan siap kalau memang dipilih kembali menjadi orang No 1 di PSSI.

Nurdin sah-sah saja punya ambisi jadi Ketua Umum PSS periode mendatang, namun dia juga tak bisa menampik fakta yang ada kini. Enak atau tidak, terima atau tidak, kondisi sepak bola kita sangat memprihatinkan. Dan ini tak boleh dibiarkan berlama-lama, mengingat kita pernah menjadi Macan Asia. Saatnya Indonesia bangkit, saatnya panji-panji Merah Putih ditegakkan, dan saatnya Indonesia Raya kembali berkumandang.