Pada musim lalu, klub La Liga, tepatnya Barcelona, mekar di tengah impitan klub-klub Inggris yang mendominasi media-media Eropa bahkan dunia. Bayangkan, El Barca dikeroyok tiga wakil Inggris, Manchester United, Chelsea, dan Arsenal di semifinal Liga Champion.
Hasilnya semua tahu, Lionel Messi dkk. menjadi jawara dengan perkasa. Bukan itu saja, para pemain Azulgrana juga menguasai nominasi pemain terbaik Eropa. Lazimnya, gelar di tingkat Eropa menjalar ke level dunia.
Citarasa La Liga juga tak perlu dibantah. Sepakbola dengan basis seni dan teknik tinggi sungguh gurih untuk disaksikan. Aksi klub La Liga amat berbeda dengan ciri sepakbola yang mengandalkan speed and power game ala klub-klub EPL, atau Seri A yang dicap terlalu monoton.
Rivalitas Madrid-Barca
Musim ini La Liga menyedot atensi bolamania. Rivalitas Barcelona-Real Madrid pemicunya. Kedua klub seolah ingin menarik mata dunia hanya terfokus ke arah mereka. Kebijakan Los Galacticos di bawah kontrol pencetusnya, Presiden El Real, Florentino Perez (62), benar-benar membabat habis dominasi klub-klub Inggris dan Italia di kancah media.
Pembelian Kaka dari AC Milan senilai 65 juta Euro, disusul pemecahan rekor transfer oleh Cristiano Ronaldo dari Man. United senilai 94 juta Euro, sungguh menggemparkan. Bahkan Stadion Santiago Bernabeu pun penuh sesak saat perkenalan CR7 yang kini berganti inisial menjadi CR9.
Penolakan Karim Benzema terhadap tawaran Man. United dan pilihannya kepada Madrid kian mempertegas La Liga sebagai kompetisi pilihan pemain top dunia. Begitu pula Xabi Alonso yang ngotot meninggalkan Liverpool demi Madrid. Kedua pemain berbanderol masing-masing 35 juta Euro.
Sementara El Barca, meski tak seboros Madrid, melakukan pembelian dahsyat lewat Zlatan Ibrahimovic yang diangkut dari kampiun Seri A, Inter Milan. Sekalipun memakai mekanisme tukar tambah dengan Samuel Eto’o dan Alexander Hleb, toh jika dikalkulasi nilai beli Ibra setara dengan CR9.
Boleh dibilang, fakta ini membuat EPL (apalagi Seri A) sungguh merana, sekalipun kompetisi mereka tetap sangat komersil. Satu hal yang pasti, kembali dipakainya kebijakan Los Galacticos adalah jawaban El Real atas “keserakahan†El Barca yang memborong berbagai gelar domestik maupun Eropa. Di bawah polesan Joseph “Pep†Guardiola, El Barca seperti tak tertandingi di muka bumi.
Otak di balik kebijakan Los Galacticos, murni adalah Perez. Dia memulainya pada musim 2000, tatkala berkampanye menjadi presiden Los Blancos, julukan lain Madrid, untuk kali kedua. Maklum, pada percobaan pertama di tahun 1995, ia terpental.
Dalam kampanyenya ia selalu “menjual†bobroknya manajemen keuangan Madrid. Ia juga berjanji menghadirkan para pemain bintang terhebat di galaksi bumi, yang kini dikenal sebagai Los Galacticos.
Pada awal kepeminpinannya pada 2000, Perez mendatangkan Luis Figo dengan banderol 58 juta Euro, yang kala itu menjadi superstar klub seterunya, El Barca. Setelah itu giliran bintang Prancis dengan kostum Juventus, Zinedine Zidane, diangkut dengan rekor transfer dunia sebesar 76 juta Euro.
Berikutnya disusul nama-nama kondang macam Ronaldo (Inter Milan), David Beckham (Man. United), dan Robinho (Santos). Saya beruntung bertemu, berbincang, dan berfoto bersama Perez kala bertemu dalam tur Madrid di Bangkok, 2005.
Saat itu ia tengah getol memburu Robinho yang dipagari Santos. Perez bahkan meminta bantuan FIFA guna menekan Santos yang tak ingin menjual Robinho meski si pemain ngebet hijrah ke Madrid.
Kesalahan Perez
“Jika yakin pemain itu bisa memberi kontribusi besar untuk Madrid, saya akan terus mengejarnya sampai dapat. Dalam kasus Robinho, Santos berbuat salah dengan terus mengekangnya,†ujar Perez pada saya lewat bantuan terjemahan mantan bintang El Real, Emilio Butragueno.
Intinya, segala cara dipakai Perez. Ini mengingatkan saya pada ambisinya memboyong Beckham dan CR9. Berkali-kali ditolak, akhirnya tembus juga. Mungkin ia masih penasaran pada Frank Ribery, bintang Prancis yang dikunci Bayern Muenchen dengan banderol 100 juta Euro! Tahun depan? Bisa jadi.
Yang pasti, pada era pertama Los Galacticos, Perez berhasil membangun tim kuat dengan puluhan trofi di lemari prestasi Los Blancos. Tapi insinyur teknik sipil yang juga Presiden ACS, sebuah konsorsium perusahaan konstruksi terkemuka dunia asal Spanyol, ini juga bukan tanpa cacat.
Kesalahan Perez mungkin hanya satu, tapi fatal. Dia kurang menghargai jasa Claude Makalele. Begitulah sentil Steve McManaman dan Fernando Morientes, eks pilar Madrid. Makalele dengan peran “tukang angkut air†alias pemain yang melakukan pekerjaan kotor di tengah para Galacticos, memang kurang dihargai Perez. Kala ia minta perbaikan nilai kontrak, Perez malah menyuruhnya pergi.
Alhasil, lini tengah Madrid berantakan. Pada era 2003-2004, tanpa pelatih Vincente del Bosque dan pemain kunci seperti Makalele, Madrid paceklik gelar. Berbagai pelatih keluar masuk, toh Madrid tetap sulit bangkit. Sekali bernafas dengan trofi La Liga lewat polesan Fabio Capello dan kerja keras Beckham, tapi setelah itu mereka digulung habis oleh El Barca.
Kini Perez datang lagi. Ia memenangi pemilihan Presiden El Real, lagi-lagi dengan modal Los Galacticos, bahkan lebih dahsyat dari edisi perdana. Tentu saja, ia tak hanya bekerja keras dalam berburu pemain, tapi juga dalam meyakinkan bank demi mengucurkan utang.
La Liga bergulir 30 Agustus. Seperti halnya ambisi Juan Laporta, Presiden Barcelona, Perez pun ingin trofi juara. Pembaca, sambutlah La Liga.